KONSULTASI
Logo

Agus Pakpahan Usulkan “Indonesia Cooperative” Menjadi Merek Global Produk Sawit

29 Juni 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Agus Pakpahan Usulkan “Indonesia Cooperative” Menjadi Merek Global Produk Sawit

sawitsetara.co - PEKANBARU – Ekonom koperasi Prof. Agus Pakpahan mengusulkan pembangunan merek bersama “Indonesia Cooperative” sebagai identitas global bagi produk-produk hilir sawit yang dihasilkan koperasi petani. Menurut dia, Indonesia tidak cukup hanya menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia, tetapi harus mampu membangun merek yang dikenal dan dipercaya di pasar internasional.

Gagasan itu disampaikan Rektor IKOPIN University ini dalam serial Tropikanisasi–Kooperatisasi edisi 26 Juni 2026 berjudul Tetap Terperangkap atau Melompat: Tunneling Petani Kelapa Sawit Keluar dari Socio-Global Traps Menuju Indonesia Emas 2045 dengan Koperasi Kuantum Syariah.

Dalam tulisannya, Prof. Agus Pakpahan menilai selama ini posisi Indonesia di pasar global masih didominasi sebagai pemasok bahan baku. Minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diekspor ke berbagai negara untuk diolah menjadi produk bernilai tambah yang kemudian dipasarkan dengan merek perusahaan lain.

Akibatnya, menurut dia, nilai ekonomi terbesar justru dinikmati oleh pelaku industri hilir di luar negeri, sementara petani sawit Indonesia hanya memperoleh pendapatan dari penjualan tandan buah segar (TBS).

“Nilai tambah terbang ke Rotterdam, ke Mumbai, ke Guangzhou. Kita hanya kebagian remah-remah,” tulis Prof. Agus Pakpahan.

Sawit Setara Default Ad Banner

Menurut dia, kondisi tersebut tidak akan berubah apabila Indonesia terus mengandalkan ekspor bahan mentah. Karena itu, koperasi harus mulai menguasai industri hilir agar dapat memproduksi barang jadi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Prof. Agus Pakpahan mengatakan langkah berikutnya adalah membangun identitas dagang yang mampu bersaing di pasar internasional.

“Ia tidak lagi menjual CPO mentah ke pasar global. Ia menjual produk jadi: minyak goreng kemasan, margarin, sabun, kosmetik, biodiesel, oleokimia.”

Produk-produk tersebut, menurut dia, tidak hanya dipasarkan sebagai hasil industri sawit Indonesia, tetapi juga membawa identitas koperasi sebagai pemilik usaha.

Prof. Agus Pakpahan membayangkan hadirnya sebuah merek kolektif yang mewakili kualitas, keberlanjutan, dan kepemilikan bersama oleh jutaan keluarga petani. Dalam penutup serialnya, ia menggambarkan masa depan ketika “produk-produk hilir berlabel ‘Indonesia Cooperative’ memenuhi rak-rak supermarket di Dubai, Kairo, Karachi, dan Lagos.”

Menurut dia, penggunaan satu identitas nasional akan memperkuat posisi tawar koperasi Indonesia di pasar global sekaligus memperkenalkan model kepemilikan ekonomi berbasis masyarakat.

Ia menilai merek tersebut tidak hanya menjual produk, tetapi juga membawa cerita mengenai cara produk itu dihasilkan.

“Dengan memiliki seluruh rantai nilai, koperasi tidak lagi menjual CPO mentah ke pasar global. Ia menjual produk jadi.”

Sawit Setara Default Ad Banner

Prof. Agus Pakpahan mengatakan keunggulan model itu terletak pada integrasi seluruh proses produksi di dalam koperasi. Mulai dari pembiayaan anggota, pengolahan hasil panen, hilirisasi, hingga pemasaran dilakukan dalam satu ekosistem.

Menurut dia, sistem tersebut membuat nilai tambah tetap berputar di dalam komunitas petani.

“Seluruh rantai nilai—dari pembiayaan, pengolahan TBS, hilirisasi CPO, hingga pemasaran produk jadi—berada dalam satu ekosistem.”

Prof. Agus Pakpahan juga melihat peluang besar di negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Ia menilai permintaan terhadap produk halal terus meningkat dan dapat menjadi keunggulan kompetitif bagi koperasi Indonesia.

“Dan di sinilah letak keunggulan kompetitif Koperasi Kuantum Syariah: ia bukan hanya efisien secara ekonomi, tetapi juga memiliki legitimasi spiritual.”

Menurut dia, produk koperasi tidak hanya memenuhi standar halal dari sisi bahan baku, tetapi juga dibangun melalui mekanisme usaha yang mengedepankan prinsip keadilan, transparansi, dan kepemilikan bersama. “Produknya halal, prosesnya adil, kepemilikannya kolektif.”

Prof. Agus Pakpahan menyebut kombinasi tersebut dapat menjadi pembeda dibandingkan produk sejenis yang dipasarkan oleh perusahaan-perusahaan multinasional.

“Dalam dunia di mana konsumen Muslim semakin sadar akan nilai-nilai ini, Koperasi Kuantum Syariah bukan sekadar alternatif—ia adalah jawaban.”

Ia menilai pasar di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan memiliki prospek yang besar karena pertumbuhan konsumsi pangan, kosmetik, serta produk berbasis minyak nabati terus meningkat.

Karena itu, koperasi tidak cukup hanya membangun pabrik pengolahan. Menurut dia, koperasi juga harus mengembangkan kemampuan pemasaran internasional, membangun jaringan distribusi, dan mengelola merek secara profesional.

“Ia memiliki merek sendiri. Ia memiliki jaringan distribusi sendiri. Ia bernegosiasi langsung dengan pembeli di Timur Tengah, Afrika, Asia Selatan—pasar-pasar yang sangat besar dan sangat membutuhkan produk halal.”

Prof. Agus Pakpahan menilai strategi tersebut sekaligus akan mengubah posisi petani sawit dalam ekonomi global. Selama ini petani hanya menjadi pemasok bahan baku yang bergantung pada fluktuasi harga komoditas. Melalui penguasaan merek dan pasar, petani berpeluang menikmati keuntungan yang selama ini berada di hilir industri.

Menurut dia, keberhasilan strategi itu juga akan memperkuat posisi Indonesia sebagai negara produsen, bukan hanya dari sisi volume produksi, tetapi juga dari sisi nilai tambah dan penguasaan pasar.

Di bagian akhir tulisannya, Prof. Agus Pakpahan mengaitkan gagasan tersebut dengan target Indonesia Emas 2045. Ia membayangkan koperasi-koperasi sawit mampu membangun jaringan usaha internasional dengan identitas nasional yang kuat.

“Produk-produk hilir berlabel ‘Indonesia Cooperative’ yang memenuhi rak-rak supermarket di Dubai, Kairo, Karachi, dan Lagos.”

Bagi Prof. Agus Pakpahan, kehadiran merek bersama tersebut bukan sekadar strategi pemasaran. Merek itu menjadi simbol perubahan posisi jutaan petani sawit Indonesia, dari pemasok bahan mentah menjadi pemilik industri dan pelaku perdagangan global.

“Cooperative minds are quantum minds. And quantum minds know how to tunnel,” tulis Prof. Agus Pakpahan.


Berita Sebelumnya
KPPU Selidiki Dugaan Kartel Harga TBS Sawit di Pesisir Selatan, Panggil DPRD Sebagai Saksi

KPPU Selidiki Dugaan Kartel Harga TBS Sawit di Pesisir Selatan, Panggil DPRD Sebagai Saksi

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memulai penyelidikan awal atas dugaan praktik kartel dan monopsoni dalam pembelian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kebun swadaya di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

28 Juni 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *