KONSULTASI
Logo

CBG dari Limbah Sawit Dinilai Bisa Tekan Emisi dan Kurangi Ketergantungan LNG

22 Juni 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
CBG dari Limbah Sawit Dinilai Bisa Tekan Emisi dan Kurangi Ketergantungan LNG

sawitsetara.co - JAKARTA — Pemanfaatan compressed biomethane gas (CBG) dari limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) dinilai berpotensi besar mendukung transisi energi Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor liquefied natural gas (LNG).

Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Hokkop Situngkir mengatakan Indonesia memiliki sumber bahan baku biomethane yang melimpah, terutama dari industri kelapa sawit. Menurut dia, tantangan pengembangan energi tersebut kini bukan lagi terletak pada ketersediaan sumber daya maupun teknologi, melainkan pada model bisnis yang dapat mempercepat implementasi.

“Kalau industri sawit ini bisa kita manfaatkan untuk kepentingan energi ekonomi, potensinya sangat besar. Sumbernya ada, teknologinya ada, pembiayaannya ada. Tinggal bagaimana kita membangun skema bisnis yang tepat sehingga bisa segera diimplementasikan,” kata Hokkop dalam forum Climate Policy Initiative (CPI) bertema Peluang dan Strategi Pembiayaan Kegiatan Pengurangan Emisi Metana untuk Sektor Industri di Indonesia di Jakarta.

Sawit Setara Default Ad Banner

Data PLN EPI menunjukkan Indonesia memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit yang menghasilkan limbah cair hingga 130 juta meter kubik per tahun. Namun sebagian besar limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber energi alternatif.

Padahal, POME merupakan salah satu penyumbang emisi metana yang signifikan. PLN EPI memperkirakan limbah sawit menghasilkan emisi sekitar 20 juta ton setara karbon dioksida (CO2e) setiap tahun.

“Kita melihat sumber emisi dari POME ini mencapai sekitar 20 juta ton karbon ekuivalen. Hampir 90 persen sebenarnya bisa diselesaikan melalui utilisasi menjadi sumber energi baru,” ujar Hokkop.

Pengembangan biomethane dinilai sejalan dengan target pemerintah meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) menjadi 44–48 persen pada 2030 serta mendukung pencapaian target net zero emissions (NZE) pada 2060.

Untuk mempercepat pengembangan sektor tersebut, PLN EPI tengah membangun ekosistem bisnis CBG yang terintegrasi, mulai dari penyediaan bahan baku, pembangunan fasilitas produksi, hingga pengembangan pasar dan distribusi. Dalam skema itu, PLN EPI akan berperan sebagai agregator dan offtaker yang menghubungkan pabrik kelapa sawit, penyedia teknologi, lembaga keuangan, pelaku industri, dan sektor ketenagalistrikan.

“Produksi saja CBG-nya, nanti kami beli dan kami distribusikan ke pembangkit. Kami siap menjadi agregator sehingga investasi di sektor ini bisa berjalan lebih cepat,” tutur Hokkop.

Sawit Setara Default Ad Banner

Salah satu proyek yang sedang disiapkan ialah pemanfaatan Bio-CBG untuk skema cofiring di PLTGU Belawan. Pada tahap awal, satu turbin gas berkapasitas 130 megawatt dengan porsi cofiring 2,5 persen membutuhkan sekitar 450 MMBTUD Bio-CBG. Kebutuhan tersebut diperkirakan dapat dipenuhi oleh satu fasilitas pengolahan POME.

Apabila diterapkan pada empat turbin PLTGU Belawan, dibutuhkan empat fasilitas CBG dengan total investasi sekitar US$ 20 juta. Program itu diperkirakan mampu menekan emisi hingga 500 ribu ton CO2e.

Menurut Hokkop, proyek di Belawan akan menjadi model integrasi biomethane ke dalam sistem kelistrikan nasional. Skema cofiring memungkinkan pemanfaatan infrastruktur pembangkit gas yang sudah tersedia sehingga peningkatan bauran energi terbarukan dapat dilakukan lebih cepat tanpa membangun pembangkit baru dalam skala besar.

Potensi pengembangan CBG secara nasional juga dinilai besar. Dari total kapasitas pembangkit gas nasional sebesar 18,4 gigawatt (GW), kebutuhan biomethane untuk cofiring 2,5 persen diperkirakan mencapai 60 ribu MMBTUD. Skenario itu diperkirakan melibatkan sekitar 200 pabrik kelapa sawit.

Jika terealisasi, pengurangan emisi yang dihasilkan diperkirakan mencapai 14 juta ton CO2e.

Selain manfaat lingkungan, bisnis biomethane juga dinilai memiliki prospek ekonomi. Berdasarkan simulasi PLN EPI, satu proyek CBG dapat menghasilkan nilai ekonomi hingga Rp 1,7 triliun sekaligus mengurangi emisi sekitar 700 ribu ton CO2e.

PLN EPI telah menyusun peta jalan pengembangan bisnis CBG hingga 2030. Kapasitas produksi ditargetkan meningkat dari 1.000 MMBtu pada 2026 menjadi 2.957 BBTU pada 2030 melalui pembangunan tiga fasilitas CBG untuk memasok kebutuhan pembangkit listrik dan mendukung program dedieselisasi.

“Bioenergi menjadi jembatan antara transisi energi, ketahanan energi, dan ekonomi kerakyatan. Limbah yang selama ini menjadi sumber emisi dapat diubah menjadi sumber energi yang bernilai tambah sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional,” tukas Hokkop.


Berita Sebelumnya
APKASINDO Luncurkan HargaSawitIndonesia.id, Sajikan Harga TBS dan CPO Secara Realtime untuk Tingkatkan Transparansi Pasar Sawit

APKASINDO Luncurkan HargaSawitIndonesia.id, Sajikan Harga TBS dan CPO Secara Realtime untuk Tingkatkan Transparansi Pasar Sawit

Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP APKASINDO) resmi meluncurkan HargaSawitIndonesia.id, pada Senin (15/6/2026). Ini adalah platform digital yang menyajikan data harga tandan buah segar (TBS) petani dan harga crude palm oil (CPO) dari berbagai referensi nasional maupun internasional dalam satu dashboard terintegrasi.

15 Juni 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *