
sawitsetara.co – Ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin yang mencapai sekitar 60 persen dari kebutuhan nasional pada 2025 menjadi alarm bagi pemerintah untuk mempercepat diversifikasi energi. Di tengah kondisi tersebut, kelapa sawit dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu sumber bahan bakar alternatif melalui pengembangan bioetanol berbasis biomassa.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melihat Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan bioetanol generasi kedua atau second-generation bioethanol yang memanfaatkan limbah perkebunan kelapa sawit sebagai bahan baku.
Potensi tersebut tidak hanya berasal dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS), tetapi juga batang sawit yang dihasilkan dari kegiatan peremajaan atau replanting. Jika dioptimalkan, limbah yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal berpeluang menjadi sumber energi bernilai ekonomi tinggi.
Peneliti BRIN, Roni, menjelaskan bahwa pengembangan bahan bakar nabati di Indonesia selama ini lebih banyak berfokus pada biodiesel. Program mandatori biodiesel bahkan telah mencapai B50 dan diarahkan menuju B60.
Namun, menurutnya, pengembangan bahan bakar alternatif untuk menggantikan sebagian konsumsi bensin juga perlu mendapat perhatian serius.
“Pada 2025, Indonesia masih mengimpor sekitar 60 persen kebutuhan bensin sehingga riset pengembangan bahan bakar alternatif menjadi semakin penting,” jelas Roni.
Limbah Sawit Berpotensi Hasilkan Jutaan Ton Etanol
Sebagai negara produsen minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) terbesar di dunia, Indonesia memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku. Dengan produksi CPO sekitar 40 juta ton dan luas perkebunan kelapa sawit mencapai 16 juta hektare, potensi biomassa yang dihasilkan sangat besar.
Roni memaparkan, salah satu bahan baku potensial adalah tandan kosong kelapa sawit. Dengan perkiraan ketersediaan sekitar 50 juta ton TKKS, Indonesia berpotensi menghasilkan sekitar 1,6 juta ton etanol per tahun.
Selain TKKS, batang kelapa sawit juga dapat dimanfaatkan. Cairan hasil pemerasan batang sawit memiliki potensi untuk diolah menjadi bahan baku bioetanol.
Peluang lainnya datang dari program peremajaan perkebunan sawit. Apabila kegiatan replanting dilakukan sekitar 0,5 persen dari total luas perkebunan 16 juta hektare setiap tahun, potensi bioetanol yang dapat diperoleh diperkirakan mencapai 227.000 ton per tahun.
Besarnya potensi tersebut membuka peluang bagi industri kelapa sawit untuk tidak hanya menghasilkan CPO dan produk turunannya, tetapi juga berkontribusi dalam penyediaan energi alternatif nasional.
BRIN Akui Masih Ada Tantangan Teknologi dan Biaya
Meski memiliki potensi besar, pengembangan bioetanol generasi kedua dari biomassa sawit masih menghadapi sejumlah tantangan teknologi.
Roni menjelaskan, salah satu kendala utama berada pada proses pretreatment atau praperlakuan bahan baku. Tahapan ini diperlukan untuk memisahkan komponen selulosa, hemiselulosa, dan lignin agar biomassa dapat diolah lebih lanjut menjadi gula yang kemudian difermentasi menjadi etanol.
Selain itu, proses produksi bioetanol belum sepenuhnya terintegrasi dengan pengembangan produk kimia lainnya. Kondisi tersebut membuat biaya produksi masih relatif tinggi.
Tantangan lain adalah kebutuhan enzim dalam proses produksi yang hingga kini masih bergantung pada produk impor. Ketergantungan tersebut menjadi pekerjaan rumah untuk menekan biaya sekaligus memperkuat kemandirian teknologi dalam negeri.
Punya Pilot Plant Bioetanol, BRIN Gandeng Astra dan Toyota
Untuk menjawab tantangan tersebut, BRIN telah mengembangkan fasilitas percontohan atau pilot plant bioetanol generasi kedua dengan luas sekitar 70 meter persegi.
Fasilitas ini digunakan untuk mengembangkan rangkaian proses produksi bioetanol, mulai dari praperlakuan, sakarifikasi, fermentasi, distilasi, hingga dehidrasi.
Khusus untuk pengolahan TKKS, proses dimulai dengan pengeringan dan penggilingan agar bahan baku memiliki karakteristik yang sesuai untuk memasuki tahapan pengolahan berikutnya.
Pengembangan teknologi tersebut juga dilakukan melalui kolaborasi dengan sektor industri. BRIN menjalin kerja sama riset bersama Astra Agro Lestari dan Toyota Astra Motor untuk mendorong pemanfaatan bioetanol dalam sektor transportasi.
Hasil pengembangan teknologi ini bahkan pernah diperkenalkan dalam pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2023, sebagai bagian dari upaya memperkenalkan pemanfaatan bioetanol untuk bahan bakar kendaraan.
Bioetanol Bukan Sekadar Energi Alternatif
Pengembangan bioetanol berbasis biomassa sawit dinilai memiliki arti strategis yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan bahan bakar alternatif. Langkah ini juga berkaitan dengan upaya memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari luar negeri.
Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan (Unhan), Mayjen TNI Fitry Taufiq Sahary, menegaskan bahwa energi merupakan sektor strategis yang menentukan keberlanjutan pembangunan, pertumbuhan ekonomi, hingga kemampuan negara menghadapi dinamika geopolitik dan ketidakpastian rantai pasok global.
“Penguatan ketahanan nasional memerlukan pendekatan multidimensional yang mencakup hilirisasi potensi bioetanol domestik dan diversifikasi sumber energi,” tegas Fitry.
Ia menilai pengembangan energi bersih perlu dilakukan secara komprehensif agar mampu meningkatkan efisiensi dan keandalan pengelolaan energi nasional.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi dalam sektor energi juga harus diimbangi dengan penguatan keamanan siber. Sebab, semakin terintegrasinya teknologi dalam infrastruktur energi turut menghadirkan risiko keamanan terhadap sistem informasi vital nasional.
Dengan demikian, riset bioetanol berbasis biomassa sawit perlu didorong melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, perguruan tinggi, dan pelaku industri.
Jika tantangan teknologi dan keekonomian dapat diatasi, limbah perkebunan sawit berpeluang menjadi salah satu sumber energi masa depan Indonesia. Sawit pun tidak hanya berperan sebagai komoditas unggulan ekspor dan bahan baku biodiesel, tetapi juga berpotensi menjadi bagian penting dalam strategi mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *