
sawitsetara.co - JAKARTA – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit nasional pada periode 27 Juli–2 Agustus 2026 menunjukkan tren positif. Berdasarkan laporan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) yang menghimpun data dari 22 provinsi, rata-rata harga TBS skema plasma maupun swadaya sama-sama mengalami kenaikan dibandingkan pekan sebelumnya.
Laporan APKASINDO mencatat rata-rata harga TBS skema plasma mencapai Rp3.521 per kilogram, naik Rp21 atau 0,6 persen dibandingkan minggu sebelumnya. Sementara itu, harga TBS petani swadaya naik lebih tinggi, yakni Rp66 atau 2,2 persen, menjadi Rp3.050 per kilogram.
Meski sama-sama menguat, harga TBS petani swadaya masih berada di bawah harga plasma. Rata-rata selisih kedua skema mencapai Rp471 per kilogram atau sekitar 13,4 persen, dengan harga plasma lebih tinggi di 21 dari 22 provinsi yang memiliki data lengkap.
Secara nasional, Riau kembali menjadi provinsi dengan harga TBS plasma tertinggi, yakni Rp3.985 per kilogram, sedangkan harga TBS swadaya tertinggi tercatat di Kalimantan Barat sebesar Rp3.460 per kilogram. Di sisi lain, harga TBS swadaya terendah berada di Papua Barat, yaitu Rp2.250 per kilogram.
Dari sisi wilayah, Pulau Sumatera masih menjadi kawasan dengan rata-rata harga TBS plasma tertinggi, yakni sekitar Rp3.758 per kilogram, disusul Kalimantan sebesar Rp3.608 per kilogram. Sebaliknya, rata-rata harga plasma terendah berada di Pulau Jawa sebesar Rp2.751 per kilogram. Untuk skema swadaya, Kalimantan mencatat rata-rata harga tertinggi sebesar Rp3.221 per kilogram, sementara Papua menjadi wilayah dengan rata-rata terendah, yakni Rp2.475 per kilogram.
Laporan tersebut juga membandingkan harga TBS dengan estimasi paritas berdasarkan harga tender CPO KPBN, rendemen 21 persen, dan indeks K 85 persen. Estimasi paritas TBS pada periode ini berada di level Rp2.838 per kilogram. Dengan demikian, rata-rata harga plasma masih berada 24,1 persen di atas estimasi paritas, sedangkan harga swadaya berada 7,5 persen di atas estimasi tersebut. APKASINDO menegaskan angka ini hanya digunakan sebagai bahan telaah dan bukan penetapan harga resmi.
Dari sisi pasar global, harga acuan CPO Indonesia melalui KPBN tercatat Rp15.900 per kilogram, sementara harga di Bursa ICDX mencapai Rp16.355 per kilogram. Harga CPO di Bursa Malaysia setara Rp20.187 per kilogram, sedangkan harga CIF Rotterdam mencapai Rp28.980 per kilogram, menunjukkan masih lebarnya selisih harga antara pasar domestik dan internasional.
Berdasarkan proyeksi statistik APKASINDO, rata-rata harga TBS nasional diperkirakan cenderung mengalami pelemahan sekitar 0,8 persen dalam empat pekan ke depan. Meski demikian, organisasi tersebut mengingatkan bahwa proyeksi tersebut hanya bersifat indikatif dan tidak dapat dijadikan jaminan harga karena dipengaruhi berbagai faktor pasar.
APKASINDO juga merekomendasikan agar pemerintah dan pemangku kepentingan memprioritaskan penguatan kemitraan di Papua, Papua Barat, dan Aceh yang mencatat selisih harga plasma dan swadaya paling lebar.
Selain itu, estimasi paritas TBS diharapkan dapat menjadi bahan diskusi dalam musyawarah Tim Penetapan Harga TBS di daerah agar proses penetapan harga semakin berbasis data.
Untuk informasi lebih lengkap terkait harga TBS sawit secara nasional, silakan klik tautan berikut: hargasawitindonesia.id.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *