KONSULTASI
Logo

KUD Manunggal Jaya Ajak Petani Tak Lewatkan PSR, APKASINDO Siap Dampingi

3 Agustus 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorEditor
KUD Manunggal Jaya Ajak Petani Tak Lewatkan PSR, APKASINDO Siap Dampingi

sawitsetara.co - KAMPAR — Ketua Koperasi Produsen Unit Desa (KUD) Manunggal Jaya, Johan Danu Wijaya, S.T., M.Kom., mengajak petani kelapa sawit yang memiliki tanaman berusia lebih dari 25 tahun dan mengalami penurunan produktivitas untuk mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Menurut Johan, program yang dibiayai Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) tersebut memberikan sejumlah dukungan bagi petani dalam membangun kembali kebun yang telah memasuki usia tua. Dukungan tersebut meliputi pembiayaan, bibit unggul bersertifikat, serta pendampingan dalam proses peremajaan tanaman.

Dalam proses pengajuan PSR, Johan mengatakan petani juga membutuhkan pendampingan dari organisasi petani. Menurut dia, keberadaan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) memberikan dukungan penting bagi petani dalam menghadapi proses administrasi dan berbagai tahapan pengajuan program.

DPP

Ajakan tersebut disampaikan Johan saat ditemui di Kantor KUD Manunggal Jaya, Desa Trimanunggal, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau. Dia mengatakan petani tidak seharusnya melewatkan program pemerintah yang ditujukan untuk membantu meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat.

“Kalau usia kebun sawit sudah 25 tahun dan produktivitasnya terus menurun, saatnya kita ikut program peremajaan sawit rakyat. Kita akan mendapatkan bibit unggul bersertifikat, mendapatkan pembiayaan program peremajaan sawit rakyat dan tentunya ini akan berimbas bagi kesejahteraan kita seluruh petani sawit,” kata Johan.

Menurut dia, peremajaan tanaman sawit membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit. Karena itu, dukungan pemerintah melalui program PSR dinilai dapat membantu petani membangun kembali kebun tanpa harus menanggung seluruh biaya secara mandiri.

Johan mengatakan pendampingan dari organisasi petani seperti APKASINDO juga penting agar petani memahami hak, kewajiban, serta tahapan yang harus dilalui dalam program PSR.

Menurut dia, petani perlu mendapatkan pendampingan sejak proses pemberkasan hingga pembangunan kebun. Dengan demikian, berbagai potensi kendala dalam pelaksanaan program dapat diantisipasi sejak awal.

DPP

Johan mengatakan dukungan pembiayaan tersebut dapat dimanfaatkan petani untuk membangun kebun dengan kualitas terbaik. Dengan pengelolaan yang baik, tanaman baru diharapkan mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dan menjaga pendapatan petani dalam jangka panjang.

“Kepada seluruh petani sawit kami mengajak mari sama-sama kita mengikuti program peremajaan sawit rakyat dari Badan Pengelola Dana Perkebunan yang tentunya kita akan mendapatkan gelontoran dana sebesar Rp60 juta per hektare,” ujarnya.

Dia menambahkan, dukungan tersebut dapat dimanfaatkan untuk pembangunan kembali kebun. Johan mengingatkan petani agar memaksimalkan program sehingga kebun yang dibangun dapat memiliki kualitas dan produktivitas yang baik.

“Yang mana ini dapat kita maksimalkan untuk membangun kebun yang berkualitas sehingga kesejahteraan kita sebagai petani sawit ini dapat terjaga dan berkelanjutan,” kata dia.

Menurut Johan, PSR bukan sekadar program untuk mengganti tanaman sawit tua. Lebih dari itu, program tersebut merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan perkebunan rakyat.

Petani yang mengikuti program tersebut akan memiliki kesempatan membangun kembali kebunnya dengan menggunakan bibit unggul bersertifikat. Dengan demikian, produktivitas tanaman diharapkan dapat lebih baik dibandingkan tanaman lama yang telah mengalami penurunan produktivitas.

Johan juga berharap pemerintah terus memberikan kemudahan dalam proses pengajuan PSR. Menurut dia, percepatan proses diperlukan agar petani yang telah memenuhi persyaratan dapat segera melakukan peremajaan tanaman.

“Kita berharap pemerintah dapat lebih mempermudah proses pengajuan peremajaan sawit rakyat sehingga realisasi program peremajaan sawit rakyat bisa lebih cepat dan target-target nasional tentunya juga bisa tercapai,” ujarnya.

DPP

Dia mengajak seluruh petani sawit untuk tidak ragu mengikuti program PSR. Menurut Johan, petani akan mengalami kerugian apabila melewatkan program yang dapat membantu membangun kembali kebun sawit mereka.

“Kepada seluruh petani sawit kami sampaikan mari bersama-sama kita ikut program peremajaan sawit rakyat yang dilakukan oleh pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan. Manfaatnya sangat luar biasa sekali. Tapi kita sangat rugi ketika ada program yang sangat baik dari pemerintah pusat tetapi kita tidak ikut dan tidak berperan aktif,” kata Johan.

Johan mengatakan keberhasilan PSR membutuhkan keterlibatan aktif petani. Menurut dia, petani juga membutuhkan dukungan organisasi yang dapat membantu mengawal kepentingan mereka dalam proses program peremajaan.

Dia menilai APKASINDO memiliki peran penting dalam membantu petani sawit menghadapi berbagai persoalan di lapangan. Pendampingan organisasi petani, kata dia, membuat petani memiliki tempat untuk berkonsultasi dan mendapatkan dukungan ketika menghadapi kendala dalam proses pengajuan maupun pelaksanaan PSR.

“Kami sangat mengapresiasi APKASINDO yang telah memberikan dukungan secara penuh kepada kami para petani sawit,” kata Johan.

Johan berharap semakin banyak petani sawit yang memanfaatkan program PSR, khususnya mereka yang memiliki tanaman berusia lebih dari 25 tahun dan produktivitasnya mulai menurun.

Dengan dukungan pemerintah dan pendampingan organisasi petani seperti APKASINDO, program PSR diharapkan dapat menjadi jalan bagi petani untuk membangun kembali kebun yang lebih produktif sekaligus menjaga keberlanjutan usaha perkebunan sawit rakyat.

Tags:

peremajaan sawit rakyatPSRBerita SawitsawitAPKASINDO

Berita Sebelumnya
Pakistan Cetak Rekor Impor Minyak Sawit, Indonesia Tetap Jadi Pemasok Utama

Pakistan Cetak Rekor Impor Minyak Sawit, Indonesia Tetap Jadi Pemasok Utama

Pakistan mencatat rekor tertinggi impor minyak sawit sepanjang sejarah pada tahun fiskal 2025/2026 (FY26), mencerminkan semakin besarnya ketergantungan negara tersebut terhadap pasokan minyak nabati dari luar negeri. Indonesia tetap menjadi pemasok utama, memenuhi sekitar 80-90 persen kebutuhan impor minyak sawit Pakistan.

1 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *