KONSULTASI
Logo

BRIN Dorong Center of Excellence Oleokimia untuk Perkuat Hilirisasi Sawit

8 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
BRIN Dorong Center of Excellence Oleokimia untuk Perkuat Hilirisasi Sawit

sawitsetara.co - JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pembentukan Center of Excellence for Oleochemicals atau CoE Oleokimia untuk mempercepat diversifikasi produk hilir kelapa sawit. Pusat unggulan ini diharapkan menjadi penghubung antara riset, pengembangan teknologi, perguruan tinggi, dan kebutuhan industri.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Sharing Session #18 Tahun 2026 bertajuk “Perluasan Diversifikasi Produk Hilir sebagai Strategi Penguatan Industri Sawit Indonesia” yang digelar Pusat Riset Teknologi Proses BRIN secara daring, Jumat (4/9/2026).

Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN Hens Saputra mengatakan pengembangan industri sawit perlu mengubah orientasi dari sekadar mengejar volume produksi menjadi penciptaan nilai tambah.

“Bukan berapa banyak sawit yang dihasilkan, tetapi penambahan nilainya. Perspektif tersebut membuka peluang untuk menempatkan sawit sebagai bagian dari ekosistem pengembangan produk dan industri berbasis inovasi. Dengan demikian, sawit berpotensi menjadi salah satu kekuatan industri masa depan Indonesia,” ujarnya.

apkasindo

Menurut Hens, sawit seharusnya tidak hanya dipandang sebagai komoditas. Karakteristik bahan baku tersebut dapat menjadi dasar untuk mengembangkan beragam produk melalui penguasaan teknologi dan inovasi.

Dalam forum tersebut, Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Proses BRIN Indra Budi Susetyo mengatakan sawit memiliki posisi strategis dalam perekonomian Indonesia. Industri ini melibatkan lebih dari 17 juta tenaga kerja secara langsung maupun tidak langsung.

Jika anggota keluarga pekerja turut diperhitungkan, dampak sektor sawit menjangkau lebih dari 50 juta masyarakat. Industri tersebut juga memiliki efek pengganda terhadap berbagai sektor ekonomi.

Besarnya kontribusi tersebut, kata Indra, perlu diikuti dengan pengembangan industri yang lebih beragam. Produksi minyak sawit tidak cukup jika sebagian besar pemanfaatannya masih terkonsentrasi pada produk primer.

“Padahal, potensi pengembangan produk berbasis sawit tidak berhenti pada sektor tersebut. Minyak sawit dapat dikembangkan lebih luas untuk berbagai kebutuhan industri, termasuk pelumas dan material berbasis polimer yang memiliki penggunaan luas,” ujarnya.

apkasindo

Indra menjelaskan karakteristik kimia minyak sawit membuka peluang untuk menghasilkan berbagai produk turunan. Saat ini, konsumsi minyak sawit masih didominasi sektor pangan dan energi.

Sementara pemanfaatan untuk oleokimia dasar, termasuk produk perawatan diri, kosmetik, dan produk industri lainnya, masih relatif kecil. Kondisi tersebut menunjukkan ruang diversifikasi hilir masih terbuka luas.

Menurut dia, tantangan berikutnya adalah menghasilkan produk inovatif dengan nilai tambah lebih tinggi. Produk tersebut harus sesuai dengan kebutuhan pasar dan mampu meningkatkan penyerapan minyak sawit.

Karena itu, pengembangan hilirisasi membutuhkan penguasaan teknologi dan riset yang mampu menjawab kebutuhan industri secara berkelanjutan.

CoE Oleokimia Jadi Penghubung Riset dan Industri

Kebutuhan tersebut mendorong Kelompok Riset 8 Teknologi Proses Produk Tanaman Industri (Industrial Crop Processing Technology) Pusat Riset Teknologi Proses BRIN mengusulkan pembentukan CoE Oleokimia.

Ketua Kelompok Riset 8, Lanjar, menyampaikan gagasan itu sebagai upaya membangun ekosistem riset dan inovasi yang lebih terintegrasi untuk mengembangkan produk hilir berbasis minyak sawit.

CoE Oleokimia diharapkan menggabungkan kompetensi peneliti, infrastruktur riset, perguruan tinggi, serta mitra industri. Dengan begitu, pengembangan teknologi oleokimia tidak berjalan secara terpisah.

Pusat unggulan tersebut juga diharapkan tidak berhenti pada riset di tingkat laboratorium. Hasil penelitian perlu diterjemahkan menjadi teknologi dan produk yang dapat digunakan industri.

Integrasi tersebut penting agar riset dapat menjawab persoalan nyata di lapangan. Kebutuhan industri dan peluang pasar menjadi bagian dari proses pengembangan sejak tahap penelitian hingga komersialisasi.

Dengan model tersebut, CoE Oleokimia dapat menjadi penghubung antara kemampuan riset dengan kebutuhan industri. Sinergi kompetensi, infrastruktur, dan pasar dinilai menjadi salah satu kunci mempercepat hilirisasi sawit.

apkasindo

Pangan Masih Punya Ruang Diversifikasi

Selain oleokimia, sektor pangan juga memiliki peluang besar untuk pengembangan produk baru.

Direktur Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia Jenny Elisabeth mengatakan lebih dari 70 persen minyak sawit secara global masih digunakan untuk produk pangan.

“Pemanfaatannya telah mencakup beragam produk, mulai dari minyak goreng, shortening, margarin, produk roti, confectionery, hingga pengganti lemak susu dan cocoa butter. Luasnya penggunaan tersebut sekaligus membuka peluang pengembangan produk baru dengan karakteristik yang semakin spesifik,” ia menjelaskan.

Menurut Jenny, kebutuhan konsumen terus berubah sehingga riset produk pangan berbasis sawit perlu mengikuti perkembangan tersebut. Produk yang dikembangkan harus efisien dari sisi biaya sekaligus memiliki karakteristik fungsional yang sesuai.

“Aspek keamanan dan kesehatan produk juga menjadi perhatian. Pengembangan teknologi perlu menjawab isu kontaminan yang menjadi perhatian konsumen serta meminimalkan penggunaan trans fat dengan memanfaatkan keunggulan lemak sawit yang secara alami bebas trans fat,” ia menambahkan.

Aspek keberlanjutan juga semakin menentukan penerimaan produk sawit di pasar global. Karena itu, inovasi tidak cukup hanya menghasilkan produk yang efisien dan memiliki fungsi tertentu.

Produk juga harus mampu menjawab tuntutan keberlanjutan yang semakin kuat di pasar internasional.

Jenny menilai penguatan teknologi dalam negeri juga diperlukan untuk meningkatkan kemandirian industri. Sejumlah proses modifikasi minyak sawit masih membutuhkan penguasaan teknologi dan bahan pembantu proses (processing aid).

Riset nasional pada bidang tersebut, kata dia, perlu terus diperkuat agar industri tidak terlalu bergantung pada teknologi dan bahan pendukung dari luar negeri.

Hilirisasi Butuh Ekosistem

Berbagai pandangan tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi sawit tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku. Pengembangan produk membutuhkan teknologi, riset, infrastruktur, sumber daya manusia, serta keterhubungan dengan industri.

“Melalui pengembangan Center of Excellence for Oleochemicals, BRIN diharapkan dapat memperkuat sinergi antara riset, pengembangan teknologi, dan industri. Pusat unggulan tersebut dapat menjadi platform kolaborasi untuk mengintegrasikan kompetensi, infrastruktur, dan jejaring riset dalam menjawab tantangan pengembangan produk oleokimia sekaligus memperluas pemanfaatan minyak sawit menjadi berbagai produk bernilai tambah,” ujarnya.

Kolaborasi BRIN, perguruan tinggi, dan dunia usaha menjadi faktor penting untuk mempercepat diversifikasi produk hilir sawit. Penguatan ekosistem riset dan inovasi diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah sawit sekaligus memperkuat daya saing industri oleokimia Indonesia.

Tags:

BRINHilirisasiHilirisasi Sawit

Berita Sebelumnya
Harga TBS Sawit Papua Periode 16–31 Agustus 2026 Ditetapkan, Tertinggi Plasma Rp3.610,57 per Kilogram

Harga TBS Sawit Papua Periode 16–31 Agustus 2026 Ditetapkan, Tertinggi Plasma Rp3.610,57 per Kilogram

Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Pertanian menetapkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit produksi pekebun mitra plasma dan mitra swadaya untuk periode 16–31 Agustus 2026.

7 September 2026Harga TBS

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *