
sawitsetara.co - Hilirisasi industri kelapa sawit nasional dinilai tidak akan berjalan optimal tanpa terlebih dahulu membenahi sektor hulu. Produktivitas kebun, efisiensi penggunaan sumber daya, hingga pengelolaan lingkungan menjadi fondasi penting untuk menghasilkan produk sawit bernilai tambah, berdaya saing, sekaligus berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Prof. Dr. Ir. H. Rachmat Pambudy, MS, saat mengunjungi Pabrik Kelapa Sawit SPOT (Steamless Palm Oil Technology) di Kampus INSTIPER Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Rachmat melihat langsung teknologi pengolahan sawit yang dikembangkan melalui Teaching Plant SPOT. Fasilitas ini merupakan proyek percontohan hasil kolaborasi Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY), yayasan yang menaungi INSTIPER Yogyakarta dan AKPY, bersama PT Nusantara Green Energy (PT NGE).
Pengembangan teknologi tersebut telah dimulai sejak 2022 melalui grant riset kelapa sawit yang dibiayai oleh BPDP. SPOT menjadi salah satu upaya menghadirkan inovasi pengolahan kelapa sawit yang lebih efisien sekaligus ramah lingkungan.
Bagi Menteri Rachmat, teknologi tersebut memberikan perspektif baru dalam menjawab tantangan hilirisasi sawit yang selama ini menjadi perhatian pemerintah.
“Saya ini sudah beberapa bulan dapat tugas dari Presiden tapi nggak ketemu jawabannya. Hari ini saya ketemu jawabannya,” ujar Rachmat.
Ia menjelaskan, pemerintah memberikan mandat kepada Bappenas untuk mendorong agenda hilirisasi, termasuk hilirisasi komoditas kelapa sawit. Namun, menurutnya, hilirisasi tidak dapat berjalan maksimal apabila persoalan di sektor hulu atau on-farm belum diselesaikan.
“Intinya Bappenas diminta mengurus hilirisasi. Hilirisasi sawit. Hilirisasi sawit hanya bisa terjadi kalau on-farm (kebun) beres, hulunya beres,” tegasnya.
Karena itu, Rachmat menilai inovasi seperti SPOT memiliki posisi penting dalam membangun ekosistem hilirisasi sawit nasional. Teknologi pengolahan ke depan tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga harus mampu menekan penggunaan energi dan air serta mengurangi emisi karbon.
Perwakilan PT NGE, Petrus Tjandra, menjelaskan SPOT memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan teknologi pengolahan kelapa sawit yang umum digunakan saat ini.
Salah satunya adalah bahan baku yang masuk ke pabrik. Pada teknologi SPOT, yang masuk ke dalam pabrik sudah berupa brondolan, sementara janjang kosong tetap ditinggalkan di kebun untuk dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik.
“Pada pabrik ini yang masuk ke pabrik sudah berupa brondolan dan janjang tetap ditinggal di kebun sebagai sumber pupuk organik di kebun. Karena yang masuk sudah tinggal brondolan maka energi yang dibutuhkan untuk pengolahan menjadi lebih rendah,” jelas Petrus.
Teknologi SPOT juga tidak menggunakan stasiun sterilizer atau perebusan yang selama ini berfungsi merebus TBS menggunakan uap air bertekanan tinggi.
Tidak adanya proses perebusan tersebut membuat konsumsi air menjadi lebih rendah. Teknologi ini juga tidak menghasilkan limbah cair kelapa sawit sehingga jejak emisi karbon dari proses pengolahan dapat ditekan.
“Tidak adanya stasiun perebusan membuat pabrik ini akan rendah konsumsi air dan tidak akan menghasilkan limbah cair kelapa sawit. Dengan tidak adanya limbah cair maka pabrik ini juga dapat dikatakan sebagai pabrik rendah emisi karbon,” kata Petrus.
Tak hanya menawarkan efisiensi dalam proses produksi, Petrus mengatakan minyak sawit yang dihasilkan melalui teknologi SPOT juga memiliki kandungan nutrisi seperti Vitamin A, Vitamin E, dan antioksidan.
Potensi tersebut dinilai dapat mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi masyarakat, termasuk mengurangi ketergantungan terhadap impor Vitamin A.
“Saat ini Indonesia masih mengimpor Vitamin A untuk memenuhi kebutuhan nasional. Jika minyak sawit ini dicampurkan ke dalam bumbu mie instan misalnya, maka pemenuhan kebutuhan Vitamin A dapat menjangkau ke berbagai pelosok di Indonesia,” tambahnya.
Temuan dan inovasi tersebut mendapat perhatian serius dari Menteri Rachmat Pambudy. Ia bahkan menyatakan akan memperkenalkan konsep baru mengenai minyak sawit yang dihasilkan melalui proses produksi yang lebih efisien dengan jejak lingkungan lebih rendah.
“Hari ini saya akan mendeklarasikan minyak sawit yang rendah emisi karbon, rendah konsumsi energi, dan rendah konsumsi air, serta tinggi kandungan nutrisi. Low water consumption, low energy consumption, low carbon emission, and high nutrient,” tegas Rachmat.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa arah hilirisasi sawit nasional ke depan tidak cukup hanya diukur dari kemampuan mengolah bahan baku menjadi produk bernilai tambah.
Lebih dari itu, proses produksi juga dituntut semakin efisien, hemat sumber daya, dan memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah.
Teaching Plant SPOT di INSTIPER Yogyakarta menjadi ruang pengembangan sekaligus pembelajaran teknologi pengolahan kelapa sawit melalui kolaborasi YPKPY dan PT NGE.
Keberadaan fasilitas tersebut mempertemukan aspek pendidikan, inovasi teknologi, dan kebutuhan industri dalam mendorong transformasi sektor kelapa sawit nasional.
Melalui pendekatan tersebut, hilirisasi sawit diharapkan tidak berhenti pada peningkatan nilai tambah produk. Lebih jauh, industri sawit juga diarahkan menghasilkan minyak dengan karakteristik rendah konsumsi air, rendah konsumsi energi, dan rendah emisi karbon, namun tetap memiliki kandungan nutrisi yang tinggi.
Inovasi teknologi pengolahan seperti SPOT pun berpotensi menjadi salah satu bagian dari fondasi menuju industri kelapa sawit nasional yang lebih efisien, rendah emisi, berkelanjutan, dan semakin kompetitif di pasar global.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *