
sawitsetara.co - JAKARTA - Kebutuhan unsur hara mikro boron pada tanaman kelapa sawit masih sering terlewat dalam praktik pemupukan petani. Padahal, peran unsur ini krusial dalam proses penyerbukan yang berdampak langsung pada pembentukan tandan buah segar (TBS).
Peneliti dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Djan Muhayat, menyebutkan kadar boron ideal pada daun sawit berada di kisaran 8–15 ppm. Dalam kebutuhan tahunan, tanaman memerlukan sekitar 46 gram boron murni, atau setara 100–125 gram pupuk boron per tanaman.
Namun, di lapangan, angka tersebut kerap tidak terpenuhi. “Kalau kita lihat kondisi di lapangan, banyak petani yang sebenarnya masih kekurangan boron. Misalnya dari pemupukan NPK, kandungan boron yang diberikan belum mencukupi kebutuhan tanaman,” jelas Djan.

Ia mencontohkan penggunaan pupuk majemuk NPK dengan kandungan boron 0,5 persen. Dengan dosis 6 kg per tahun, tanaman hanya menerima sekitar 30 gram boron (dalam bentuk B2O3), masih defisit sekitar 16 gram dari kebutuhan ideal.
“Kalau dikonversi, kekurangan itu setara dengan tambahan sekitar 30–50 gram pupuk boron per tanaman. Ini bisa diberikan sebagai pupuk tunggal untuk melengkapi kekurangan,” ungkapnya.
Menurut Djan, kekurangan boron sering luput karena gejalanya tidak langsung terlihat seperti kekurangan unsur makro. Padahal, dampaknya signifikan pada proses penyerbukan.
“Ketika boron cukup, bunga betina menjadi lebih ‘harum dan menarik bagi serangga penyerbuk’. Semakin banyak serangga yang datang, maka peluang terbentuknya buah juga semakin tinggi,” jelasnya.

Ia menambahkan, produksi yang stagnan kerap disalahartikan sebagai kekurangan nitrogen atau fosfor, padahal bisa jadi disebabkan penyerbukan yang tidak maksimal akibat defisit boron.
Dalam praktik pemupukan, kondisi lahan juga menentukan strategi. Pada lahan gambut, keterbatasan fosfor menjadi persoalan tersendiri.
“Di lahan gambut, ketersediaan fosfat sering menjadi kendala. Jadi penggunaan pupuk seperti 13-6-7 masih relevan, selama kebutuhan unsur lainnya tetap terpenuhi,” jelasnya.
Djan mengibaratkan fosfor sebagai sumber energi utama tanaman. “Kalau fosfor sebagai Adenosine Triphosphate (ATP) itu tidak cukup, ibarat baterai lemah, maka proses metabolisme tanaman juga akan terganggu,” tambahnya.

Ia menekankan, selain jenis pupuk, ketepatan dosis juga menjadi kunci. Praktik pengukuran yang tidak akurat masih sering terjadi di tingkat petani.
“Kadang petani hanya pakai takaran sendok, padahal 30 gram itu tidak selalu sama. Lebih baik gunakan timbangan sederhana supaya dosisnya tepat,” katanya.
Dengan pemahaman yang lebih baik tentang kebutuhan unsur mikro seperti boron, serta penerapan pemupukan yang presisi, produktivitas sawit dinilai masih bisa ditingkatkan tanpa harus selalu menambah dosis pupuk makro.
Tags:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *