KONSULTASI
Logo

B50 dan Ancaman El Niño Diproyeksikan Menjaga Harga CPO Tetap Tinggi Sepanjang 2026

3 Agustus 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
B50 dan Ancaman El Niño Diproyeksikan Menjaga Harga CPO Tetap Tinggi Sepanjang 2026

sawitsetara.co - JAKARTA – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diperkirakan tetap bertahan pada level tinggi hingga akhir 2026. Selain meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk program mandatori biodiesel B50 di Indonesia, ancaman penurunan produksi akibat fenomena El Niño dipandang menjadi faktor yang akan menjaga ketatnya pasokan minyak sawit global.

Dilansir dari Bisnis.com, pada Bursa Malaysia, harga CPO pada Jumat (31/7/2026), tercatat mencapai 4.643 ringgit per ton. Angka tersebut menguat 15,53 persen secara year-to-date (YtD), mencerminkan optimisme pasar terhadap prospek komoditas tersebut.

Vice President Equity Research RHB Research Institute Sdn Bhd, Lee Leng Hoe, menilai pasar CPO kini memasuki fase baru. Menurut dia, pembentukan harga tidak lagi hanya bergantung pada keseimbangan permintaan dan pasokan, tetapi juga semakin dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, terutama terkait energi terbarukan.

Implementasi mandatori biodiesel B50 yang mulai berlaku di Indonesia sejak Juli 2026, kata Lee, menjadi salah satu faktor yang secara signifikan mengurangi ketersediaan pasokan CPO di pasar global.

"Mandatori B50 membutuhkan sekitar 18 juta ton CPO per tahun atau lebih dari 35% total produksi Indonesia, sehingga secara efektif memperketat pasokan global," tulis Lee Leng Hoe dalam risetnya, Jumat (31/7/2026).

apkasindo

RHB mengutip proyeksi Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang memperkirakan harga rata-rata CPO sepanjang 2026 berada pada kisaran 4.300 hingga 4.500 ringgit per ton. Dalam proyeksi tersebut, harga dinilai kecil kemungkinannya turun di bawah level psikologis 4.000 ringgit per ton dalam jangka pendek.

Selain dorongan dari kebijakan biodiesel, kondisi cuaca diperkirakan menjadi penopang harga berikutnya. MPOB memperkirakan dampak El Niño mulai terasa pada kuartal IV/2026, sehingga produksi minyak sawit Malaysia berpotensi turun sekitar 2–4 persen secara tahunan. Padahal, hingga Juni 2026, produksi minyak sawit negara tersebut masih tumbuh 0,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lee menilai sebagian besar pelaku pasar telah mengantisipasi dampak implementasi B50 maupun ancaman El Niño sepanjang tahun ini. Namun, apabila penurunan produksi mulai terlihat pada akhir 2026, harga CPO diperkirakan kembali menguat pada 2027.

RHB karena itu tetap mempertahankan rekomendasi overweight terhadap sektor perkebunan dengan asumsi harga rata-rata CPO sebesar 4.400 ringgit per ton pada 2026 dan 4.300 ringgit per ton pada 2027.

"Kami melihat risiko kenaikan (upside risk) terhadap asumsi harga 2027 mengingat dampak El Niño terhadap produksi umumnya baru terasa sekitar 12 bulan kemudian," tulis Lee.

apkasindo

Pandangan serupa disampaikan Analis Senior Fastmarkets Palm Oil Analytics, Sathia Varqa. Menurut dia, penguatan ekspor serta meningkatnya premi risiko akibat cuaca menjadi faktor utama yang menopang harga CPO dalam beberapa waktu terakhir.

Ia menambahkan, sebagian pelaku pasar juga memanfaatkan pelemahan harga sebelumnya untuk kembali melakukan pembelian sehingga ikut memberikan dukungan terhadap harga.

“Fenomena Super El Niño diperkirakan memicu kondisi cuaca yang lebih kering di Indonesia dan Malaysia sebagai dua produsen minyak sawit terbesar dunia,” tuturnya.

Apabila kondisi tersebut berlanjut, pasar memperkirakan penurunan produksi dapat memperketat pasokan global sehingga harga CPO berpotensi tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Lolita Bangun, mengatakan harga rata-rata CPO pada semester I/2026 mencapai US$1.432 per ton dan diperkirakan masih akan bertahan pada level tinggi dalam jangka pendek.

Dari sisi permintaan, implementasi mandatori B50 diperkirakan meningkatkan kebutuhan CPO domestik sekitar 1,9 juta ton dibandingkan alokasi B40 pada 2025 yang mencapai 12,7 juta ton.

"Dengan total kebutuhan CPO untuk B50 mencapai sekitar 14,6 juta ton, angka yang dinilai masih mencukupi, meskipun membawa risiko terhadap volume ekspor," tuturnya.

Di sisi produksi, pertumbuhan diperkirakan tetap terbatas di bawah 2 persen. Meski mulai ditopang oleh hasil panen dari sejumlah areal peremajaan sawit, produksi masih menghadapi tantangan cuaca akibat El Niño yang mulai berkembang sejak Mei 2026. Kondisi tersebut dinilai akan menjadi faktor penting yang menentukan arah harga CPO hingga memasuki 2027.

Tags:

CPOBerita Sawitsawit

Berita Sebelumnya
Pakistan Cetak Rekor Impor Minyak Sawit, Indonesia Tetap Jadi Pemasok Utama

Pakistan Cetak Rekor Impor Minyak Sawit, Indonesia Tetap Jadi Pemasok Utama

Pakistan mencatat rekor tertinggi impor minyak sawit sepanjang sejarah pada tahun fiskal 2025/2026 (FY26), mencerminkan semakin besarnya ketergantungan negara tersebut terhadap pasokan minyak nabati dari luar negeri. Indonesia tetap menjadi pemasok utama, memenuhi sekitar 80-90 persen kebutuhan impor minyak sawit Pakistan.

1 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *