KONSULTASI
Logo

Harga CPO Diprediksi Tetap Tinggi hingga 2027, Biodiesel dan El Niño Jadi Penopang

29 Oktober 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Harga CPO Diprediksi Tetap Tinggi hingga 2027, Biodiesel dan El Niño Jadi Penopang

sawitsetara.co – Prospek harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diperkirakan tetap kuat hingga 2027. Lonjakan kebutuhan biodiesel di Indonesia dan potensi gangguan produksi akibat fenomena El Niño menjadi dua faktor utama yang berpeluang memperketat pasokan sekaligus menopang harga minyak sawit di pasar global.

Lembaga riset investasi Hong Leong Investment Bank (HLIB) mempertahankan proyeksi rata-rata harga CPO Malaysia sebesar RM4.450 per ton pada 2026 dan meningkat menjadi RM4.500 per ton pada 2027.

Dilansir dari New Straits Times, Kamis (29/10/2026), proyeksi tersebut mencerminkan ekspektasi terhadap semakin ketatnya keseimbangan antara pasokan dan permintaan minyak sawit. Kondisi ini berpotensi menjaga harga tetap berada pada level tinggi dalam dua tahun ke depan.

HLIB juga mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor perkebunan, dengan preferensi terhadap perusahaan yang memiliki eksposur lebih besar di Malaysia. Rekomendasi tersebut didukung prospek perbaikan kinerja keuangan emiten perkebunan, terutama berkat peningkatan produksi musiman dan penguatan harga produk sawit.

Optimisme terhadap sektor perkebunan turut ditopang oleh kinerja produksi pada kuartal III 2026. HLIB memperkirakan perusahaan perkebunan yang masuk dalam cakupan risetnya akan membukukan peningkatan laba dibandingkan periode sebelumnya.

Produksi tandan buah segar (TBS) perusahaan-perusahaan tersebut tercatat tumbuh antara 6% hingga 35,6% pada kuartal III 2026 dibandingkan kuartal II 2026.

Peningkatan ini menunjukkan adanya pemulihan produksi musiman yang berpotensi memperkuat pendapatan perusahaan, terutama pada segmen hulu yang mencakup kegiatan perkebunan dan produksi buah sawit.

HUT APKASINDO - DPW BANTEN

Perusahaan yang lebih berfokus pada perkebunan di Malaysia, seperti Hap Seng Plantations Holdings Bhd, Ol Corp Bhd, dan Jaya Tiasa Holdings Bhd, mencatatkan pertumbuhan produksi kuartalan lebih kuat dibandingkan sejumlah perusahaan yang beroperasi di Indonesia.

Menurut HLIB, sebagian besar perusahaan perkebunan menikmati peningkatan hasil panen setelah menjalankan program peremajaan tanaman pada periode sebelumnya. Namun, peningkatan produksi tidak terjadi secara merata di seluruh perusahaan.

Jaya Tiasa menjadi salah satu pengecualian karena produksinya tertekan oleh percepatan peremajaan tanaman yang mengurangi luas areal menghasilkan. Tekanan kelembapan tanah berkepanjangan juga turut memengaruhi produktivitas perkebunan perusahaan tersebut.

Dari sisi keuangan, kombinasi kenaikan produksi TBS dan penguatan harga produk sawit diperkirakan mendorong pertumbuhan laba segmen hulu secara tahunan.

Meski demikian, perusahaan perkebunan masih menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya pupuk. Peningkatan biaya input ini berpotensi menggerus sebagian keuntungan yang diperoleh dari kenaikan produksi dan harga jual.

Dengan demikian, kemampuan perusahaan mengendalikan biaya operasional akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan besarnya pertumbuhan laba di tengah prospek harga CPO yang relatif kuat.

HLIB memperkirakan perbaikan kinerja secara kuartalan terutama akan berasal dari segmen hulu. Sementara itu, hasil laporan keuangan emiten secara umum diperkirakan berada di sekitar proyeksi lembaga tersebut.

Musim publikasi laporan keuangan perusahaan perkebunan untuk kuartal III 2026 dijadwalkan mulai 5 November 2026.

HUT APKASINDO - DPW BANTEN

Selain perkebunan, segmen hilir juga diperkirakan memberikan kontribusi positif terhadap profitabilitas perusahaan.

HLIB menilai penyempitan selisih tarif pajak ekspor CPO dibandingkan kuartal II 2026 serta harga inti sawit atau palm kernel yang relatif stabil berpotensi mendukung kinerja bisnis hilir.

Permintaan juga diperkirakan memperoleh dorongan dari aktivitas pengisian kembali persediaan atau restocking yang dilakukan secara proaktif oleh pelaku pasar.

Langkah tersebut berlangsung di tengah ketidakpastian geopolitik dan persiapan penerapan Regulasi Antideforestasi Uni Eropa atau European Union Deforestation Regulation (EUDR), yang turut memengaruhi strategi pengadaan dan pengelolaan rantai pasok produk sawit.

Ke depan, prospek harga CPO akan sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara pertumbuhan permintaan dan kemampuan produsen meningkatkan pasokan.

Kebutuhan biodiesel Indonesia berpotensi menyerap lebih banyak minyak sawit untuk pasar domestik. Pada saat yang sama, potensi El Niño dapat menambah risiko terhadap produktivitas perkebunan apabila kondisi cuaca mengganggu pertumbuhan dan hasil panen.

Jika kedua faktor tersebut semakin memperketat ketersediaan minyak sawit, harga CPO berpeluang bertahan pada level tinggi hingga 2027, sejalan dengan proyeksi HLIB.

Bagi industri sawit, kondisi ini membuka peluang bagi perusahaan perkebunan untuk meningkatkan pendapatan. Namun, realisasi keuntungan tetap bergantung pada perkembangan produksi, pergerakan harga, biaya pupuk, serta dinamika permintaan dari pasar domestik dan ekspor.

Proyeksi HLIB tersebut menjadi sinyal bahwa prospek industri sawit dalam dua tahun mendatang masih ditopang oleh permintaan yang kuat, meskipun risiko produksi dan kenaikan biaya tetap perlu diwaspadai.

Tags:

CPO

Berita Sebelumnya
Hadiri Rakernas APKASINDO 2027, Prof Agus Pakpahan Kenang 26 Tahun Lalu

Hadiri Rakernas APKASINDO 2027, Prof Agus Pakpahan Kenang 26 Tahun Lalu

Momen itu mengingatkannya pada perjalanan awal organisasi yang kini menjadi salah satu wadah perjuangan petani sawit Indonesia.

28 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *