
sawitsetara.co - JAKARTA — Satu pohon sawit tidak hanya menghasilkan minyak. Hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Konsep tersebut menjadi dasar pendekatan zero waste dalam industri kelapa sawit. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyebut seluruh biomassa dari perkebunan hingga pabrik dapat didaur ulang menjadi berbagai produk.
Dari satu ton tandan buah segar (TBS), sekitar 22 persen menjadi CPO dan PKO. Sebanyak 78 persen lainnya merupakan biomassa yang terdiri atas tandan kosong, cangkang, pelepah dan bagian tanaman lainnya.
GAPKI menggambarkan aliran pemanfaatan biomassa sawit dalam sebuah diagram pada halaman kedua dokumennya. Dari satu ton TBS, sekitar 23 persen berupa tandan kosong, 5-7 persen cangkang, sementara bagian pelepah dan batang juga dapat diolah menjadi berbagai produk.
Cangkang menjadi energi hingga karbon aktif
Cangkang merupakan salah satu biomassa yang paling mudah dimanfaatkan. Dari setiap ton TBS, sekitar 50-70 kilogram cangkang dapat dihasilkan.
Cangang dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler maupun pembangkit listrik biomassa. Nilai kalorinya mencapai sekitar 4.000-4.500 kilokalori per kilogram.
GAPKI juga mencatat satu ton cangkang berpotensi menghasilkan 800-1.000 kilowatt-jam listrik. Selain energi, cangkang dapat digunakan sebagai pengganti kerikil dalam beton, karbon aktif untuk penyaringan air dan kebutuhan industri, hingga bahan penelitian untuk elektroda baterai lithium-ion.
TKKS masuk ke industri biorefinery
Tandan kosong kelapa sawit atau TKKS merupakan salah satu biomassa terbesar dari proses pengolahan TBS. Jumlahnya sekitar 230 kilogram untuk setiap ton TBS.
Pemanfaatan paling sederhana adalah mengembalikannya ke kebun sebagai mulsa atau mengolahnya menjadi kompos. Namun, TKKS juga dapat masuk ke industri berbasis teknologi.
GAPKI menyebut TKKS berpotensi menghasilkan bioetanol sebanyak 150-200 liter per ton TKKS kering. Biomassa tersebut juga dapat diproses menjadi bio-crude oil melalui pirolisis dengan rendemen 35-45 persen serta biogas dengan potensi 200-300 meter kubik per ton TKKS.
Dalam skema cascade biorefinery yang ditampilkan pada dokumen GAPKI, TKKS dapat melalui proses ekstraksi selulosa untuk menghasilkan pulp, hemiselulosa dan xylitol. Produk turunannya kemudian dapat diarahkan menjadi kertas, pemanis alami, biopolimer, resin dan berbagai material lainnya.
Pendekatan tersebut mengubah posisi TKKS dari sekadar limbah menjadi bahan baku industri.
Pelepah bisa menjadi pakan dan produk UMKM
Pelepah juga memiliki potensi besar. Dalam satu hektare perkebunan, sekitar 2.800-3.600 pelepah dapat dihasilkan setiap tahun atau setara dengan sekitar 25-30 ton biomassa.
Pelepah dapat dikembalikan ke lahan sebagai mulsa. Namun, material tersebut juga dapat diolah menjadi briket dengan nilai kalor sekitar 3.500-4.000 kilokalori per kilogram.
Selain energi, pelepah dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak setelah melalui proses fermentasi. Dalam dokumen GAPKI disebutkan, proses tersebut berpotensi meningkatkan kadar protein kasar dari 4 persen menjadi 12 persen.
Pelepah juga dapat digunakan untuk membuat tas, topi dan produk dekorasi berbasis anyaman serta particleboard untuk kebutuhan furnitur. Pemanfaatan ini dinilai dapat membuka ruang bagi usaha mikro dan ekonomi desa.
Batang sawit bisa menggantikan kayu
Potensi berikutnya muncul ketika tanaman memasuki masa peremajaan. Batang sawit yang selama ini sering dianggap sebagai residu dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk.
Setiap siklus peremajaan sekitar 25 tahun menghasilkan 200-250 ton batang per hektare. Batang tersebut dapat digunakan untuk furnitur dan produk kayu, bahan konstruksi seperti balok, papan dan plywood, bioetanol, pulp dan kertas serta papan komposit OSB.
GAPKI menyebut Indonesia melakukan peremajaan sekitar 200.000 hektare kebun sawit per tahun. Dari kegiatan tersebut diperkirakan tersedia 40-50 juta ton batang yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif bahan kayu.
Dari limbah menuju bioekonomi
GAPKI mencatat pemanfaatan biomassa sawit dapat memberikan sejumlah dampak lingkungan dan ekonomi, antara lain mengurangi emisi gas rumah kaca, menekan limbah pabrik hingga 90 persen dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Pengembangan berikutnya bahkan diarahkan pada produk berteknologi lebih tinggi. Dokumen tersebut mencantumkan nanocellulose dari TKKS untuk material komposit dan elektronik, produksi hidrogen melalui gasifikasi biomassa, biosurfaktan dari PKO, silase pelepah berprotein tinggi serta biochar untuk penangkapan karbon dan perbaikan tanah.
Target yang dicantumkan GAPKI untuk 2030 adalah pemanfaatan 100 persen biomassa sawit, 30 persen kebutuhan energi pabrik berasal dari biomassa sendiri, serta ekspor produk turunan biomassa senilai US$2-3 miliar.
Dengan demikian, nilai ekonomi sawit tidak berhenti ketika minyak keluar dari pabrik. Buah, cangkang, tandan kosong, pelepah hingga batang memiliki jalur pemanfaatan masing-masing. Konsep zero waste membuka peluang agar industri sawit berkembang dari industri minyak menjadi bagian dari ekosistem bioekonomi yang lebih luas.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *