KONSULTASI
Logo

Kementan Bidik Sawit Gantikan Bungkil Kedelai dalam Pakan Ayam

8 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Kementan Bidik Sawit Gantikan Bungkil Kedelai dalam Pakan Ayam

sawitsetara.co - JAKARTA — Pemerintah membuka peluang lebih besar bagi produk turunan kelapa sawit untuk masuk ke industri pakan unggas. Kementerian Pertanian (Kementan) tengah mengkaji penggunaan bahan berbasis sawit sebagai substitusi soybean meal (SBM) atau bungkil kedelai yang selama ini masih banyak diimpor.

Kajian tersebut dilakukan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta perguruan tinggi. Pemerintah berharap peningkatan penggunaan bahan baku sawit dapat menekan ketergantungan industri pakan ayam terhadap bahan impor sekaligus memperluas hilirisasi sawit di dalam negeri.

Direktur Hilirisasi Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Makmun, mengatakan ruang substitusi masih terbuka apabila penelitian mampu meningkatkan penggunaan bahan berbasis sawit dalam formulasi pakan hingga lebih dari 10 persen.

“Kalau bisa di atas 10%, ini riset-riset sedang dilakukan oleh teman-teman di BRIN dan perguruan tinggi. Kalau ini bisa di atas 10%, maka akan menurunkan impor SBM kita, bisa disubstitusi dari CPO ini. Mudah-mudahan ke depan risetnya makin cepat,” kata Makmun dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah 2026, Selasa (6/10/2026).

apkasindo

Pemanfaatan Sawit Baru Sekitar 5 Persen

Saat ini penggunaan bahan berbasis sawit dalam pakan ayam masih terbatas. Menurut Makmun, salah satu kendalanya adalah karakteristik bahan dan kesesuaiannya dengan kebutuhan nutrisi unggas.

Tempurung sawit, misalnya, memiliki tekstur keras sehingga pemanfaatannya untuk pakan perlu dikaji lebih lanjut agar tidak mengganggu sistem pencernaan ayam.

Kementan mencatat penggunaan bahan berbasis sawit dalam formulasi pakan saat ini baru sekitar 5 persen. Karena itu, penelitian diarahkan untuk menemukan komposisi yang tepat sekaligus meningkatkan pemanfaatan produk turunan kelapa sawit di sektor peternakan.

Peluang tersebut terlihat dari formulasi pakan ayam yang sudah menggunakan sejumlah produk sawit. Pada pakan ayam pedaging atau broiler, bahan baku lokal menyumbang sekitar 60 persen.

Komposisinya terdiri atas jagung 45 persen, dedak atau bahan lokal lainnya 5 persen, bungkil inti sawit (palm kernel meal/PKM) 5 persen, serta CPO atau lemak 5 persen.

Sementara bahan baku impor masih mengambil porsi sekitar 40 persen. Komponen terbesarnya adalah SBM sebesar 25 persen, kemudian distillers dried grains with solubles (DDGS) 5 persen, meat and bone meal (MBM) 3 persen, dan corn gluten meal (CGM) 3 persen.

Bahan impor lainnya meliputi poultry by-product meal/hydrolyzed chicken feather meal sebesar 2 persen, mineral atau kalsium 1 persen, serta vitamin dan feed additive masing-masing 0,5 persen.


apkasindo

Pakan Ayam Petelur Juga Gunakan Produk Sawit

Penggunaan bahan lokal bahkan lebih besar pada formulasi pakan ayam petelur atau layer. Porsi bahan baku lokal mencapai 63 persen.

Formulasi tersebut terdiri atas:

• Jagung: 45 persen

• Dedak atau bahan lokal lainnya: 8 persen

• Bungkil inti sawit (PKM): 5 persen

• CPO atau lemak: 5 persen

Adapun bahan baku impor menyumbang 37 persen. SBM menjadi komponen terbesar dengan porsi 20 persen, disusul DDGS 7 persen, MBM 3 persen, CGM 3 persen, serta PBPM/HCFM 2 persen. Mineral atau kalsium menyumbang 1 persen, sedangkan vitamin dan feed additive masing-masing 0,5 persen.

Besarnya penggunaan SBM menunjukkan bahwa industri pakan unggas masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku dari luar negeri. Kondisi tersebut sekaligus membuka ruang bagi produk turunan kelapa sawit untuk mengambil porsi yang lebih besar.

Hilirisasi Sawit Masuk Rantai Pakan Ternak

Bagi industri sawit, pengembangan bahan baku pakan berbasis sawit dapat memperluas pasar produk turunannya. Selama ini, produk sawit banyak diarahkan ke pasar minyak nabati dan energi.

Bungkil inti sawit dan CPO atau lemak sawit sendiri telah masuk dalam formulasi pakan yang disampaikan Kementan. Namun, peningkatan porsinya tetap membutuhkan pembuktian melalui penelitian mengenai kandungan nutrisi, keamanan, serta pengaruhnya terhadap performa ternak.

Kementan berharap kolaborasi dengan BRIN dan perguruan tinggi dapat mempercepat riset tersebut. Jika tingkat substitusi dapat ditingkatkan berdasarkan hasil penelitian, bahan berbasis sawit berpotensi mengurangi kebutuhan impor SBM sekaligus memperkuat keterkaitan antara industri kelapa sawit dan peternakan.

Langkah ini juga menempatkan hilirisasi sawit, substitusi impor, pakan ayam, bungkil inti sawit, CPO, dan penguatan industri sawit nasional sebagai bagian dari agenda pengembangan pasar domestik produk sawit.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Praktisi Klaim Pulihkan Sawit Terinfeksi Ganoderma, Perubahan Terlihat dalam Hitungan Bulan

Praktisi Klaim Pulihkan Sawit Terinfeksi Ganoderma, Perubahan Terlihat dalam Hitungan Bulan

Sejumlah tanaman kelapa sawit yang terserang Ganoderma disebut dapat dipulihkan melalui perlakuan berbasis Trichoderma. Praktisi perkebunan kelapa sawit Ferry Harianja mengatakan pengalaman tersebut diperoleh dari penanganan tanaman di 16 lokasi.

7 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *