KONSULTASI
Logo

Filipina Bidik 300 Ribu Hektare Sawit, Indonesia Perlu Antisipasi Persaingan Pasar Ekspor

14 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Filipina Bidik 300 Ribu Hektare Sawit, Indonesia Perlu Antisipasi Persaingan Pasar Ekspor

sawitsetara.co – MANILA — Filipina mulai memperkuat industri kelapa sawit untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Pemerintah negara itu menyiapkan ekspansi perkebunan hingga 300.000 hektare. Langkah ini berpotensi mengubah peta perdagangan minyak sawit di Asia Tenggara, termasuk bagi Indonesia.

Selama ini, Filipina mengandalkan pasokan minyak sawit dari luar negeri, terutama Indonesia dan Malaysia. Namun, pemerintahnya ingin meningkatkan produksi domestik agar kebutuhan industri dalam negeri tidak terus bergantung pada pasar internasional.

Mengutip The Philippine Star, Minggu (11/10/2026), Departemen Pertanian Filipina atau Department of Agriculture (DA) merencanakan pengembangan 300.000 hektare perkebunan kelapa sawit. Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan produksi nasional sekaligus menekan impor.

Besarnya kebutuhan domestik menjadi alasan utama ekspansi tersebut. Filipina mengonsumsi lebih dari 1 juta ton minyak sawit setiap tahun. Sementara itu, produksi dalam negeri baru memenuhi sekitar 9 persen kebutuhan. Sebanyak 91 persen sisanya masih dipenuhi melalui impor.

Menurut BusinessMirror, Filipina menghabiskan sekitar US$ 1,5 miliar per tahun untuk mengimpor minyak sawit. Ketergantungan tersebut membuat negara itu rentan terhadap perubahan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dunia serta kenaikan biaya pengiriman.

apkasindo

Produksi Filipina Masih Jauh Tertinggal

Meski menargetkan ekspansi besar, kapasitas industri sawit Filipina masih relatif kecil. Produksi minyak sawit negara tersebut pada 2025 dilaporkan mencapai sekitar 140.000 ton. Adapun luas perkebunan yang telah dikembangkan tercatat sekitar 63.380 hektare. Data United States Department of Agriculture (USDA) menunjukkan luas panen sawit Filipina meningkat dari sekitar 60.000 hektare pada 2016 menjadi 68.000 hektare pada 2025. Kenaikannya mencapai sekitar 13,3 persen dalam satu dekade.

Namun, pertumbuhan tersebut belum cukup untuk mengejar produsen utama dunia. Luas panen Filipina bahkan sempat turun menjadi sekitar 63.000 hektare pada 2024 sebelum kembali meningkat pada tahun berikutnya.

Untuk mempercepat pengembangan, Departemen Pertanian Filipina mengajukan anggaran sekitar 300 juta peso pada 2027. Pemerintah memperkirakan kebutuhan pendanaan mencapai sekitar 1 miliar peso per tahun selama lima tahun mendatang. Perluasan perkebunan diharapkan memperkuat pasokan bahan baku untuk industri makanan, manufaktur, hingga produksi bahan bakar nabati atau biofuel.

Ambisi Filipina tersebut belum menggeser posisi Indonesia dan Malaysia sebagai penguasa industri sawit global. Berdasarkan data USDA untuk periode 2025/2026, produksi minyak sawit Indonesia diperkirakan mencapai 46,7 juta ton atau 57,3 persen dari total produksi dunia. Malaysia berada di posisi kedua dengan produksi sekitar 20,2 juta ton atau 24,8 persen. Dengan demikian, kedua negara menguasai sekitar 82,1 persen produksi minyak sawit global.

Thailand menyusul dengan produksi 3,9 juta ton atau 4,8 persen. Berikutnya Kolombia dengan 2 juta ton, Nigeria 1,5 juta ton, dan Guatemala 995.000 ton. Filipina masih berada di peringkat ke-19 dengan kontribusi sekitar 0,15 persen terhadap produksi global. Dari sisi luas panen, Indonesia mencapai sekitar 14 juta hektare, Malaysia 5,6 juta hektare, sedangkan Filipina baru sekitar 68.000 hektare pada 2025.

Jika target ekspansi 300.000 hektare Filipina terealisasi, luas tersebut setara sekitar 2,1 persen dari luas panen sawit Indonesia. Perbedaan skala ini menunjukkan bahwa Filipina masih membutuhkan waktu dan investasi besar untuk mengejar produsen utama.

apkasindo

Malaysia Siapkan Transfer Teknologi

Pengembangan industri sawit Filipina juga memperoleh dukungan Malaysia. Malaysian Palm Oil Council (MPOC) menyatakan kesiapan membantu melalui transfer teknologi, penelitian, serta pendampingan teknis. Chief Executive Officer MPOC Belvinder Sron mengatakan Malaysia memiliki pengalaman panjang dalam budidaya kelapa sawit sejak penanaman komersial pertama pada 1917.

Selain berbagi pengalaman budidaya, Malaysia membuka peluang kerja sama dengan industri minyak kelapa Filipina. Kerja sama tersebut mencakup kemungkinan pemanfaatan bahan baku untuk sektor kimia. Dukungan ini berpotensi mempercepat pembelajaran Filipina dalam membangun industri sawit. Namun, peningkatan produksi tetap membutuhkan waktu, mulai dari penanaman, pembangunan fasilitas pengolahan, hingga peningkatan produktivitas kebun.

Ekspansi Filipina berlangsung ketika harga CPO global mengalami fluktuasi. Data Refinitiv yang dikutip dalam laporan tersebut mencatat harga CPO di Bursa Malaysia sebesar 4.682 ringgit per ton pada penutupan perdagangan Selasa (13/10/2026).

Sementara itu, Kementerian Perdagangan RI menetapkan harga referensi CPO Oktober 2026 sebesar US$ 1.042,15 per ton. Angka tersebut naik 3,44 persen dibandingkan September 2026 yang sebesar US$ 1.007,51 per ton. Meski berpotensi menjadi produsen yang lebih besar, Filipina belum menjadi ancaman langsung bagi dominasi Indonesia dan Malaysia. Dalam jangka pendek, negara itu masih membutuhkan pasokan impor untuk memenuhi kebutuhan industrinya.

Dampak yang lebih mungkin muncul adalah berkurangnya permintaan impor Filipina secara bertahap apabila produksi domestik meningkat. Kondisi tersebut perlu dicermati eksportir Indonesia karena Filipina selama ini menjadi salah satu pasar minyak sawit di kawasan Asia Tenggara. Persaingan baru berpeluang menguat dalam jangka panjang jika perluasan perkebunan berjalan sesuai rencana dan menghasilkan peningkatan produksi yang signifikan.

apkasindo

Ekspansi Menghadapi Persoalan Lingkungan dan Petani

Di balik target peningkatan produksi, pengembangan perkebunan sawit Filipina juga menghadapi persoalan sosial dan lingkungan. Mengutip BusinessMirror pada 16 September 2026, organisasi pekerja pertanian Unyon ng mga Manggagawa sa Agrikultura (UMA) menyoroti dugaan konflik lahan serta rendahnya harga tandan buah segar (TBS) yang diterima petani.

Di Palawan, UMA melaporkan sejumlah petani hanya menerima 2,70–3 peso Filipina per kilogram TBS. Harga tersebut berada di bawah harga minimum dalam perjanjian yang disebut mencapai 6 peso per kilogram. Organisasi itu juga menyampaikan kekhawatiran mengenai hak masyarakat adat dan potensi kerusakan lingkungan akibat perluasan perkebunan.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan industri sawit tidak cukup diukur dari pertambahan luas kebun dan volume produksi. Perlindungan hak petani, kepastian harga, pengelolaan lingkungan, serta keberlanjutan rantai pasok juga menjadi faktor penting.

Bagi Indonesia, perkembangan industri sawit Filipina perlu dicermati dari dua sisi. Dalam jangka pendek, negara tersebut masih berpotensi menjadi pasar ekspor. Namun, peningkatan produksi domestiknya dapat mengubah kebutuhan impor dan persaingan pasar dalam jangka panjang.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
sawitsetara Audiensi dengan Wamenaker, Bahas SETARACITA  dan Job Fair 2026

sawitsetara Audiensi dengan Wamenaker, Bahas SETARACITA dan Job Fair 2026

sawitsetara.co beraudiensi dengan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor di Gedung Kementerian Ketenagakerjaan RI, Selasa (13/10/2026). Pertemuan ini membahas kolaborasi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) terhadap penyelenggaraan SETARACITA dan job fair 2026.

13 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *