
sawitsetara.co – JAKARTA — Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyoroti belum optimalnya keterlibatan mahasiswa penerima beasiswa SDM Sawit dalam penelitian terkait industri kelapa sawit.
Padahal, jumlah mahasiswa yang memperoleh dukungan beasiswa BPDP mencapai sekitar 11.000 orang. Mereka dinilai memiliki potensi besar untuk menghasilkan penelitian yang mendukung pengembangan sektor perkebunan.
Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, mengatakan jumlah proposal penelitian yang berasal dari mahasiswa penerima beasiswa tersebut masih relatif sedikit. Ia mengungkapkan, dari sekitar 2.000 proposal yang masuk, hanya sebagian kecil berasal dari mahasiswa penerima beasiswa BPDP.
“Jadi mestinya 11.000 mahasiswa BPDP itu banyak yang bikin penelitian tentang sawit dan sebagainya,” kata Alfansyah dalam kegiatan Sosialisasi Seleksi Lembaga Penyelenggara Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2027 di Hotel Movenpick City Centre, Jakarta, Jumat (6/11/2026).
Menurut dia, jumlah proposal penelitian dari mahasiswa penerima beasiswa seharusnya lebih besar. Sebab, mereka setiap hari mendapatkan pembelajaran mengenai industri perkebunan sawit.
“Dari 2.000 proposal yang masuk, dari mahasiswa beasiswa BPDP hanya beberapa dari itu. Mestinya banyak karena setiap hari mereka belajar tentang sawit,” ujarnya.
BPDP juga mulai memperluas dukungan pendanaan penelitian. Untuk pertama kalinya, lembaga tersebut membuka pendanaan penelitian yang berfokus pada pangan dan hilirisasi. Alfansyah menyebutkan proses pengiriman proposal final untuk program penelitian tersebut berlangsung pada hari pelaksanaan sosialisasi.
Ia menilai perguruan tinggi memiliki peluang besar menerjemahkan program-program pemerintah menjadi kegiatan penelitian dan pendampingan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Kalau dari sisi kampus, sebenarnya itu opportunity bagi kampus untuk menerjemahkan program-program, untuk membantu masyarakat, sehingga lebih bisa meningkatkan kehidupannya melalui hilirisasi perkebunan,” kata dia.
Salah satu bentuk kontribusi yang dapat dilakukan kampus adalah mendampingi kelompok tani mengembangkan produk unggulan kelapa, kelapa sawit, dan kakao. Pendampingan tersebut diharapkan mendorong petani menghasilkan produk bernilai tambah. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjual hasil perkebunan dalam bentuk bahan mentah.
Alfansyah mencontohkan potensi pengembangan produk turunan kelapa. Petani selama ini masih banyak mengandalkan penjualan kelapa utuh, padahal komoditas tersebut memiliki peluang pengolahan menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
Karena itu, ia mendorong hasil penelitian perguruan tinggi tidak berhenti pada laporan akademik. Menurut dia, hasil penelitian perlu ditindaklanjuti melalui pengembangan produk dan penerapan teknologi di tingkat industri maupun masyarakat.
BPDP, kata Alfansyah, memiliki program yang dapat mendukung proses tersebut melalui pendanaan dan fasilitasi kegiatan hilirisasi. Ia juga meminta kampus yang mengalami kendala dalam pengembangan kurikulum SDM perkebunan maupun pencarian mitra agar berkomunikasi dengan BPDP.
Selain penelitian, BPDP turut mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan perkebunan. Salah satu tantangan yang sedang dibahas bersama kementerian terkait adalah pengukuran manfaat pelatihan setelah peserta menyelesaikan program.
Alfansyah menjelaskan, evaluasi tidak cukup hanya melihat penyelesaian pelatihan selama lima hari. BPDP ingin mengetahui sejauh mana pengetahuan peserta meningkat dan berdampak terhadap produktivitas petani. “Intinya bagaimana pengetahuan dari petani ini meningkat dan pada akhirnya produktivitas meningkat,” kata Alfansyah.
Karena itu, sinergi antara BPDP, perguruan tinggi, asosiasi pendidikan, dan industri diperlukan agar penelitian serta program pengembangan SDM perkebunan memberikan hasil yang terukur.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *