KONSULTASI
Logo

78 Persen Biomassa Sawit Berpotensi Jadi Sumber Ekonomi Baru

1 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
78 Persen Biomassa Sawit Berpotensi Jadi Sumber Ekonomi Baru

sawitsetara.co - JAKARTA — Kelapa sawit selama ini lebih banyak dikenal sebagai tanaman penghasil minyak nabati. Namun, produksi minyak ternyata hanya menyumbang sebagian kecil dari total biomassa yang dihasilkan setiap tandan buah segar (TBS).

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat, dari setiap satu ton tandan buah segar (TBS), sekitar 22 persen dapat diekstraksi menjadi minyak nabati. Sementara 78 persen lainnya berupa biomassa yang masih memiliki nilai ekonomi.

Dalam publikasinya berjudul Zero Waste, All Parts of Oil Palm Trees Utilized, GAPKI menyebut biomassa tersebut berpotensi memiliki nilai ekonomi hingga US$150-200 per ton jika diolah menjadi produk bernilai tambah.

Potensi tersebut membuat industri sawit tidak hanya dapat dilihat sebagai industri minyak nabati. Biomassa dari perkebunan dan pabrik kelapa sawit dapat masuk ke berbagai rantai produksi, mulai dari energi, pupuk organik, bahan baku industri hingga produk bioplastik.

Konsep ini dikenal sebagai zero waste, yakni memanfaatkan seluruh biomassa sawit sehingga tidak ada bagian yang terbuang. GAPKI mengaitkannya dengan konsep ekonomi sirkular dan biorefinery, yaitu pemrosesan biomassa secara terpadu untuk menghasilkan berbagai produk hijau.

DPP

Dari satu ton TBS menjadi beragam produk

Bagian buah sawit dan inti sawit yang mencapai sekitar 22 persen dari TBS menghasilkan crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO).

Dalam dokumen tersebut, setiap ton TBS dapat menghasilkan sekitar 200-220 kilogram CPO dan 40-50 kilogram PKO. Minyak tersebut kemudian dapat diolah menjadi berbagai produk, seperti minyak goreng, margarin, shortening, sabun, sampo, kosmetik, biodiesel, asam lemak, gliserin hingga surfaktan.

Sementara itu, biomassa yang tersisa dapat dimanfaatkan melalui jalur berbeda.

Cangkang sawit, misalnya, mencapai sekitar 5-7 persen dari TBS. Setiap ton TBS dapat menghasilkan sekitar 50-70 kilogram cangkang.

GAPKI mencatat cangkang dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler karena memiliki nilai kalor sekitar 4.000-4.500 kilokalori per kilogram. Cangkang juga berpotensi digunakan untuk pembangkit listrik biomassa, agregat beton, karbon aktif hingga material elektroda baterai.

Potensi lainnya berasal dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Biomassa ini mencapai sekitar 23 persen dari TBS. Setiap ton TBS menghasilkan sekitar 230 kilogram TKKS.

TKKS dapat dikembalikan ke kebun sebagai mulsa atau diolah menjadi kompos. Pemanfaatannya disebut dapat mengurangi kebutuhan pupuk kimia hingga 30-40 persen dan meningkatkan simpanan karbon tanah hingga 15 ton CO₂e per hektare.

Namun, TKKS tidak berhenti pada sektor perkebunan. Biomassa tersebut juga berpotensi diolah menjadi bioetanol, bio-crude oil, biogas, bioplastik, pulp dan kertas, kemasan, particleboard serta MDF.

Nilai ekonominya pun dapat meningkat. GAPKI menyebut TKKS yang sebelumnya dipandang sebagai limbah dapat bernilai sekitar US$15-25 per ton jika diolah menjadi kompos dan mencapai US$150-200 per ton untuk produk seperti bioetanol dan bioplastik.

DPP

Peluang menuju industri bioekonomi

Potensi biomassa juga berasal dari pelepah dan batang sawit.

Pelepah sawit dapat dikembalikan ke tanah sebagai pupuk organik, diolah menjadi briket, pakan ternak, produk kerajinan maupun particleboard. Pemanfaatan ini sekaligus membuka peluang usaha mikro dan ekonomi berbasis desa.

Adapun batang sawit yang dihasilkan saat peremajaan tanaman dapat dimanfaatkan sebagai bahan furnitur, material konstruksi, bioetanol, pulp dan kertas serta papan komposit.

GAPKI mencatat, setiap siklus peremajaan sekitar 25 tahun menghasilkan 200-250 ton batang sawit per hektare. Dengan peremajaan sekitar 200.000 hektare per tahun, potensi batang yang dihasilkan mencapai 40-50 juta ton dan berpeluang menggantikan sebagian kebutuhan kayu dari hutan alam.

Pemanfaatan biomassa tersebut juga dinilai memberikan dampak ekonomi. GAPKI mencatat nilai tambah biomassa dapat meningkat dari hampir tidak bernilai menjadi US$100-200 per ton. Pengolahan biomassa juga disebut berpotensi menciptakan 15-20 lapangan kerja baru untuk setiap 1.000 ton TBS.

GAPKI menargetkan pada 2030 seluruh biomassa sawit dapat dimanfaatkan atau mencapai konsep zero waste. Target lainnya mencakup pemenuhan 30 persen kebutuhan energi pabrik dari biomassa sendiri dan ekspor produk berbasis biomassa senilai US$2-3 miliar.

Dengan pendekatan tersebut, industri sawit tidak lagi hanya bergantung pada penjualan minyak. Biomassa dapat menjadi sumber bahan baku baru untuk energi, pangan, material dan produk berbasis hayati.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Harga TBS Mitra Swadaya Papua Turun hingga Rp42,37 per Kilogram

Harga TBS Mitra Swadaya Papua Turun hingga Rp42,37 per Kilogram

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit produksi pekebun Mitra Swadaya di Provinsi Papua mengalami penurunan pada seluruh komposisi varietas tanaman untuk periode II September 2026.

30 September 2026Harga TBS

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *