
sawitsetara.co - KEEROM — DPW APKASINDO Papua mendorong rencana pembangunan kawasan terpadu berbasis kelapa sawit atau “Plaza Sawit” di Kabupaten Keerom. Ketua DPW APKASINDO Papua, Albert Youku, mengungkapkan “Plaza Sawit” ini dirancang sebagai kawasan yang mengintegrasikan kebun sawit, pabrik kelapa sawit (PKS), hingga industri turunan dalam satu ekosistem ekonomi.
“Kita ingin membangun bukan hanya kebun, tapi sebuah kawasan ekonomi. Kalau PKS dan industri turunannya ada di sini, maka hasil sawit tidak perlu lagi dibawa jauh ke luar daerah. Semua bisa diolah di tempat, menciptakan lapangan kerja dan menambah nilai ekonomi bagi masyarakat,” ujar Albert saat dihubungi sawitsetara.co, Rabu (6/5/2026).
Rencana ini muncul seiring dengan pelaksanaan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) di Kabupaten Keerom, yang menjadi momentum awal untuk menata ulang sistem perkebunan sawit rakyat secara lebih modern dan berkelanjutan. Dari total potensi sekitar 12 ribu hektare kebun sawit di wilayah tersebut, sebanyak 3.000 hektare telah disetujui untuk program PSR, dengan tahap awal pengembangan seluas 534 hektare.

Selama ini, salah satu kendala utama petani sawit di Keerom adalah keterbatasan fasilitas pengolahan. PKS peninggalan lama sudah tidak berfungsi, sehingga petani harus mengangkut tandan buah segar (TBS) ke pabrik milik perusahaan lain dengan jarak yang cukup jauh, antara 7 hingga hampir 30 kilometer. Kondisi ini dinilai tidak efisien dan berdampak pada penurunan kualitas serta harga jual hasil panen.
Melalui konsep “Plaza Sawit”, APKASINDO Papua mendorong pembangunan PKS baru yang dapat dikelola secara kolektif melalui koperasi. Tidak hanya itu, kawasan ini juga direncanakan memiliki industri lanjutan agar produk sawit bisa diolah lebih jauh sebelum dipasarkan.
“Kita ingin ada perputaran ekonomi di dalam daerah. Petani tidak hanya menjual buah, tapi juga bisa menikmati nilai tambah dari industri. Ini yang akan memperkuat ekonomi lokal dan mengurangi ketergantungan dari luar,” jelasnya.

Selain aspek ekonomi, pembangunan “Plaza Sawit” juga diharapkan mampu menciptakan pusat pemukiman baru yang produktif. Dengan adanya fasilitas industri dan lapangan kerja, kawasan ini berpotensi menjadi magnet pertumbuhan baru di wilayah Keerom.
Albert menegaskan bahwa keberhasilan rencana ini sangat bergantung pada sinergi antara petani, koperasi, pemerintah daerah, serta dukungan organisasi seperti APKASINDO. Ia juga mengajak seluruh pihak untuk menjadikan momentum PSR sebagai titik awal transformasi sektor sawit di Papua.
“Ini kesempatan besar bagi petani. Kalau kita siapkan dengan baik, maka Plaza Sawit bukan hanya mimpi, tapi bisa menjadi pusat ekonomi baru yang menyejahterakan masyarakat Papua,” katanya.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *