KONSULTASI
Logo

Pakar Koperasi Sebut Fragmentasi dan Ketergantungan Bank Bisa Rugikan Komunitas Sawit Rp47,76 Triliun per Tahun

25 Juni 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Pakar Koperasi Sebut Fragmentasi dan Ketergantungan Bank Bisa Rugikan Komunitas Sawit Rp47,76 Triliun per Tahun

sawitsetara.co - BANDUNG – Struktur kelembagaan sawit rakyat yang terfragmentasi dan bergantung pada pembiayaan perbankan dinilai menjadi salah satu penyebab utama kebocoran ekonomi dalam rantai nilai sawit nasional. Simulasi yang dilakukan Rektor IKOPIN University Prof. Agus Pakpahan menunjukkan model tersebut dapat menyebabkan defisit komunitas hingga Rp47,76 triliun per tahun.

Dalam kajiannya mengenai model Koperasi Kuantum untuk sawit rakyat, Prof. Agus membandingkan tiga skenario kelembagaan, yakni fragmentasi penuh dengan bank, model dua entitas koperasi yang bekerja secara eksklusif, serta model integrasi penuh dalam satu koperasi.

Menurut Prof. Agus, akar persoalan sawit rakyat bukan hanya soal produktivitas kebun, melainkan juga struktur ekonomi yang menyebabkan nilai tambah terus keluar dari komunitas petani.

“Dalam kerangka Koperasi Kuantum, ini adalah persoalan fragmentasi rantai nilai yang menciptakan kebocoran sistematis. Fragmentasi memutus rantai tolong-menolong, menciptakan kebocoran di setiap titik transaksi, dan melemahkan kemampuan komunitas untuk mengakumulasi kapital secara kolektif,” ujarnya, dikutip Kamis (25/6/2026).

Sawit Setara Default Ad Banner

Pada skenario pertama, lembaga keuangan koperasi menempatkan 70 persen dana di bank dengan bunga 3 persen dan hanya menyalurkan 30 persen sebagai kredit kepada petani dengan bunga 8 persen.

Sementara itu, koperasi sektor riil harus meminjam dana dari bank dengan bunga 18 persen untuk membeli TBS dan menjalankan kegiatan usaha.

Akibatnya, beban bunga yang harus ditanggung koperasi sektor riil mencapai Rp75,60 triliun per tahun. Setelah dikurangi seluruh biaya operasional, koperasi sektor riil mengalami defisit sebesar Rp53,76 triliun.

Meskipun lembaga keuangan masih memperoleh surplus, secara keseluruhan komunitas mengalami kerugian besar.

“Total surplus bersih komunitas: minus Rp47,76 triliun. Fragmentasi dengan bank adalah jalan menuju kehancuran,” kata Prof. Agus.

Ia kemudian membandingkan hasil tersebut dengan model dua entitas koperasi yang saling bekerja sama secara eksklusif tanpa melibatkan bank.

Dalam skenario tersebut, lembaga keuangan koperasi menyalurkan kredit kepada petani dan koperasi sektor riil dengan bunga 5 persen. Beban bunga koperasi sektor riil turun drastis menjadi Rp5,40 triliun.

Hasilnya, komunitas mampu menghasilkan surplus bersih sebesar Rp18,63 triliun per tahun.

Sawit Setara Default Ad Banner

Namun menurut Prof. Agus, hasil terbaik diperoleh melalui integrasi penuh seluruh aktivitas dalam satu koperasi.

Pada model tersebut, seluruh kegiatan simpan pinjam, pengolahan, hilirisasi, dan pemasaran berada dalam satu kelembagaan sehingga tidak ada lagi bunga internal maupun biaya transaksi antarorganisasi.

“Integrasi penuh selalu menghasilkan surplus total tertinggi—Rp21,84 triliun per tahun, 20,5 persen lebih tinggi dibandingkan model dua entitas eksklusif,” ujarnya.

Prof. Agus menjelaskan bahwa keunggulan integrasi penuh muncul karena tidak adanya bunga internal, tidak terjadi duplikasi biaya administrasi, dan seluruh unit usaha dapat saling menopang secara langsung.

“Keunggulan ini muncul dari tiga sumber. Pertama, tidak ada bunga internal. Kedua, tidak ada duplikasi biaya administrasi. Ketiga, sinergi operasional sehingga seluruh surplus dapat dialokasikan secara fleksibel ke unit yang paling membutuhkan,” jelasnya.

Ia menilai temuan tersebut menunjukkan bahwa masa depan sawit rakyat sangat bergantung pada kemampuan membangun kelembagaan ekonomi yang terintegrasi dan dimiliki petani sendiri.


Berita Sebelumnya
B50: Mau Dibawa Kemana Arah Industri Sawit Nasional?

B50: Mau Dibawa Kemana Arah Industri Sawit Nasional?

Menurut Gusti, konflik Iran-Amerika Serikat yang memicu gangguan pasokan minyak dunia akibat ancaman penutupan Selat Hormuz telah memperlihatkan pentingnya kemandirian energi nasional. Dalam situasi tersebut, biodiesel berbasis sawit menjadi salah satu solusi strategis yang dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar fosil.

24 Juni 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *