
sawitsetara.co —PEKANBARU – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Riau mengalami penurunan tajam pada Juni 2026. Setelah dua bulan berturut-turut berada di atas angka 200, NTP Riau kini turun 6,62 persen menjadi 163,69.
Kepala BPS Provinsi Riau, Dr. Asep Riyadi, S.Si., M.M., mengatakan penurunan tersebut terutama dipicu merosotnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang menjadi komoditas utama perkebunan rakyat di Riau.
“Bulan ini NTP Juni 2026 di Provinsi Riau mengalami penurunan yang cukup drastis. Dua bulan terakhir NTP Riau berada di atas 200, tetapi pada Juni turun 6,62 persen menjadi 163,69,” ujar Asep saat Rilis Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Provinsi Riau di Pekanbaru, Rabu (1/7/2026).

Menurut Asep, turunnya NTP terjadi karena pendapatan petani menurun, sementara biaya yang harus mereka keluarkan justru meningkat.
Ia menjelaskan, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun 6,18 persen menjadi 240,15. Penurunan tersebut dipengaruhi melemahnya harga sejumlah komoditas, terutama TBS kelapa sawit.
“Penyebabnya antara lain harga TBS kelapa sawit turun, harga kelapa turun, harga ayam buras turun, harga sapi potong turun, dan harga nanas juga turun. Jadi penerimaan petani ikut menurun,” jelasnya.
Di sisi lain, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru naik 0,46 persen akibat kenaikan harga berbagai kebutuhan produksi dan konsumsi, seperti cabai merah, cabai rawit, pupuk kalium klorida (KCL), bawang merah, hingga pupuk urea.
“Pendapatannya mengalami penurunan, tetapi pengeluarannya mengalami peningkatan sehingga kemudian NTP menjadi turun,” katanya.

Asep menuturkan, dari lima subsektor pertanian, hanya subsektor hortikultura yang masih mencatat kenaikan NTP sebesar 0,59 persen. Sementara empat subsektor lainnya mengalami penurunan.
Subsektor tanaman perkebunan rakyat, yang didominasi komoditas sawit, menjadi yang paling dalam penurunannya, yakni mencapai 7,19 persen.
“Tanaman perkebunan rakyat yang biasanya naik seiring dengan TBS, sekarang ternyata turun. Turunnya tajam sekali, 7,19 persen. Saya juga mendapat keluhan dari petani bahwa pada bulan lalu harga TBS sempat anjlok sehingga membuat mereka sangat kesulitan,” ungkap Asep.
Selain NTP, BPS juga mencatat Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Provinsi Riau turun 6,55 persen menjadi 188,65 pada Juni 2026. Penurunan ini juga dipengaruhi merosotnya harga TBS sawit, sementara biaya produksi meningkat akibat kenaikan harga pupuk KCL, urea, dan triple superphosphate (TSP).
“Kelapa sawit menjadi penyebab utama turunnya harga yang diterima petani. Di sisi lain, biaya produksi meningkat karena harga pupuk mengalami kenaikan,” ujarnya.

Dampak penurunan tersebut juga memengaruhi posisi Riau dibandingkan provinsi lain di Pulau Sumatera. Jika sebelumnya Riau sempat menjadi provinsi dengan NTP tertinggi, kini posisinya turun ke peringkat kedua dan disalip oleh Bengkulu.
“Kita sempat menjadi yang tertinggi di Sumatera. Namun karena penurunannya cukup tajam, yaitu 6,62 persen, posisi Riau kini kembali berada di bawah Bengkulu,” kata Asep.
Data NTP yang dirilis BPS menggunakan tahun dasar 2018, berbeda dengan penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi yang menggunakan tahun dasar 2022. NTP menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani melalui perbandingan antara harga yang diterima petani dengan harga yang harus mereka bayarkan.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *