KONSULTASI
Logo

Petani Sawit Naik Kelas: Dari Kebiasaan ke Ilmu, Produktivitas Kebun Melesat

2 April 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Petani Sawit Naik Kelas: Dari Kebiasaan ke Ilmu, Produktivitas Kebun Melesat

sawitsetara.co - Produktivitas petani kelapa sawit terus didorong naik kelas. Di tengah tantangan fluktuasi harga dan persoalan teknis di lapangan, peningkatan kapasitas petani menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan usaha kebun rakyat.

Beragam persoalan masih membayangi, mulai dari penggunaan bibit yang tidak berkualitas, kesalahan pola pemupukan, hingga serangan hama dan penyakit tanaman. Faktor-faktor ini kerap menjadi penyebab rendahnya hasil panen petani di berbagai daerah.

Namun, perubahan mulai terlihat. Di Desa Suak Putat, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, petani kini mulai beralih ke praktik yang lebih terstruktur dan berbasis pengetahuan.

Maijan, salah satu petani setempat, mengaku mengalami perubahan signifikan dalam mengelola kebunnya setelah mengikuti pelatihan Petani Berkualitas dan Sejahtera (Perkasa) yang diinisiasi oleh PT Triputra Agro Persada Tbk.

Sawit Setara Default Ad Banner

Melalui pelatihan tersebut, petani dibekali pemahaman agronomi yang komprehensif, mulai dari pemilihan jenis pupuk, penentuan dosis, hingga waktu aplikasi yang tepat. Hal ini menjadi titik balik bagi Maijan yang sebelumnya hanya mengandalkan kebiasaan turun-temurun.

“Dulu saya pikir memupuk itu tinggal tabur saja. Ternyata cara kita memupuk sangat menentukan kesehatan tanaman. Setelah ikut pelatihan, saya jadi paham dan hasilnya mulai terasa,” ujarnya.

Pengalaman serupa juga dirasakan Durham, petani asal Desa Muara Pias, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Ia mengaku selama ini menghadapi berbagai kendala, mulai dari bibit yang tidak sesuai harapan hingga tanaman yang tidak berbuah tanpa sebab yang jelas.

“Dulu kami hanya bekerja berdasarkan kebiasaan. Sekarang kami mulai paham sistem budidaya yang benar, jadi bisa memperbaiki pengelolaan kebun,” kata Durham.

Program Perkasa sendiri dirancang dengan pendekatan praktis, menggabungkan 40 persen teori dan 60 persen praktik lapangan selama tiga hari intensif. Metode ini membuat petani tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu langsung menerapkannya di kebun masing-masing.

Sawit Setara Default Ad Banner

Tak berhenti di pelatihan, pendampingan berkelanjutan juga dilakukan untuk memastikan ilmu yang diperoleh benar-benar diimplementasikan. Monitoring rutin menjadi kunci agar perubahan yang terjadi tidak bersifat sementara, melainkan menjadi standar baru dalam pengelolaan kebun.

Bagi para peserta, dampaknya mulai terasa. Feidy Rogi, petani dari Kutai Barat, menyebut materi pelatihan membantu membuka wawasan baru dalam mengelola kebun secara lebih efektif dan efisien.

“Selama ini kami belajar otodidak, hasilnya tidak maksimal. Sekarang kami punya panduan yang jelas untuk meningkatkan produksi,” ungkapnya.

Program ini sejalan dengan filosofi yang diusung pendiri perusahaan, bahwa bisnis harus tumbuh bersama masyarakat. Melalui peningkatan kapasitas petani, produktivitas kebun rakyat diharapkan meningkat, sekaligus mendorong kesejahteraan yang berkelanjutan.

Transformasi pun mulai terlihat. Dari sekadar bertani berdasarkan kebiasaan, petani kini beralih menjadi pelaku usaha yang terampil, adaptif, dan berbasis pengetahuan.

Ketika ilmu bertemu dengan kemauan belajar, kebun rakyat bukan lagi sekadar sumber penghidupan—melainkan fondasi masa depan yang lebih sejahtera.


Berita Sebelumnya
Biomassa Sawit RI Tembus Jepang, Ekspor PKS Tembus 5 Juta Ton per Tahun

Biomassa Sawit RI Tembus Jepang, Ekspor PKS Tembus 5 Juta Ton per Tahun

Produk seperti Palm Kernel Shell (PKS) atau cangkang sawit bahkan telah mencatat ekspor lebih dari 5 juta ton per tahun ke Negeri Sakura.

1 April 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *