
sawitsetara.co - Perjuangan menghadirkan pendidikan yang adil bagi anak-anak petani sawit kembali disuarakan. Tiga tokoh petani sawit dari DPD APKASINDO Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, yakni Mesriadi, SP., M.A.P., Gunawan, dan Budiono, S.ST., menyerukan agar Program Beasiswa Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit dibuat lebih inklusif dan berpihak kepada anak-anak petani sawit yang memiliki keterbatasan akses pendidikan maupun teknologi.
Seruan tersebut disampaikan saat melakukan kunjungan dan diskusi bersama pengurus DPP APKASINDO di Thamrin City, Jakarta. Dalam pertemuan itu, mereka menyoroti masih banyaknya anak petani sawit di daerah yang belum mampu bersaing dalam proses seleksi beasiswa akibat keterbatasan fasilitas pendidikan, akses internet, hingga kemampuan penggunaan teknologi digital.
Mesriadi menegaskan bahwa program pengembangan SDM sawit seharusnya tidak hanya berfokus pada kompetisi akademik semata, tetapi juga memberikan ruang bagi anak-anak petani sawit yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi dan akses.
“Masih banyak anak petani sawit di daerah yang punya semangat belajar tinggi, tetapi kalah bersaing karena keterbatasan fasilitas dan kemampuan teknologi. Kami berharap ada kuota afirmasi atau jalur khusus agar mereka tidak tertinggal,” ujarnya.

Menurutnya, ketimpangan akses pendidikan antara daerah perkotaan dan wilayah terpencil masih menjadi tantangan serius. Padahal, anak-anak petani sawit juga memiliki potensi besar untuk menjadi generasi penerus industri sawit Indonesia yang berdaya saing.
Senada dengan itu, Gunawan menilai pendekatan inklusif dalam program beasiswa sangat penting, khususnya bagi masyarakat adat dan keluarga petani sawit di wilayah pedalaman. Ia menyebut banyak calon penerima beasiswa yang sebenarnya memiliki kemampuan, namun terkendala dalam proses administrasi digital dan penggunaan perangkat teknologi.
“Program beasiswa harus mampu melihat kondisi nyata masyarakat di daerah. Tidak semua anak petani memahami proses pendaftaran online atau memiliki akses internet yang baik. Karena itu, perlu ada pendampingan dan kebijakan yang lebih fleksibel,” katanya.
Sementara itu, Budiono berharap Program Beasiswa SDM Sawit benar-benar hadir sebagai instrumen pemerataan pendidikan, bukan hanya untuk mencetak SDM unggul, tetapi juga membuka peluang bagi kelompok masyarakat yang selama ini sulit mendapatkan akses pendidikan tinggi.
“Beasiswa ini harus menjadi harapan bagi anak-anak petani sawit kecil dan masyarakat adat yang aksesnya masih terbatas. Dengan begitu, pembangunan SDM sawit benar-benar berjalan secara adil dan inklusif,” ungkapnya.

Ketiga tokoh APKASINDO Lamandau tersebut berharap pemerintah dan pihak penyelenggara Program Beasiswa Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit dapat mempertimbangkan kebijakan afirmatif berupa kuota khusus, pendampingan pendaftaran, hingga sistem seleksi yang lebih humanis bagi peserta dari daerah terpencil.
Mereka menilai, keberhasilan pembangunan industri sawit nasional tidak hanya ditentukan oleh produksi dan investasi, tetapi juga oleh sejauh mana anak-anak petani sawit mendapatkan kesempatan pendidikan yang setara untuk masa depan yang lebih baik.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *