KONSULTASI
Logo

Prabowo Soroti Selisih Harga CPO Domestik dan Dunia, APKASINDO Ungkap Penyebab Kesenjangan

22 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Prabowo Soroti Selisih Harga CPO Domestik dan Dunia, APKASINDO Ungkap Penyebab Kesenjangan

sawitsetara.co - JAKARTA — Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO, merespons pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai kesenjangan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia dengan harga di pasar internasional.

Dalam Sidang Kabinet Paripurna, Presiden Prabowo menyoroti perbedaan harga CPO Indonesia dengan harga di Rotterdam yang mencapai hampir 50 persen. Menurut Prabowo, harga CPO Indonesia berada di kisaran Rp14.000-Rp17.000 per kilogram, sedangkan harga internasional mencapai sekitar Rp28.000 per kilogram.

“Siapa yang nikmati 13.000, hampir 50%. Jadi permainan seperti inilah yang menusuk hati kita,” kata Prabowo, Senin (20/7/2026).

Lantas mengapa ada kesenjangan harga yang begitu besar antara harga CPO Indonesia dengan CPO dunia?

Apj

Dr. Gulat menjelaskan, harga CPO Indonesia terbentuk melalui tender di Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN). Namun, harga akhir tender tersebut sangat bergantung pada penawaran pembeli CPO. Kondisi inilah yang menyebabkan harga CPO domestik tertahan, dan tertinggal jauh dari harga dunia.

“Harga CPO kita tertahan oleh penawaran tender. Misalnya KPBN membuka harga Rp15.800 per kilogram, tetapi pembeli hanya menawar Rp15.600 per kilogram, maka harga yang terbentuk tetap Rp15.600. Mekanisme inilah yang membuat harga CPO domestik sulit bergerak lebih tinggi,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).

Karena itu, Dr. Gulat meminta pemerintah mencermati lebih dalam mekanisme pembentukan harga CPO domestik dan kesenjangan harga dengan pasar internasional. Sebab, persoalan tersebut memiliki dampak langsung terhadap harga TBS dan kesejahteraan jutaan petani sawit.

Apj

Seperti diketahui, harga CPO merupakan salah satu pembentuk harga TBS. Semakin tinggi harga CPO, maka harga TBS juga ikut terdongkrak. Karena itu, Dr. Gulat mengimbau petani untuk terus mencermati hasil tender KPBN sebagai salah satu indikator pergerakan harga CPO nasional.

Selama harga tender belum meningkat, kenaikan harga TBS diperkirakan masih berlangsung secara bertahap meskipun implementasi B50 per 1 Juli lalu bakal meningkatkan kebutuhan CPO di dalam negeri. Meski demikian, Dr. Gulat tetap optimistis dampak positif B50 akan semakin terasa seiring meningkatnya serapan CPO domestik dan membaiknya kondisi pasar.

Dr. Gulat juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo yang dinilai terus mendengarkan aspirasi petani sawit. Ia berharap pernyataan Presiden Prabowo mengenai kesenjangan harga CPO menjadi perhatian bagi para pelaku perdagangan CPO di dalam negeri, termasuk dalam mekanisme tender KPBN.

“Terima kasih kami sampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto yang selalu mendengar curahan hati petani sawit, melalui laporan langsung maupun melalui media sosial. Semoga ini menjadi cermin pada penawar CPO di KPBN supaya segera naik, rebound harga CPO KPBN, dan terdongkraklah harga TBS petani. Multiplier effect sawit sangat besar. Mari kita dukung cita-cita Bapak Presiden menuju pertumbuhan ekonomi 8 persen,” kata Dr. Gulat.

Tags:

Beasiswa Sawit

Berita Sebelumnya
Harga TBS Sawit Plasma Papua Barat Juli 2026 Capai Rp3.128 per Kilogram

Harga TBS Sawit Plasma Papua Barat Juli 2026 Capai Rp3.128 per Kilogram

Pemerintah Provinsi Papua Barat menetapkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani plasma untuk wilayah Papua Barat dan Papua Barat Daya pada Juli 2026.

21 Juli 2026Harga TBS

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *