
sawitsetara.co - SIAK — Di sela hamparan lahan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), para petani yang tergabung dalam Gapoktan Manunggal Sakti memanfaatkannya untuk menanam padi gogo. Kini, padi yang mereka tanam di Desa Sialang Sakti, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak, itu telah dipanen pada Selasa (31/3/2026).
Panen perdana itu dilakukan di atas lahan seluas 6 hektare, bagian dari total 32 hektare yang ditanami secara bertahap sejak Desember tahun lalu. Ketua Gapoktan Manunggal Sakti, Budi Santoso, mengatakan pembagian tahap bukan tanpa alasan.

“Penanaman ini kami lakukan bertahap karena tenaga penanggung jawab terbatas, sekaligus untuk meningkatkan peluang keberhasilan,” ujarnya kepada sawitsetara.co.

Penanaman dimulai pada 6 Desember seluas 6 hektare, kemudian berlanjut pada 5 Januari seluas 8 hektare, dan terakhir pada 17 Januari seluas 14 hektare. Model bertahap ini, menurut Budi, juga memberi ruang bagi petani untuk belajar dari setiap fase tanam.
Menariknya, hasil panen tahap awal ini sudah memiliki pembeli. “Yang besok dipanen itu 6 hektare, dan sudah ada yang siap mengambil hasilnya,” katanya. Harga gabah disebut mencapai Rp6.500 per kilogram, sementara jika diolah menjadi beras bisa menyentuh Rp12.500 per kilogram.
Di atas kertas, angka itu menjanjikan. Namun praktik di lapangan tak sepenuhnya mulus. Budi mengakui, sejumlah kelompok tani lain mengalami kegagalan panen. Pengalaman dari petani sawit ke tanaman padi, kata dia, bukan sekadar soal teknis, tetapi juga kebiasaan.

“Memang ada tantangan, terutama peralihan dari petani sawit ke tanaman pangan. Pola pikir dan ketelatenan juga sangat berpengaruh,” ujarnya.

Faktor cuaca menjadi ujian lain. Pada fase tertentu, tanaman sempat mengalami kekeringan sehingga petani harus melakukan penyiraman manual. “Kami sempat melakukan penyiraman karena kondisi kemarau saat fase penting tanaman,” kata Budi.
Meski demikian, optimisme tetap dijaga. Penilaian awal dari calon pembeli menunjukkan kualitas rendemen yang cukup baik, bahkan disebut berpotensi bersaing dengan padi sawah.
Agenda panen perdana ini dihadiri sejumlah pejabat daerah. Hadir mewakili Bupati Siak, Staf Ahli Bupati Siak bidang SDM Fahrurrozi, MPd. Selain itu, turut hadi Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Siak Kaharuddin; Camat Dayun Wahyudi; unsur TNI yang diwakili Danki Letda Infanteri Okto Prandi Sihombing; serta tokoh masyarakat setempat dan jajaran pengurus Gapoktan.

Bagi Gapoktan Manunggal Sakti, padi gogo bukan sekadar tanaman sela. Ia menjadi semacam eksperimen kolektif untuk memanfaatkan gawangan sawit yang selama ini menganggur. “Ini program nasional, jadi kami manfaatkan bantuan yang ada untuk mendukung ketahanan pangan,” ujar Budi.
Di tengah berbagai keterbatasan, percobaan ini menawarkan satu kemungkinan: bahwa lahan sawit tak selalu harus menunggu panen tahunan untuk menghasilkan. “Lahan PSR, khususnya gawangan, masih punya potensi besar untuk ditanami padi gogo. Ini bisa membantu petani sekaligus mendukung program pemerintah,” kata Budi.
Tags:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *