
sawitsetara.co - PEKANBARU — Lonjakan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit hingga menembus Rp4.000 per kilogram bukan sekadar fenomena musiman. Kombinasi cuaca ekstrem dan ketegangan geopolitik global menjadi pemicu utama, mendorong harga bergerak agresif dalam waktu singkat.
Pengamat ekonomi dari Universitas Riau, Dr. Dahlan Tampubolon, SE, M.Si., menyebut produksi di sejumlah sentra sawit terganggu akibat kondisi cuaca yang tidak menentu. Dampaknya, pasokan menipis di tengah permintaan yang tetap tinggi.
“Jadi, meski baru libur Idulfitri, kalau buah di pohon masih malu-malu keluar, ya harganya makin pedas di timbangan,” ujarnya, Minggu (5/4/2026).

Menurut Dahlan, faktor global memainkan peran lebih besar. Ketegangan di kawasan strategis seperti Selat Hormuz berdampak langsung pada lonjakan harga minyak mentah dunia. Kondisi ini mendorong negara-negara konsumen beralih ke energi alternatif, termasuk biodiesel berbasis sawit.
Ia menjelaskan, kelapa sawit menjadi bahan baku utama program biodiesel seperti B35 hingga B40. Saat harga minyak bumi naik, permintaan biofuel ikut terdorong, yang pada akhirnya mengerek harga crude palm oil (CPO) dan TBS di tingkat petani.
“Begitu Selat Hormuz diblokade dan harga minyak mentah dunia melonjak gara-gara perang atau ketegangan geopolitik, pasar dunia langsung pusing. Mereka kemudian mulai cari alternatif energi yang lebih murah. Di situlah sawit (CPO) jadi primadona,” katanya.

Persaingan minyak nabati global turut memperkuat tren kenaikan. Pasokan minyak kedelai dari Amerika Serikat dan minyak bunga matahari dari Ukraina terganggu, membuat importir besar seperti India dan Cina kembali memburu sawit.
“Karena kondisi global lagi kacau, pasokan minyak nabati lain itu tersendat atau harganya selangit. Alhasil, pabrik-pabrik di India dan China balik lagi mengejar sawit, karena stoknya paling siap,” ujar Dahlan.
Tekanan juga datang dari sisi logistik. Gangguan jalur pelayaran akibat ketegangan di Selat Hormuz membuat biaya pengiriman melonjak. Namun, tingginya permintaan global membuat pembeli tetap menyerap CPO dengan harga tinggi, menjaga harga di bursa internasional tetap kuat.
Di sisi lain, stok minyak sawit di negara importir utama seperti Cina dilaporkan menipis. Kondisi ini memicu aksi restocking dalam waktu bersamaan, yang langsung mendorong harga naik tajam.
“Begitu mereka masuk ke pasar serentak, ya harganya langsung terbakar. Makanya, harga Rp4.000 itu bukan angka gaib, itu angka hasil rebutan pembeli besar yang takut nggak kebagian barang,” tuturnya.

Kebijakan dalam negeri juga memberi pengaruh. Pemerintah melalui skema Domestic Market Obligation (DMO) berupaya menjaga pasokan minyak goreng domestik. Namun, ketika selisih harga global dan lokal melebar, tekanan ekspor meningkat dan berdampak pada harga TBS di tingkat petani.
“Selisih harga inilah yang seringkali bikin harga TBS di tingkat petani ikut menyesuaikan secara agresif karena pabrik kelapa sawit (PKS) berebut amankan pasokan buah,” kata Dahlan.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kenaikan ini bersifat rentan. Harga sawit sangat dipengaruhi dinamika global, terutama perkembangan konflik dan kebijakan perdagangan internasional.
“Harga tinggi sekarang ini sebagian besar dipicu oleh rasa takut (fear) pasar dunia akan kekurangan pasokan energi dan pangan. Kalau rasa takut ini hilang, pasar bakal melakukan koreksi harga,” ujarnya.
Ia mengimbau petani tidak terlena dengan harga tinggi saat ini. “Jadi untuk orang itu yang punya kebun, jangan langsung foya-foya beli barang mewah dulu. Gunakan momen Rp4.000 ini buat pupuk kebun yang bagus atau tabungan, karena nggak tau kita kapan angin pasar berubah arah,” kata Dahlan.
Menurut dia, selama ketegangan global masih berlangsung dan harga energi tetap tinggi, sawit akan tetap menjadi komoditas strategis. Namun, siklus pasar bisa berubah cepat, dan pelaku usaha diminta tetap waspada.
Tags:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *