
sawitsetara.co - Kemarau panjang yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mulai berdampak terhadap produktivitas perkebunan kelapa sawit. Kekurangan air membuat tanaman mengalami cekaman kekeringan sehingga proses fisiologis tanaman terganggu dan produksi tandan buah segar (TBS) menurun.
Kondisi tersebut dirasakan petani sawit di Kecamatan Kelam Tengah, Kabupaten Kaur, Bengkulu. Salah seorang petani, Eksi, mengatakan tanaman sawit di wilayahnya mulai memasuki musim trek, ditandai dengan penurunan produksi buah secara signifikan.
“Tanaman sawit alami musim trek, di mana buahnya mengalami penurunan hasil panen akibat kekurangan air. Tanaman mengalami kekurangan nutrisi, pupuk yang ditabur pun tidak bisa terserap karena tidak ada air,” tutur Eksi dikutip dari rri.co.
Menurutnya, kekeringan tidak hanya berdampak pada jumlah buah yang dihasilkan, tetapi juga memengaruhi proses pembentukan calon bunga dan perkembangan tandan. Kondisi minim air dapat membuat bunga jantan lebih banyak muncul, sementara pembentukan dan perkembangan buah menjadi tidak optimal.
“Proses pembentukan tandan buah membutuhkan pupuk, namun tidak ada siraman air menyebabkan nutrisi dari pupuk tidak bisa diserap oleh tanaman. Kondisi ini menyebabkan perkembangan buah tidak berjalan sempurna, sawitnya jadi kurus dan buahnya pun tidak berkembang sempurna,” jelasnya.
Musim trek merupakan periode ketika produksi TBS kelapa sawit mengalami penurunan drastis. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan bagi petani, terutama ketika kemarau berlangsung dalam waktu panjang.
Pada kondisi normal, pemupukan menjadi salah satu upaya untuk menjaga pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Namun, kekeringan membuat petani menghadapi persoalan lain karena pupuk yang diberikan membutuhkan ketersediaan air agar dapat diserap tanaman.
Eksi mengatakan kondisi tersebut membuat sebagian petani memilih menunda pemupukan hingga kondisi tanah kembali mendapatkan cukup air.
“Banyak petani menunda pemupukan karena pupuk yang ditabur saat kemarau susah terserap karena tidak dapat siraman air hujan,” katanya.
Meski demikian, tanaman sawit yang mengalami musim trek masih dapat diupayakan agar kondisinya tetap terjaga. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mempertahankan kelembapan tanah di sekitar tanaman.
Petani juga dapat memanfaatkan bahan organik untuk membantu mempertahankan air di dalam tanah. Pemupukan dengan pupuk makro seperti TSP dan KCl juga dapat dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan tanaman serta siklus pembentukan bunga.
Selain menjaga kelembapan tanah dan melakukan pemupukan secara tepat, ketersediaan sumber air menjadi faktor penting dalam menghadapi kemarau panjang.
Jika terdapat sumber air di sekitar perkebunan, petani dapat mengalirkannya ke lahan untuk membantu memenuhi kebutuhan air tanaman. Embung maupun parit konservasi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana menampung dan mempertahankan ketersediaan air di sekitar kebun.
Perawatan tanaman secara rutin serta pemupukan dengan dosis yang tepat menjadi bagian penting untuk menjaga kondisi tanaman selama musim kemarau. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu tanaman melewati periode kekeringan sekaligus mengurangi dampak musim trek terhadap produktivitas TBS.
Dengan demikian, tantangan kemarau bagi petani sawit bukan hanya berkurangnya produksi dalam jangka pendek, tetapi juga bagaimana menjaga kondisi tanaman agar tetap mampu tumbuh dan kembali produktif ketika ketersediaan air mulai normal.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *