KONSULTASI
Logo

Wamenperin Soroti Produktivitas Sawit RI, Hilirisasi Produk Turunan Belum Optimal

14 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Wamenperin Soroti Produktivitas Sawit RI, Hilirisasi Produk Turunan Belum Optimal

sawitsetara.co - JAKARTA — Indonesia memiliki perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia. Namun, keunggulan bahan baku tersebut belum sepenuhnya diikuti produktivitas industri dan pengembangan produk turunannya.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menilai hilirisasi kelapa sawit nasional masih berjalan lambat. Kondisi itu membuatnya gelisah, terutama ketika membandingkan efisiensi industri sawit Indonesia dengan Malaysia.

Faisol mengatakan Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan industri turunan sawit. Namun, pemanfaatan potensi tersebut dinilai belum maksimal.

“Saya gelisah sekarang, mungkin saya harus minta bantuan kepada Pak Menteri Saleh Husin yang sudah menangani Kementerian Perindustrian selama beberapa waktu yang lalu soal sawit, karena hilirisasi sawit ini kelihatannya agak mandek gitu ya,” ujar Faisol.

Pernyataan itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi dan Lingkungan Hidup Kadin Indonesia 2026 di The Langham, Jakarta Selatan, Selasa (13/10/2026).

Faisol juga menyoroti persoalan produksi fatty alcohol yang tengah menghadapi kendala ekspor ke Amerika Serikat. Di tengah persoalan tersebut, ia menilai produktivitas industri sawit Malaysia justru lebih efisien dan tinggidibandingkan Indonesia.

“Produksi fatty alcohol kita lagi ada masalah dengan ekspor ke AS. Tetapi dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, misalnya produktivitas mereka jauh lebih efisien dan tinggi dibandingkan kita, padahal kita punya sawit seperti tadi Pak Boby sudah sebutkan nomor satu di dunia,” katanya.

apkasindo

Menurut Faisol, kondisi tersebut menunjukkan besarnya potensi sawit belum otomatis menghasilkan daya saing industri yang lebih kuat. Indonesia perlu mempercepat pengembangan industri pengolahan agar keunggulan bahan baku memberikan nilai tambah lebih besar.

Potensi Produk Turunan Masih Terbuka

Faisol menyebut Indonesia masih memiliki banyak peluang untuk memperluas portofolio produk turunan kelapa sawit. Beberapa produk yang dinilainya perlu dikembangkan ialah gliserin, surfaktan, dan karoten.

Produk-produk tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan sawit di luar produk yang selama ini mendominasi industri. Pengembangan industri turunan juga menjadi peluang untuk meningkatkan nilai tambah bahan baku di dalam negeri.

“Kita masih punya apa, perluasan seperti gliserin kemudian kita juga memerlukan surfaktan, kita memerlukan karoten, dan macam-macam ya sebenarnya dari sawit luar biasa. Tetapi, kita hanya atau baru menyaksikan B50 sekarang setelah bertahun-tahun,” ujar Faisol.

Ia menilai pengembangan hilirisasi sawit tidak seharusnya berhenti pada pemanfaatan minyak sawit untuk kebutuhan biodiesel. Indonesia perlu mengoptimalkan peluang pengembangan berbagai produk turunan yang memiliki nilai ekonomi.

Penerapan B50 menjadi salah satu bentuk pemanfaatan sawit untuk kebutuhan energi. Namun, menurut Faisol, pengembangan produk turunan lainnya juga perlu mendapat perhatian agar potensi industri sawit semakin luas.

apkasindo

Kadin Diminta Jadikan Hilirisasi Sawit Prioritas

Faisol mendorong Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menjadikan hilirisasi kelapa sawit sebagai agenda prioritas. Keterlibatan dunia usaha dinilai penting untuk mengoptimalkan potensi industri yang bahan bakunya tersedia di dalam negeri.

Ia berharap pemerintah dan pelaku usaha dapat bekerja sama mempercepat pengembangan subsektor tersebut. Kolaborasi itu diharapkan mendorong hilirisasi sawit menjadi lebih optimal dan memberikan hasil yang lebih besar bagi perekonomian.

“Nah, kalau ini juga bisa jadi agenda yang prioritas di Kadin, saya kira kita bisa bersama-sama menjadikan subsektor menjadi salah satu hilirisasi yang optimal dan lebih sukses. Karena sebenarnya semua bahan mentahnya ada di dalam negeri,” tutur Faisol.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tantangan hilirisasi sawit bukan semata-mata ketersediaan bahan baku. Indonesia juga perlu memperkuat produktivitas, efisiensi, dan pengembangan industri pengolahan untuk meningkatkan daya saing produk turunannya di pasar global.

Tags:

Hilirisasi Sawit

Berita Sebelumnya
sawitsetara Audiensi dengan Wamenaker, Bahas SETARACITA  dan Job Fair 2026

sawitsetara Audiensi dengan Wamenaker, Bahas SETARACITA dan Job Fair 2026

sawitsetara.co beraudiensi dengan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor di Gedung Kementerian Ketenagakerjaan RI, Selasa (13/10/2026). Pertemuan ini membahas kolaborasi Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) terhadap penyelenggaraan SETARACITA dan job fair 2026.

13 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *