KONSULTASI
Logo

Saham Emiten Sawit Naik, Pengamat: Jangan Kaitkan Langsung dengan Karhutla

26 Agustus 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Saham Emiten Sawit Naik, Pengamat: Jangan Kaitkan Langsung dengan Karhutla

sawitsetara.co - MALANG — Penguatan saham sejumlah perusahaan berbasis kelapa sawit ketika kebakaran hutan dan lahan atau karhutla melanda sejumlah wilayah Kalimantan tidak bisa langsung dihubungkan dengan peristiwa kebakaran. Pergerakan saham emiten perkebunan dipengaruhi banyak faktor, dari harga crude palm oil (CPO), sentimen pasar global, prospek industri, kebijakan pemerintah hingga ekspektasi investor terhadap kinerja perusahaan.

Pengamat pasar saham Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Venus Kusumawardana, S.E., M.M., mengatakan investor tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan peristiwa yang sedang berlangsung. Pelaku pasar, kata dia, juga menghitung potensi imbal hasil perusahaan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

“Jangan langsung menyimpulkan bahwa naiknya saham ini gara-gara kebakaran. Naiknya saham itu banyak faktor,” ujar Venus pada Sabtu (22/8/2026).

DPP

Dosen Perbankan & Keuangan Fakultas Vokasi UMM itu mengatakan harga CPO global menjadi salah satu faktor penting dalam pergerakan saham emiten sawit. Gangguan terhadap rantai produksi dan pasokan dapat mendorong harga CPO. Situasi tersebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi perusahaan yang memiliki kapasitas produksi serta sumber pasokan yang kuat dan tersebar.

Namun, karhutla tidak otomatis menguntungkan perusahaan sawit. Jika api justru masuk ke area perkebunan milik emiten dan mengganggu kegiatan operasional, dampaknya dapat berbalik menjadi negatif karena meningkatkan risiko kerugian perusahaan.

“Kalau kebakaran ini kemudian merambah ke lahan perusahaan, artinya perusahaan juga terdampak dan mengalami kerugian. Otomatis kalau perusahaan mengalami kerugian, dampaknya bisa negatif,” kata Venus.

Karena itu, investor perlu melihat lokasi aset dan perkebunan setiap emiten. Perusahaan dengan wilayah produksi yang tersebar di berbagai daerah dinilai mempunyai kemampuan lebih besar untuk mengompensasi gangguan produksi di satu wilayah dengan hasil panen dari wilayah lainnya.

Menurut Venus, penguatan saham sawit juga perlu dilihat dari prospek industri secara keseluruhan. Salah satu sentimen yang dinilai penting adalah kebijakan pemerintah di sektor energi hijau, termasuk percepatan bauran biodiesel B50.

Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan serapan CPO di pasar domestik dalam jumlah besar. Ekspektasi terhadap meningkatnya permintaan CPO itu kemudian dapat menjadi salah satu alasan investor melihat prospek emiten sawit secara positif.

“Di mana ada harapan dan sesuatu yang menguntungkan, biasanya investor akan berlomba-lomba masuk. Tetapi harus dilihat juga, kenaikannya ini untuk jangka pendek, menengah, atau panjang,” tuturnya.

DPP

Faktor eksternal juga tidak bisa diabaikan. Sebagai komoditas yang diperdagangkan di pasar internasional, harga CPO turut dipengaruhi sentimen komoditas global dan kondisi pasar keuangan dunia. Perubahan ekspektasi terhadap perekonomian global dapat memengaruhi keputusan investor terhadap saham perusahaan perkebunan.

Venus mencontohkan pergerakan saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Saham emiten tersebut berada di kisaran Rp5.875 pada akhir Juni 2026 dan kemudian naik menjadi sekitar Rp7.338. Saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) juga mencatat penguatan setelah sebelumnya bergerak fluktuatif.

Pergerakan tersebut, menurut Venus, memperlihatkan bahwa penguatan saham sawit tidak tepat dibaca sebagai reaksi terhadap satu peristiwa, termasuk karhutla. Setiap pelaku pasar memiliki strategi dan horizon investasi yang berbeda.

Trader, misalnya, cenderung memanfaatkan momentum sentimen jangka pendek untuk meraih gain. Adapun investor jangka menengah dan panjang lebih banyak mempertimbangkan fundamental perusahaan, tata kelola, serta prospek bisnis.

“Jangan panik, tetapi tetap diwaspadai apakah dampak tersebut berhubungan langsung dengan perusahaan atau saham yang dimiliki masyarakat,” ujarnya.

Dengan demikian, karhutla di Kalimantan bukan faktor tunggal yang dapat menjelaskan penguatan saham perusahaan sawit. Investor tetap perlu melihat pergerakan harga CPO, laporan kinerja emiten, sebaran aset dan lokasi produksi, kebijakan pemerintah, serta kondisi pasar global sebelum menentukan keputusan investasi.

Penguatan saham sawit di tengah karhutla, dengan demikian, lebih tepat dibaca sebagai hasil interaksi berbagai sentimen pasar. Bukan semata-mata karena kebakaran hutan dan lahan.

Tags:

Berita SawitLahan Sawit

Berita Sebelumnya
Dana Sawit Tembus Rp27,81 Triliun hingga Juli 2026, Naik 73,3 Persen

Dana Sawit Tembus Rp27,81 Triliun hingga Juli 2026, Naik 73,3 Persen

Penerimaan dari pungutan ekspor sektor kelapa sawit melonjak sepanjang paruh pertama 2026. Hingga akhir Juli, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mencatat dana yang dihimpun mencapai Rp27,81 triliun.

25 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *