
sawitsetara.co - KUALA LUMPUR — Pelaku pasar minyak sawit mentah waswas pekan ini. Di lantai Bursa Malaysia Derivatives, kontrak berjangka crude palm oil (CPO) Malaysia menutup perdagangan kemarin, Rabu (4/3/2026) dengan koreksi.
Kekhawatiran soal melemahnya permintaan ekspor dalam beberapa pekan ke depan menjadi batu sandungan utama. Pasar bergerak hati-hati. Volume transaksi menyusut, minat terbuka ikut menurun—seolah pelaku pasar memilih menepi sambil membaca arah angin global.
Sebagaimana dikutip dari Bernama.com, David Ng, trader proprietary dari Iceberg X Sdn Bhd, melihat faktor geopolitik sebagai penyangga psikologis harga. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terjadi baru-baru ini, kata dia, berpotensi memberi sokongan sentimen dalam waktu dekat.
“Harga CPO kami perkirakan masih bertahan di atas RM4.100, dengan batas atas di sekitar RM4.250 per ton,” ujarnya, dikutip Kamis (5/3/2026).
Angka-angka di papan perdagangan mencerminkan sikap wait and see itu. Kontrak Maret dan April 2026 sama-sama turun RM9, masing-masing ditutup di RM4.071 dan RM4.155 per ton. Mei 2026 ikut tergelincir RM7 ke RM4.179 per ton. Penurunan berlanjut tipis hingga kontrak Agustus 2026, yang berakhir di RM4.180 per ton.
Aktivitas perdagangan juga melambat. Total transaksi tercatat 76.192 lot—lebih rendah dibanding hari sebelumnya yang mencapai 85.265 lot. Open interest menyusut menjadi 221.298 kontrak, menandakan sebagian pelaku pasar memilih melepas posisi.
Di pasar fisik, harga CPO untuk pengiriman Maret wilayah Selatan relatif tenang. Angkanya tak bergerak: RM4.100 per ton. Stabil, tapi belum cukup kuat untuk menghapus kegelisahan pasar.
Di tengah tarik-menarik antara fundamental ekspor yang melemah dan risiko geopolitik yang membayang, pasar CPO tampaknya sedang menunggu satu pemicu baru—entah dari data permintaan, atau dari panggung politik global.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *