KONSULTASI
Logo

ITB Uji Bahan Bakar Sawit pada Boeing 737, Performa Mesin Nyaris Setara Avtur

6 Maret 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
ITB Uji Bahan Bakar Sawit pada Boeing 737, Performa Mesin Nyaris Setara Avtur

sawitsetara.co - JAKARTA — Tim peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil menuntaskan pengujian bahan bakar nabati J2.4 berbasis minyak sawit pada pesawat jet komersial Boeing 737-800 milik Garuda Indonesia.

Dilansir dari HaiSawit, hasil uji menunjukkan bahan bakar tersebut dapat digunakan secara aman dengan performa mesin yang hampir setara dengan avtur fosil.

Data hasil pengujian memperlihatkan perbedaan kinerja mesin hanya berada pada selisih kurang dari 2 persen dibandingkan penggunaan bahan bakar konvensional Jet A-1.

puasa

Rangkaian uji coba dimulai dari tahap analisis laboratorium di Lembaga Minyak dan Gas Bumi (Lemigas). Setelah itu, pengujian berlanjut ke fasilitas test cell milik Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia untuk memantau kinerja mesin pesawat.

Dalam tahap ini, peneliti memeriksa sejumlah parameter teknis penting, antara lain nilai Thrust Specific Fuel Consumption (TSFC), batas operasional mesin, tingkat getaran selama pembakaran, serta integritas struktur komponen mesin jet.

Setelah dinyatakan lolos pengujian laboratorium, penelitian dilanjutkan dengan ground run di area sekitar Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Tahap ini bertujuan memastikan kesiapan sistem tangki bahan bakar pada sayap pesawat.

Pada pengujian tersebut, metode pengisian bahan bakar dibuat berbeda. Mesin sebelah kanan diisi bioavtur J2.4 berbasis sawit, sedangkan mesin sebelah kiri tetap menggunakan bahan bakar Jet A-1 konvensional.

puasa

Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara kemudian menerbitkan izin terbang setelah proses pembersihan tangki dan pengisian bahan bakar dinyatakan memenuhi standar keselamatan penerbangan.

Uji terbang dilakukan di ruang udara selatan Pelabuhan Ratu. Pesawat menjalani berbagai manuver penerbangan untuk melihat ketahanan bahan bakar sawit dalam kondisi operasional yang berbeda.

Pengujian meliputi fase climb saat pesawat menanjak, initial cruise, economical cruise untuk mengukur efisiensi bahan bakar, hingga maximum continuous pada kecepatan tinggi.

Pesawat bahkan mampu mencapai ketinggian maksimum tersertifikasi hingga 41.000 kaki tanpa kendala teknis berarti. Pada ketinggian tersebut, indikator suhu pembekuan bahan bakar tetap berada dalam batas normal meskipun pesawat berada pada suhu atmosfer yang sangat rendah.

Seluruh data teknis dari rangkaian pengujian ini telah diserahkan kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Hasil penelitian ini menjadi bukti bahwa teknologi pengolahan sawit dalam negeri berpotensi menghasilkan Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang memenuhi standar industri penerbangan global.


Berita Sebelumnya
PAP Pohon Sawit Dinilai Miskinkan Petani dan Ancam Ketahanan Sosial Keluarga di Riau

PAP Pohon Sawit Dinilai Miskinkan Petani dan Ancam Ketahanan Sosial Keluarga di Riau

Ia mengatakan dampak PAP bisa multiple effect, mulai dari menimbulkan kemiskinan baru struktural sosial, hingga marginalisasi keluarga petani, yang berbuntut pada kesenjangan sosial antara pejabat dengan rakyat.

5 Maret 2026 | Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *