
sawitsetara.co - Sekretaris Jenderal DPP APKASINDO, Dr Rino Afrino, mengingatkan pemerintah agar memperhatikan dampak turunan dari kebijakan tata kelola sawit yang baru saja diumumkan Presiden Prabowo baru baru ini . Menurutnya, kebijakan yang bertujuan baik tersebut, tetap harus diiringi antisipasi terhadap dampak yang dirasakan langsung oleh petani kelapa sawit.
Rino menyoroti terjadinya penurunan harga rujukan crude palm oil (CPO) domestik dalam beberapa hari terakhir pasca pidato Bapak Presiden yang dinilai berdampak langsung terhadap turun tajamnya harga tandan buah segar (TBS) petani.
“Kami dari petani kelapa sawit ingin mengingatkan bahwa kebijakan yang baik tentu harus mempertimbangkan dampak ikutannya. Saat ini yang kami lihat tiba-tiba harga rujukan CPO dalam negeri jatuh. Kalau harga rujukan CPO domestik jatuh, otomatis harga TBS petani juga jatuh,” ujar Rino di sela kegiatan muswil DPW Apkasindo Bangka Belitung.
Ia menilai kondisi tersebut tidak wajar karena harga CPO di pasar internasional justru sedang mengalami penguatan. Menurutnya, selama ini harga TBS petani selalu mengikuti pergerakan harga komoditas global.
“Tidak elok kalau harga dalam negeri berbanding terbalik dengan harga luar negeri. Biasanya kalau harga luar naik, harga CPO domestik juga naik dan harga TBS ikut naik. Karena harga TBS memang ditentukan oleh harga komoditas internasional,bukan dari harga pokok produksi” katanya.

Rino juga menegaskan bahwa aturan baru yang direncanakan pemerintah sejatinya baru akan efektif berlaku pada Juni 2026 dan masih berada dalam masa transisi hingga akhir tahun. Karena itu, ia meminta pemerintah memastikan jangan sampai muncul gejolak harga/spekulasi sebelum kebijakan berjalan sepenuhnya.
“Peraturannya baru efektif Juni dan masih masa transisi sampai akhir tahun. Belum semuanya harus lewat satu pintu. Tapi dampaknya sudah terasa sekarang. Ini yang harus diperhitungkan pemerintah,” tegasnya.
Ia meminta pemerintah menelusuri penyebab turunnya harga CPO domestik, termasuk kemungkinan adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi sehingga merugikan petani sawit.
“Pemerintah harus memastikan harga rujukan CPO domestik ini tidak boleh jatuh. Siapa yang membuat harga CPO domestik ini jatuh, siapa yang menawar serendah itu? Itu juga harus diperhatikan. Jangan sampai petani yang menjadi korban dan kehilangan pendapatannya,petani dalam posisi yang lemah, buah yang dipanen harus segera diolah/dibeli pabrik” ujarnya.
Menurut Rino, dampak sosial dari penurunan harga TBS sangat besar bagi petani. Ia menyebut dalam dua hari terakhir harga TBS di sejumlah daerah sudah mengalami penurunan hingga Rp300 sampai Rp1000 per kilogram, bahkan mulai muncul informasi adanya pabrik kelapa sawit yang membatasi penerimaan buah petani.
“Ini dampak sosialnya sangat tinggi. Jangan sampai rezeki anak istri petani diambil secara sepihak. Ini yang harus cepat menjadi perhatian,” katanya.

Meski demikian, APKASINDO meminta petani tetap tenang dan percaya bahwa pemerintah akan segera mengambil langkah untuk menormalkan kondisi pasar.
“Saya berharap petani tetap tenang dan percaya pada pemerintah. Kita suarakan melalui fasilitas yang ada. Mudah-mudahan dalam dua hari ini kondisi kembali normal,” tutupnya.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *