
sawitsetara.co - JAMBI — Peningkatan produktivitas menjadi salah satu pekerjaan besar dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit Provinsi Jambi. Dengan luas areal yang telah mencapai lebih dari 1,1 juta hektare, pengembangan sawit ke depan dinilai tidak lagi perlu mengandalkan ekspansi lahan, melainkan peningkatan produktivitas melalui peremajaan dan modernisasi budidaya.
Dikutip dari esai Hilirisasi Komoditas Kelapa Sawit: Menuju Jambi sebagai Pusat Nilai Tambah Hijau di Sumatera 2045 oleh Guru Besar dan akademisi Universitas Jambi, Prof. Dr. Ir. Suandi, M.Si., IPU, perkebunan kelapa sawit Jambi memiliki potensi besar, tetapi produktivitas rata-rata masih belum optimal.
Pada 2024, luas perkebunan kelapa sawit Jambi mencapai 1.131.327 hektare. Produksi TBS sekitar 2.442.402 ton dengan produktivitas rata-rata 2.991 kilogram per hektare.
Produktivitas tersebut masih berada pada kategori sedang jika dibandingkan dengan potensi biologis tanaman kelapa sawit pada kondisi optimal. Di tingkat kabupaten, produktivitas juga menunjukkan kesenjangan cukup besar.
Bungo tercatat memiliki produktivitas 3.853 kilogram per hektare, disusul Merangin 3.566 kilogram dan Batanghari 3.488 kilogram. Sementara Muaro Jambi hanya mencapai 2.161 kilogram per hektare dan Tanjung Jabung Timur 2.073 kilogram per hektare.
Menurut Suandi, perbedaan produktivitas tersebut tidak terlepas dari sejumlah faktor. Di antaranya umur tanaman, kualitas benih, kesuburan tanah, pemupukan, manajemen kebun, ketersediaan tenaga kerja dan penerapan Good Agricultural Practices atau GAP.
Persoalan produktivitas menjadi semakin penting karena luas tanaman tua dan rusak di Jambi mencapai 130.094 hektare. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya percepatan Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR.
“Strategi pembangunan sawit ke depan tidak lagi berorientasi pada perluasan lahan, tetapi pada peningkatan produktivitas melalui intensifikasi berkelanjutan, replanting, dan modernisasi budidaya,” ujar Suandi.
Ia menilai peremajaan menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas perkebunan rakyat sekaligus memperkenalkan teknologi baru. PSR tidak cukup hanya mengganti tanaman tua dengan tanaman baru, tetapi harus diikuti dengan peningkatan kualitas benih, pemupukan berimbang, tata kelola kebun dan mekanisasi.
Digitalisasi juga dinilai dapat menjadi instrumen penting dalam meningkatkan produktivitas. Penggunaan sensor Internet of Things atau IoT, precision fertilization, drone monitoring dan Artificial Intelligence atau AI berpotensi membantu petani menggunakan input secara lebih efisien dan mengambil keputusan berdasarkan data.
Suandi mengusulkan agar program revitalisasi produktivitas terhubung dengan penguatan penyuluhan, digital extension services, laboratorium tanah, pusat inovasi perkebunan dan pengembangan benih unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim.
“Program ini harus diintegrasikan dengan peningkatan kapasitas penyuluh, digital extension services, laboratorium tanah, pusat inovasi perkebunan, serta pengembangan benih unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim sehingga produktivitas dapat meningkat secara signifikan tanpa perlu membuka lahan baru,” katanya.
Menurut dia, peningkatan produktivitas juga harus mempertimbangkan tantangan perubahan iklim. Variabilitas curah hujan, peningkatan suhu, banjir, kekeringan dan serangan organisme pengganggu tanaman berpotensi meningkatkan ketidakpastian produksi.
Karena itu, penerapan climate-smart agriculture perlu menjadi bagian dari strategi pengembangan sawit Jambi. Praktiknya dapat dilakukan melalui konservasi tanah dan air, penggunaan varietas adaptif, agroforestry, efisiensi penggunaan air serta sistem peringatan dini berbasis teknologi digital.
Dengan pendekatan tersebut, Jambi dapat meningkatkan produksi sawit melalui optimalisasi lahan yang sudah tersedia. Strategi ini sekaligus mendukung pembangunan perkebunan yang lebih produktif, efisien dan berkelanjutan.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *