
sawitsetara.co – MANOKWARI — Limbah perkebunan kelapa sawit mulai dilirik sebagai sumber pakan alternatif bagi peternak sapi. Di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, pelepah sawit diolah menjadi silase untuk mengatasi persoalan keterbatasan pakan ternak.
Inovasi tersebut diperkenalkan TEP Universitas Airlangga (UNAIR) melalui pelatihan pengolahan pelepah sawit menjadi pakan fermentasi. Program ini menyasar peternak transmigran di kawasan Prafi.
Pelatihan tersebut memberikan pengetahuan sekaligus keterampilan kepada peternak dalam memanfaatkan limbah perkebunan. Pelepah sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi cadangan pakan sapi.
Persoalan ketersediaan pakan masih menjadi tantangan bagi peternak di wilayah tersebut. Selama ini, peternak bergantung pada rumput segar yang harus dicari setiap hari untuk memenuhi kebutuhan ternak.
Kondisi tersebut membutuhkan tenaga dan waktu. Ketergantungan terhadap rumput segar juga menyulitkan peternak ketika menghadapi perubahan cuaca.
Melalui teknologi fermentasi, pelepah sawit dapat diolah menjadi silase dalam waktu 21 hari. Pakan hasil fermentasi ini dapat disimpan untuk digunakan pada saat rumput segar sulit diperoleh.
Ketersediaan cadangan pakan menjadi penting, terutama ketika hujan berlangsung berkepanjangan maupun saat musim kemarau. Dengan demikian, peternak memiliki alternatif untuk menjaga ketersediaan pakan sepanjang tahun.
Salah seorang peternak di SP4 Prafi, Misno, menyambut positif pelatihan tersebut. Ia menilai pemanfaatan pelepah sawit menjadi silase memberikan manfaat bagi keberlangsungan usaha peternakan.
“Saya senang dengan adanya program ini karena dapat memanfaatkan pelepah sawit. Menurut saya, program ini sangat bagus. Akan tetapi, untuk proses berkelanjutan, kami masih kekurangan orang-orang yang membantu dalam proses pembuatan silase,” ujar Misno dalam keterangannya belum lama ini.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penerapan inovasi di tingkat peternak masih membutuhkan dukungan lanjutan. Ketersediaan tenaga pendamping menjadi salah satu faktor penting agar pengolahan silase dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Selain membantu mengurangi ketergantungan terhadap rumput segar, pemanfaatan pelepah sawit juga berpotensi menekan biaya pemeliharaan ternak. Peternak tidak harus sepenuhnya mengandalkan aktivitas mencari rumput setiap hari.
Hilirisasi Limbah untuk Ketahanan Pangan
Pemanfaatan pelepah sawit menjadi silase juga memperlihatkan peluang integrasi sektor perkebunan dan peternakan. Limbah dari aktivitas perkebunan dapat diolah menjadi produk bernilai guna bagi subsektor peternakan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai penguatan produksi pangan nasional. Strategi tersebut mencakup peningkatan hasil produksi, perluasan lahan atau area produksi, serta hilirisasi untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
Arahan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, 24 Juni 2026.
Dukungan terhadap pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi pembangunan masyarakat juga disampaikan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiganya harus menghasilkan solusi yang dapat diterapkan secara langsung.
“Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat harus berjalan beriringan agar menghasilkan solusi nyata bagi pembangunan,” ujar AHY.
Sementara itu, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa program Transmigrasi Patriot harus menghadirkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung kepada masyarakat di kawasan transmigrasi.
“Transmigrasi Patriot bukanlah program elite. Ini cara negara memastikan ilmu pengetahuan hadir di lapangan, bekerja bersama rakyat, dan menghasilkan nilai ekonomi nyata, bukan hanya laporan akademik,” kata Iftitah.
Melalui pelatihan TEP UNAIR tersebut, pemanfaatan limbah pelepah sawit diharapkan berkembang menjadi salah satu solusi bagi persoalan pakan ternak di kawasan transmigrasi.
Lebih jauh, inovasi ini membuka peluang membangun keterkaitan ekonomi antara perkebunan kelapa sawit dan peternakan. Jika didukung pendampingan serta ketersediaan tenaga pengolah, pelepah sawit berpotensi menjadi sumber pakan alternatif yang memperkuat produktivitas dan kemandirian ekonomi peternak.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *