KONSULTASI
Logo

D100, Diesel Nabati 100 Persen Sawit yang Disiapkan Jadi Senjata Baru Ketahanan Energi Indonesia

1 September 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
D100, Diesel Nabati 100 Persen Sawit yang Disiapkan Jadi Senjata Baru Ketahanan Energi Indonesia
HOT NEWS

sawitsetara.co - Indonesia tidak hanya mengandalkan biodiesel campuran untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Di tengah penguatan program mandatori biodiesel hingga B50, pemerintah dan industri juga terus mengembangkan D100 atau green diesel, bahan bakar diesel nabati yang diproduksi 100 persen dari minyak sawit.

Jika biodiesel B40 dan B50 masih berupa campuran bahan bakar nabati dengan diesel fosil, D100 memiliki konsep berbeda. Bahan bakar ini diproses hingga menghasilkan hidrokarbon dengan karakteristik yang menyerupai diesel berbasis minyak bumi sehingga dapat digunakan tanpa perlu dicampur dengan diesel fosil.

Pengembangan D100 dilakukan PT Kilang Pertamina Internasional bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan memanfaatkan Katalis Merah Putih, teknologi yang dikembangkan oleh peneliti dalam negeri. Produksi awal D100 bahkan telah dilakukan di Kilang Dumai, Riau, sejak 2020.

Dilansir dari keterangan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), D100 merupakan bahan bakar diesel berbasis minyak nabati yang diproduksi melalui proses hydrotreating.

Bahan bakunya berasal dari refined, bleached, and deodorized palm oil (RBDPO), yakni minyak sawit yang telah melalui proses pemurnian. Dalam proses hydrotreating, minyak tersebut direaksikan dengan hidrogen menggunakan katalis.

Proses tersebut menghilangkan kandungan oksigen dari minyak nabati dan mengubahnya menjadi hidrokarbon yang memiliki karakteristik menyerupai diesel fosil.

Setelah melalui proses pemurnian akhir, produk yang dihasilkan menjadi diesel nabati yang dapat digunakan tanpa harus dicampur dengan bahan bakar berbasis minyak bumi.

Di sinilah letak perbedaan mendasar D100 dengan biodiesel FAME yang selama ini digunakan dalam program B35, B40 hingga B50.

apkasindo

Biodiesel FAME diproduksi melalui proses esterifikasi atau transesterifikasi yang menghasilkan fatty acid methyl ester. Produk tersebut kemudian dicampurkan dengan diesel fosil sesuai kadar mandatori pemerintah.

Sementara D100 menggunakan teknologi hydrotreating untuk menghasilkan hidrokarbon dari minyak sawit. Dengan karakteristik tersebut, D100 menjadi salah satu opsi untuk menghadirkan diesel nabati secara penuh.

Cetane Tinggi, Performa Jadi Salah Satu Keunggulan

D100 juga menawarkan karakteristik bahan bakar yang menarik untuk mesin diesel.

Angka cetane D100 disebut dapat mencapai sekitar 79, jauh lebih tinggi dibandingkan diesel konvensional yang berada di kisaran 48–51 maupun Pertamina Dex yang sekitar 53.

Angka cetane yang tinggi menunjukkan kemampuan bahan bakar untuk lebih mudah mengalami pembakaran pada mesin diesel. Karakteristik tersebut berpotensi menghasilkan proses pembakaran yang lebih baik.

Dalam pengujian jalan, kendaraan diesel yang menggunakan D100 mampu menempuh jarak sekitar 200 kilometer dengan performa yang dinilai baik. Pengujian juga menunjukkan karakteristik mesin yang lebih halus serta pembakaran yang lebih efisien.

Selain performa, penggunaan D100 juga berpotensi menekan emisi gas buang dibandingkan diesel berbasis fosil.

Sawit Masuk Lebih Dalam ke Sektor Energi

Pengembangan D100 memiliki arti strategis bagi Indonesia karena bahan bakunya berasal dari komoditas yang diproduksi di dalam negeri.

apkasindo

Selama ini, minyak sawit Indonesia dikenal luas sebagai bahan baku pangan, oleokimia, hingga biodiesel. Kehadiran D100 membuka jalur hilirisasi baru dengan menempatkan sawit sebagai salah satu sumber bahan bakar diesel nabati.

Artinya, nilai tambah sawit tidak berhenti pada ekspor minyak mentah atau produk turunannya. Minyak sawit dapat diproses lebih jauh menjadi produk energi bernilai tambah tinggi di dalam negeri.

Dari sisi ketahanan energi, pemanfaatan D100 juga berpotensi mengurangi kebutuhan terhadap diesel berbasis minyak bumi, termasuk ketergantungan pada impor bahan bakar.

Jika pengembangannya dapat dilakukan secara ekonomis dan dalam skala besar, D100 berpeluang menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus memperluas pasar domestik minyak sawit.

Dengan demikian, industri sawit tidak hanya berperan memenuhi kebutuhan pangan dan industri, tetapi juga dapat mengambil bagian lebih besar dalam penyediaan energi nasional.

Tantangan D100: Teknologi, Hidrogen hingga Biaya Produksi

Meski menawarkan prospek besar, D100 belum lepas dari berbagai tantangan.

Pengembangan dalam skala komersial membutuhkan investasi besar untuk membangun dan mengembangkan fasilitas pengolahan. Teknologi hydrotreating juga membutuhkan pasokan hidrogen sehingga peningkatan kapasitas produksi harus diikuti kesiapan infrastruktur pendukung.

Faktor keekonomian menjadi tantangan penting lainnya.

Biaya produksi D100 perlu ditekan agar mampu bersaing dengan diesel berbasis fosil. Tanpa harga yang kompetitif, penerapan D100 dalam skala luas akan menghadapi tantangan meskipun teknologi dan bahan bakunya tersedia.

Selain itu, keberlanjutan pasokan minyak sawit juga menjadi faktor krusial. Apabila D100 diarahkan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam skala nasional, ketersediaan bahan baku dalam jumlah memadai harus dipastikan tanpa mengganggu kebutuhan sawit untuk pangan dan industri lainnya.

apkasindo

Karena itu, pengembangan D100 membutuhkan ekosistem yang terintegrasi, mulai dari ketersediaan bahan baku, teknologi pengolahan, pasokan hidrogen, infrastruktur kilang, investasi, hingga kebijakan energi nasional.

D100 dan Masa Depan Hilirisasi Sawit

Perjalanan Indonesia menuju kemandirian energi tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak bahan bakar fosil yang dapat dikurangi, tetapi juga seberapa jauh sumber daya domestik dapat diolah menjadi energi bernilai tambah.

D100 menawarkan peluang tersebut.

Dengan mengubah minyak sawit menjadi diesel nabati melalui teknologi hydrotreating, Indonesia berpotensi mengembangkan rantai nilai baru yang menghubungkan sektor perkebunan, industri pengolahan, teknologi, dan energi.

Jika tantangan teknologi, infrastruktur, pasokan bahan baku, dan keekonomian dapat diatasi, D100 bukan sekadar alternatif diesel fosil, tetapi dapat menjadi salah satu wajah baru hilirisasi sawit Indonesia.

Di tengah upaya memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, diesel sawit 100 persen ini berpotensi menjadi babak berikutnya dalam perjalanan panjang pemanfaatan sawit Indonesia.


Berita Sebelumnya
Saat Sawit Tak Sekadar CPO, RSI Dorong Perkebunan Jadi Basis Kedaulatan Pangan dan Energi

Saat Sawit Tak Sekadar CPO, RSI Dorong Perkebunan Jadi Basis Kedaulatan Pangan dan Energi

Potensi tersebut dapat dioptimalkan melalui pengelolaan lahan yang lebih produktif, termasuk pengembangan tanaman pangan seperti jagung dan singkong melalui pola tumpangsari, serta pemanfaatan lahan secara berkelanjutan untuk peternakan dan hortikultura.

31 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *