KONSULTASI
Logo

BRIN Kembangkan Teknologi EFB Jadi Bahan Bakar Boiler 100 Persen, Bisa Kurangi Batu Bara

22 September 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
BRIN Kembangkan Teknologi EFB Jadi Bahan Bakar Boiler 100 Persen, Bisa Kurangi Batu Bara

sawitsetara.co - Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) atau Empty Fruit Bunch (EFB) selama ini lebih banyak dipandang sebagai residu dari industri kelapa sawit. Namun, melalui kolaborasi dengan Sumitomo Heavy Industries, Ltd. (SHI), Jepang, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan teknologi yang dapat mengubah limbah tersebut menjadi bahan bakar biomassa untuk boiler.

Yang menarik, riset tersebut tidak sekadar menguji apakah TKKS bisa dibakar. BRIN bersama SHI mengembangkan teknologi terintegrasi agar EFB dapat digunakan sebagai bahan bakar 100 persen atau full firing, tanpa campuran bahan bakar fosil maupun biomassa lainnya.

Jika berhasil dikembangkan hingga skala industri, teknologi ini berpotensi membuka pemanfaatan baru bagi residu kelapa sawit sekaligus mengurangi ketergantungan boiler terhadap bahan bakar fosil, khususnya batu bara.

Kepala Pusat Riset Konversi Energi BRIN, Tata Sutardi, mengatakan pemanfaatan EFB secara langsung masih menghadapi sejumlah persoalan teknis.

EFB memiliki nilai kalor yang relatif rendah serta kadar air, alkali, dan klorin yang tinggi. Karakteristik tersebut dapat menurunkan efisiensi pembakaran dan dalam jangka panjang berpotensi mempercepat kerusakan sistem boiler.

“Setiap teknologi upgrading dapat menghasilkan karakteristik bahan bakar yang berbeda. Karena itu, selain melihat perubahan sifat bahan bakarnya, kita perlu mengevaluasi karakteristik pembakarannya untuk mengetahui kesesuaiannya dengan kebutuhan boiler,” jelas Tata dalam wawancara dengan Humas BRIN, 14 September 2026.

Lima teknologi diuji untuk “menaikkan kelas” EFB

Untuk mengatasi persoalan tersebut, BRIN mengkaji lima metode biomass fuel upgrading, yakni fuel washing, hydrothermal treatment, torrefaction, decarbonization, dan biological treatment.

Kelima pendekatan tersebut dirancang untuk mengubah karakteristik EFB agar lebih sesuai digunakan sebagai bahan bakar boiler.

apkasindo

Hasil proses upgrading menunjukkan adanya peningkatan nilai kalor sekaligus penurunan kadar air, alkali, dan klorin pada EFB.

Namun, peningkatan kualitas bahan bakar saja belum cukup. Perekayasa Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Konversi Energi BRIN, Taopik Hidayat, menjelaskan bahwa setiap bahan bakar hasil upgrading harus kembali diuji untuk mengetahui bagaimana perilakunya ketika dibakar.

Penelitian kemudian diarahkan pada pengembangan teknologi boiler dengan sistem full firing, yakni pembakaran menggunakan 100 persen EFB tanpa campuran bahan bakar fosil ataupun biomassa lainnya.

Setelah melalui proses upgrading, masing-masing jenis bahan bakar diuji pada skala laboratorium menggunakan simulator boiler tipe fluidized bed yang tersedia di KST B.J. Habibie, Serpong.

Pengujian dilakukan untuk membandingkan efektivitas masing-masing metode, tidak hanya dari sisi karakteristik pembakaran, tetapi juga dari aspek teknis dan ekonomis.

Diuji dengan perangkat khusus dari Jepang

Riset tersebut diperkuat dengan Fuel Analysis Module yang disediakan SHI. Perangkat ini terdiri atas Ashing Furnace dan Fluidizing Furnace.

Peralatan tersebut digunakan untuk mengevaluasi karakteristik pembakaran biomassa setelah melalui proses fuel upgrading. Instalasi dan commissioning perangkat dilakukan pada 11–28 Agustus 2026 di Laboratorium Energi, KST B.J. Habibie, Serpong, Banten.

Menurut Taopik, pengujian ini penting karena karakteristik EFB setelah melalui proses upgrading belum tentu menghasilkan perilaku pembakaran yang sama.

“Dengan melakukan uji pembakaran skala laboratorium menggunakan fluidized bed dari BRIN dan Fuel Analysis Module dari Sumitomo Heavy Industries, kita dapat melihat sejauh mana berbagai metode fuel upgrading dapat meningkatkan karakteristik dan kinerja EFB sebagai bahan bakar,” ujar Taopik.

apkasindo

Dari lima metode yang dikaji, BRIN dan SHI selanjutnya akan menentukan teknologi yang paling menjanjikan untuk dikembangkan lebih lanjut. Teknologi terpilih akan memasuki tahap scale-up sebelum diuji pada Circulating Fluidized Bed (CFB) Boiler Pilot Plant milik SHI di Niihama, Jepang.

Bukan sekadar membuat EFB mudah dibakar

Salah satu aspek penting dalam kolaborasi ini adalah pendekatan yang tidak berhenti pada pengembangan bahan bakar. BRIN juga terlibat dalam pengembangan desain boiler yang disesuaikan dengan karakteristik EFB hasil upgrading.

Artinya, pengembangan dilakukan dari hulu ke hilir. Mulai dari bagaimana meningkatkan kualitas EFB, bagaimana karakteristiknya saat dibakar, hingga bagaimana sistem boiler dirancang agar mampu bekerja menggunakan bahan bakar tersebut.

Pendekatan terintegrasi ini diharapkan dapat menghasilkan teknologi pemanfaatan biomassa yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri.

Bagi industri kelapa sawit, pengembangan tersebut membuka peluang baru dalam meningkatkan nilai guna TKKS yang selama ini merupakan salah satu residu utama.

EFB tidak lagi hanya dipandang sebagai sisa proses produksi, tetapi berpotensi dikembangkan menjadi sumber energi alternatif untuk kebutuhan boiler.

Pemanfaatan tersebut juga berpotensi mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, terutama batu bara, pada sistem pembangkitan panas industri.

Dibangun melalui kerja sama Indonesia–Jepang

Pengembangan teknologi EFB ini merupakan bagian dari rangkaian kolaborasi riset BRIN dan SHI di bidang teknologi rendah karbon

Kerja sama kedua pihak dimulai melalui penandatanganan Memorandum of Understanding on Research and Innovation Collaboration in Low Carbon Technology and Manufacturing pada 22 Oktober 2024.


Kolaborasi kemudian berlanjut melalui Agreement on the Development of Biomass Boilers Based on Empty Fruit Bunches (EFB) Fuel pada 26 Februari 2025. Sementara itu, penyediaan Fuel Analysis Module diperkuat melalui Agreement on Supply of Fuel Analysis Module yang ditandatangani pada 18 Mei 2026.

apkasindo

Rangkaian kerja sama tersebut menjadi fondasi pengembangan teknologi EFB, mulai dari pemilihan metode fuel upgrading, pengujian karakteristik pembakaran, hingga pengembangan sistem boiler.

Taopik mengatakan riset tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan nilai guna residu industri kelapa sawit.

Pengembangan EFB sebagai bahan bakar juga diarahkan untuk mendukung diversifikasi sumber energi dan pengembangan teknologi energi rendah karbon dalam mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia 2060.

Dengan demikian, tandan kosong kelapa sawit yang selama ini berada di sisi belakang rantai produksi sawit berpeluang memainkan peran baru: menjadi sumber energi untuk menggerakkan proses industri itu sendiri.

Tags:

BRIN

Berita Sebelumnya
Prabowo Sebut Indonesia Berhasil Olah Sawit Jadi Solar dan Bensin

Prabowo Sebut Indonesia Berhasil Olah Sawit Jadi Solar dan Bensin

Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia telah berhasil mengembangkan teknologi untuk mengolah kelapa sawit menjadi bahan bakar minyak. Menurut dia, hasil riset akademisi dalam negeri itu mencakup solar dan bensin.

21 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *