
sawitsetara.co - JAKARTA - Dalam logika ekonomi konvensional, khususnya teori harga dan investasi neoklasik, ekspansi produksi dan perluasan lahan seharusnya mengikuti sinyal harga. Ketika harga riil suatu komoditas menunjukkan tren penurunan jangka panjang, investasi baru mestinya tertahan, risiko meningkat, dan ekspansi melambat atau bahkan berhenti.
Namun sejarah perkelapasawitan Indonesia justru memperlihatkan paradoks yang tajam. Luas areal perkebunan kelapa sawit tumbuh hampir eksponensial, sementara harga riil minyak sawit di pasar internasional menunjukkan kecenderungan menurun secara sekuler. Fenomena ini bukan penyimpangan sementara, melainkan pola struktural yang berulang lintas dekade.
Paradoks ini tidak dapat dijelaskan dengan teori ekonomi komoditas semata. Esai ini berargumen bahwa motor utama ekspansi sawit bukan lagi profitability from production, melainkan profitability from asset and capital expansion—yang dimediasi oleh Hak Guna Usaha (HGU), difasilitasi oleh kebijakan negara, dan diperkuat oleh sistem keuangan.
Dalam transformasi ini, sawit bergeser dari sektor produksi komoditas menjadi platform finansialisasi ruang agraria, dengan implikasi langsung terhadap kegagalan industrialisasi dan munculnya deindustrialisasi struktural.

Tren 100 Tahun Harga Riil Minyak Sawit: Fakta Historis

Gambar 1. Tren Jangka Panjang Harga Riil Minyak Sawit Dunia (Indeks 1900 = 100). Sumber: Our World in Data; Jacks, D.S. (2019), Cliometrica. (
Data historis selama lebih dari satu abad menunjukkan pola khas komoditas primer tropis: volatilitas siklikal jangka pendek yang tajam, tetapi dengan tren penurunan sekuler harga riil. Lonjakan harga pada periode-periode tertentu—perang dunia, krisis energi, maupun boom biofuel—bersifat sementara dan selalu diikuti koreksi menuju tingkat harga riil yang lebih rendah.
Dalam horizon lebih dari seratus tahun, posisi harga riil minyak sawit hari ini berada jauh di bawah indeks awal abad ke-20. Artinya, meskipun harga nominal kerap tampak tinggi, nilai riil dan daya beli minyak sawit terus tererosi. Minyak sawit dengan demikian berbagi nasib struktural yang sama dengan kopi, gula, dan komoditas primer tropis lainnya: terjebak dalam penurunan terms of trade jangka panjang.
Jika ekspansi sawit didorong oleh logika keuntungan produksi semata, tren ini seharusnya menjadi sinyal rem yang kuat. Namun realitas memperlihatkan sebaliknya. Ekspansi justru paling agresif terjadi ketika harga riil tidak meningkat. Divergensi inilah yang menuntut penjelasan struktural yang melampaui ekonomi harga.
Dari Price Index ke Profitability Index: Pergeseran Logika Akumulasi
Perbedaan arah antara penurunan price index minyak sawit dan lonjakan ekspansi lahan menandai pergeseran fundamental dalam logika akumulasi. Dalam perkelapasawitan kontemporer, harga produk tidak lagi menjadi variabel penentu utama keputusan ekspansi. Yang menentukan justru kapasitas perusahaan mengkapitalisasi tanah sebagai aset finansial.
Dengan demikian, analisis yang hanya bertumpu pada margin produksi dan arus pendapatan penjualan CPO menjadi tidak memadai. Diperlukan ukuran analitis lain, yakni profitability index berbasis aset agraria, yang menangkap:
▪︎ kenaikan nilai lahan (land value),
penangkapan sewa ekonomi (land rent), dan
▪︎ kemampuan mengonversi hak atas tanah menjadi sumber daya finansial.
Di sinilah terjadi pemisahan struktural antara rezim produksi dan rezim akumulasi modal.

Gambar 2. Divergensi Price Index Minyak Sawit dan Profitability Index Berbasis HGU.
Gambar 1 dan Gambar 2 di atas memperlihatkan dua kurva yang bergerak berlawanan arah: price index produk yang menurun (Gambar 1) dan profitability index berbasis HGU yang meningkat (Gambar 2). Divergensi inilah kunci rasionalitas finansial ekspansi lahan.

Pergeseran Spasial: Dari Sumatra ke Kalimantan sebagai Frontier Finansial
Pergeseran episentrum ekspansi sawit dari Sumatera ke Kalimantan memperjelas perubahan logika tersebut. Kalimantan menyediakan kombinasi yang hampir ideal bagi finansialisasi agraria:
▪︎ ketersediaan lahan luas,
▪︎ nilai awal tanah yang sangat rendah, dan
▪︎ ekspektasi kuat kenaikan nilai tanah di masa depan.
Ekspansi di wilayah ini tidak terutama ditujukan untuk memaksimalkan produktivitas sawit per hektar, melainkan untuk mengamankan dan mengunci lahan sebagai basis aset jangka panjang. Dengan kata lain, yang diekspansi bukan semata kebun, melainkan landbank—yang kemudian menjadi fondasi ekspansi modal lintas waktu.
Land Value, Land Rent, dan HGU sebagai Mesin Finansial
Hak Guna Usaha merupakan simpul kunci yang memungkinkan transformasi sawit menjadi mesin akumulasi finansial. HGU diperoleh dengan biaya fiskal relatif rendah—melalui BPHTB sekitar lima persen dari NJOP tanah—yang di wilayah pedalaman historisnya sangat murah. Namun begitu status hukum HGU dikantongi, tanah tersebut mengalami lonjakan nilai ekonomi yang drastis.
Kenaikan land value ini menghasilkan land rent yang seluruhnya ditangkap oleh pemegang HGU. Yang penting, land rent ini tidak harus direalisasikan melalui peningkatan produksi atau kenaikan harga CPO. Ia cukup direalisasikan melalui revaluasi aset, yang kemudian menjadi dasar bagi:
- Peningkatan valuasi perusahaan,
- Kenaikan harga saham,
- Serta akses pembiayaan perbankan karena HGU berfungsi sebagai kolateral yang bankable.
Pada titik ini, tanah sepenuhnya bertransformasi dari faktor produksi agraria menjadi financial capital. Risiko harga komoditas dialihkan ke pasar global, sementara keuntungan akumulasi diamankan melalui aset domestik yang dilindungi negara.

Negara, Kredit, dan Dimensi Waktu Ekspansi
Di sinilah elemen yang sering luput: peran negara dan sistem keuangan dalam mengelola risiko dan waktu. Negara menyediakan kepastian hukum HGU jangka panjang, sementara perbankan dan pasar modal menyediakan likuiditas berbasis kolateral tanah. Kombinasi ini memungkinkan perusahaan:
▪︎ memonetisasi masa depan (future land value),
▪︎ mendanai ekspansi hari ini dengan kredit,
dan
▪︎ mengulangi siklus tersebut secara kumulatif.
Karena setiap tambahan HGU memperbesar basis aset dan kapasitas kredit, ekspansi lahan bersifat self-reinforcing. Inilah sebabnya pertumbuhan areal tampak hampir eksponensial, meskipun harga riil produk stagnan atau menurun.
Ekspansi Modal dan Deindustrialisasi
Konsekuensi struktural dari mekanisme ini adalah terputusnya hubungan antara ekspansi sawit dan industrialisasi nasional. Meskipun lahan meluas dan aset meningkat, industri pengolahan bernilai tambah tinggi tidak berkembang sepadan. Forward linkages lemah, penyerapan tenaga kerja manufaktur terbatas, dan basis industri nasional tidak menguat.
Sawit berfungsi sebagai mesin ekstraksi dan ekspansi modal, bukan sebagai lokomotif transformasi struktural. Modal tumbuh, tetapi industri stagnan. Inilah jalur senyap namun sistemik menuju deindustrialisasi prematur.
Penutup: Rasional secara Finansial, Keliru secara Struktural
Dari keseluruhan analisis ini, menjadi jelas bahwa ekspansi lahan perkebunan kelapa sawit dalam rezim harga riil yang menurun bukanlah anomali ekonomi. Ia sepenuhnya rasional secara finansial, karena ditopang oleh mekanisme kapitalisasi aset melalui HGU, dukungan kebijakan negara, dan sistem kredit—bukan oleh keuntungan produksi minyak sawit itu sendiri.
Namun rasionalitas finansial ini memiliki biaya struktural yang besar: konsentrasi lahan, bias kebijakan agraria, mandeknya industrialisasi, dan reproduksi ekonomi dualistik. Sawit tumbuh sebagai platform finansialisasi ruang, tetapi gagal menjadi fondasi kedaulatan industri dan ekonomi nasional.
Pertanyaan mendasar yang tersisa bukan lagi mengapa ekspansi sawit terus terjadi, melainkan:
sampai kapan Indonesia akan membiarkan ruang agrarianya berfungsi terutama sebagai instrumen ekspansi modal, bukan sebagai landasan transformasi ekonomi dan peradaban?
Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan apakah perkelapasawitan Indonesia menjadi pijakan pembangunan berkelanjutan—atau sekadar mengulang siklus klasik komoditas primer: tumbuh besar, lalu gugur.
*Penulis adalah Prof. Dr. Ir. Agus Pakpahan, Ph.D., Rektor IKOPIN University sejak 29 Mei 2023 untuk periode 2023–2027. Ia dikenal sebagai ekonom pertanian yang menaruh perhatian pada penguatan ekosistem perkoperasian dan tata kelola kebijakan publik.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *