
sawitsetara.co - JAMBI – Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi nilai tukar petani (NTP) mengalami kenaikan sebesar 1,11 persen yang dipengaruhi oleh tiga komoditas perkebunan, dianataranya perkebunan kelapa sawit.
"Komoditas penyumbang utama kenaikan indeks yang diterima petani adalah karet, kelapa sawit, dan kelapa. Ketiganya mengalami tren positif yang berdampak langsung pada pendapatan petani di lapangan," kata Kepala BPS Provinsi Jambi Aidhil Adha di Jambi.
Seperti diketahui, luas perkebunan kelapa sawit di Provinsi Jambi pada awal 2026 tercatat mencapai sekitar 952,39 ribu hektar ditahun 2024. Muaro Jambi dan Batanghari adalah sentra produksi terbesar.
Pendapatan per kapita Provinsi Jambi berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2025 mencapai Rp92,79 juta per tahun atau setara dengan US$5.632,03. Ekonomi Jambi tumbuh positif sebesar 4,93% pada 2025

Sehingga dalam hal ini tidaklah heran jika kenaikan NTP (Nilai Tukar Petani) pada Maret 2026 disebabkan oleh naiknya indeks harga hasil produksi perkebunan seperti kelapa sawit.Kenaikannya lebih besar dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun biaya produksi dan penambahan barang modal.
Kenaikan NTP Maret 2026 dipengaruhi oleh naiknya NTP pada tiga subsektor pertanian,
yaitu subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,51%, subsektor peternakan 1,80% dan subsektor perikanan 2,24%.
Namun, harus diakui biaya produksi kelapa sawit saat ini sedang tinggi, diantaranya pembelian pupuk. Namun, tingginya harga jual tandan buah segar (TBS) maka masih ada margin keuntungan dan daya beli petani di Jambi tetap terjaga di level yang sangat baik.
"Tingkat kemakmuran seorang petani itu melalui NTP, kalau mau melihat usahanya atau produksinya di NTUP (Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian)," jelas Aidhil. Sehingga dalam hal ini tidaklah heran jika kelapa sawit masih menjadi andalan masyarakat dalam memutar roda ekonominya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) juga merilis nilai ekspor crude palm oil (CPO) dan turunannya pada periode Januari–Februari 2026 sebesar US$4,69 miliar atau terjadi peningkatan signifikan sebesar 26,40 persen secara kumulatif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kinerja ekspor komoditas unggulan selama bulan Januari-Februari tahun 2026, antara lain nilai ekspor CPO dan turunannya naik cukup tinggi yaitu sebesar 26,40 persen secara kumulatif,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono.
Secara rinci, nilai ekspor CPO dan turunannya pada Januari–Februari 2026 tercatat sebesar US$4,69 miliar, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar US$3,71 miliar. Dari sisi volume, ekspor CPO dan turunannya juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dari 3,33 juta ton pada Januari–Februari 2025 menjadi 4,54 juta ton pada periode yang sama tahun 2026.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *