KONSULTASI
Logo

BPDP–ALPENBUN Kembangkan Kurikulum Sawit Berbasis SKKNI, Cetak SDM Siap Kerja untuk Industri Nasional

26 Januari 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
BPDP–ALPENBUN Kembangkan Kurikulum Sawit Berbasis SKKNI, Cetak SDM Siap Kerja untuk Industri Nasional
HOT NEWS

sawitsetara.co - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Asosiasi Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Perkebunan (ALPENBUN) memperkuat komitmen peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sawit melalui pengembangan kurikulum pendidikan tinggi berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

Langkah strategis ini ditujukan sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan Beasiswa SDM Sawit agar selaras dengan kebutuhan riil industri kelapa sawit nasional yang terus berkembang.

Pengembangan kurikulum mengacu pada SKKNI sesuai sektor dan unit kompetensi. Untuk bidang agronomi, digunakan SKKNI Nomor 237 Tahun 2019 tentang Kelapa Sawit Berkelanjutan yang dijabarkan melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 410/KPTS/SM.250/M/6/2020 mengenai jenjang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) tenaga kerja sektor pertanian bidang kelapa sawit berkelanjutan. Sementara itu, bidang pengolahan atau pabrik mengacu pada SKKNI Nomor 313 Tahun 2013 tentang kategori industri pengolahan kelapa sawit, termasuk kompetensi asisten pabrik (mill). Penyesuaian SKKNI dilakukan sesuai kebutuhan unit kompetensi lainnya.

Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, menegaskan bahwa kurikulum berbasis SKKNI merupakan kunci untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap diserap industri.

Sawit Setara Default Ad Banner

“Meskipun pengembangan kurikulum menjadi komitmen masing-masing perguruan tinggi mitra BPDP, melalui forum ini kami kembali mengingatkan pentingnya mencetak SDM sawit yang siap kerja. Kami juga mendorong kampus untuk terus berkomunikasi dengan pelaku usaha agar lulusan dapat terserap secara optimal,” ujarnya saat memberikan sambutan pada Workshop Pengembangan Kurikulum di Yogyakarta, Rabu (22/1/2026).

Saat ini, BPDP bermitra dengan 42 perguruan tinggi yang tergabung dalam ALPENBUN dan tersebar di berbagai provinsi di Indonesia sebagai penyelenggara Beasiswa SDM Sawit. Dari jumlah tersebut, sebanyak 38 perguruan tinggi berpartisipasi aktif dalam pengembangan kurikulum ini.

Dalam pelaksanaannya, peserta workshop mendapatkan pemaparan mengenai kondisi aktual dan kebutuhan SDM industri sawit dari para pakar. Selanjutnya, peserta dibagi ke dalam empat kelompok diskusi, yakni Budidaya/Agronomi, Pabrik/Pengolahan, Manajemen, dan Teknologi Informasi. Setiap kelompok merancang pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri, yang kemudian menjadi dasar perumusan kurikulum pendidikan tinggi sawit berbasis SKKNI.

Workshop ini menghadirkan narasumber dari sejumlah perguruan tinggi unggulan di bidang perkebunan, di antaranya AKPY ‘STIPER’ (Dr. Juremi Suhartono, M.Si dan Dr. Sri Gunawan, SP, MP, IPU), INSTIPER (Ir. Harsunu Purwoto), IPB (Prof. Hariyadi), serta Politeknik CWE (Ir. Nugroho, MT dan M. Hudori, ST, MT). Kegiatan juga melibatkan pelaku industri sawit, seperti BGA Group (Agus Sutrisno) dan Cargill (Bagus Setiagung).

Sawit Setara Default Ad Banner

Turut hadir perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Dr. Beny Bandanadjaja, ST, MT, serta Komite Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDMPKS) BPDP, Darmansyah Basyaruddin beserta tim.

Sekretaris ALPENBUN, Dr. Muhammad Mustangin, ST, MT, menyampaikan bahwa workshop ini merupakan langkah nyata dalam menyiapkan lulusan perguruan tinggi bidang perkebunan yang profesional dan berdaya saing.

“Kami berharap kurikulum yang dihasilkan tidak hanya memenuhi standar, tetapi juga memiliki daya guna nyata bagi industri dan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan yang mencakup tujuan, materi pembelajaran, metode, serta evaluasi sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.

Empat tujuan utama ditetapkan dalam workshop ini, yaitu mendorong terselenggaranya pendidikan tinggi sawit dengan kurikulum adaptif dan pembelajaran berkualitas, melakukan sinkronisasi kurikulum melalui pemetaan unit kompetensi berbasis SKKNI ke dalam mata kuliah dan capaian pembelajaran lulusan, melibatkan industri agar kurikulum menjawab kebutuhan pengguna lulusan, serta memastikan kepatuhan terhadap regulasi dan kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Sawit Setara Default Ad Banner

Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Ir. Baginda Siagian, turut memberikan dukungan atas pelaksanaan workshop tersebut.

“Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam mencetak SDM sawit yang berkualitas dan siap berkarier. Kurikulum adalah acuan utama dalam penyelenggaraan pendidikan yang aplikatif dan sesuai kebutuhan industri,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan industri sawit dalam 10 hingga 20 tahun ke depan sangat bergantung pada peran perguruan tinggi dalam menyiapkan SDM unggul.

“Penyelenggaraan Beasiswa SDM Sawit merupakan tanggung jawab bersama antara Direktorat Jenderal Perkebunan, BPDP, dan perguruan tinggi. Kampus memiliki peran strategis dalam membekali mahasiswa dengan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan yang relevan dengan masa depan industri sawit,” pungkasnya.


Berita Sebelumnya
Kiat Petani Sawit Kalbar Deteksi Dini Kumbang Tanduk Ganoderma di Kebun

Kiat Petani Sawit Kalbar Deteksi Dini Kumbang Tanduk Ganoderma di Kebun

Petani kelapa sawit di Kalimantan Barat (Kalbar) mulai mengandalkan cara sederhana untuk menjaga kebun mereka dari ancaman hama dan penyakit mematikan.

24 Januari 2026 | Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *