KONSULTASI
Logo

Menunggu Sawit di Lahan PSR Berbuah, Memanen Harapan dari Tumpang Sari

13 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Menunggu Sawit di Lahan PSR Berbuah, Memanen Harapan dari Tumpang Sari

sawitsetara.co - SIAK — Hamparan tanaman ubi jalar tampak menghijau di sela-sela barisan bibit sawit yang masih muda. Di beberapa sudut kebun, pohon-pohon pisang berdiri tegak, menjadi penanda bahwa lahan ini tidak dibiarkan menganggur meski tanaman sawitnya belum menghasilkan.

Pemandangan itu terlihat di kebun milik Seno, petani anggota Gapoktan Manunggal Sakti, Dusun Sialang Sakti, Sabtu (27/6/2026). Sekilas, sulit membedakan apakah hamparan tersebut merupakan kebun sawit atau kebun tanaman pangan. Justru di situlah letak cerita menariknya.

Lahan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang umumnya identik dengan masa menunggu tanpa penghasilan, di tangan Seno berubah menjadi lahan yang tetap produktif.

Bagi sebagian petani, mengikuti program PSR sering kali menjadi keputusan yang penuh pertimbangan. Setelah tanaman tua ditebang dan diganti dengan bibit baru, ada masa sekitar dua tahun lebih ketika sawit belum menghasilkan tandan buah segar.

Kekhawatiran kehilangan pendapatan selama masa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) menjadi alasan yang membuat sebagian petani menunda peremajaan.

Sawit Setara Default Ad Banner

Namun, kekhawatiran itu tidak sepenuhnya dirasakan Seno. Ia memilih memanfaatkan ruang kosong di antara tanaman sawit muda dengan menanam ubi jalar dan pisang. Hasilnya bukan sekadar mengisi lahan, tetapi juga menjadi sumber penghasilan yang menjaga dapur keluarganya tetap mengepul.

“Kalau hanya menunggu sawit, tentu lama. Jadi saya berpikir lahan ini harus tetap menghasilkan,” ujarnya.

Ide itu ternyata datang dari tempat yang tidak disangka-sangka. “Sebenarnya kami ini korban TikTok,” katanya sambil tertawa. Di media sosial itulah ia melihat banyak orang membagikan pengalaman menanam ubi jalar dengan hasil yang cukup menjanjikan. Rasa penasaran membuatnya mencoba menanam di lahan PSR miliknya.

WhatsApp Image 2026-07-13 at 10.49.01.jpeg

“Di TikTok saya lihat ubi jalar bagus hasilnya. Saya pikir, kenapa tidak dicoba? Alhamdulillah ternyata memang ada hasilnya. Mungkin ini rezeki dari Allah,” tuturnya.

Kini, setiap sekitar tiga bulan sekali, ubi jalar siap dipanen. Sementara tanaman pisang tumbuh sebagai tambahan sumber pendapatan. Siklus panen yang relatif singkat membuat Seno tetap memiliki pemasukan sambil menunggu sawit memasuki masa produksi.

“Kalau ubi jalar maksimal tiga bulan sudah dipanen. Kalau lebih lama biasanya mulai dimakan ulat. Jadi tiga bulan sudah pas dan hasilnya bagus,” jelasnya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Di kebun seluas sekitar dua hektare itu, tanaman pangan tumbuh berdampingan dengan sawit muda. Pemandangan tersebut menjadi bukti bahwa masa tunggu dalam program PSR tidak harus identik dengan berhentinya aktivitas ekonomi.

Seno memperkirakan tanaman sawitnya baru mulai menghasilkan sekitar 26 bulan setelah ditanam. Tanpa tumpang sari, waktu selama itu tentu menjadi tantangan tersendiri bagi petani yang menggantungkan hidup dari kebunnya.

“Yang jelas ekonomi kami tetap stabil karena ada tumpang sari di kebun ini,” katanya.

Bagi Seno, pengalaman tersebut menjadi jawaban bagi petani yang masih ragu mengikuti program PSR. Menurutnya, selama lahan dimanfaatkan secara optimal, petani tetap bisa memperoleh penghasilan sembari menunggu sawit tumbuh. Ia pun mengajak petani lain agar tidak takut melakukan peremajaan.

“Bagi yang belum ikut replanting, jangan ragu. Program ini sangat membantu. Selama masa menunggu, lahan masih bisa dimanfaatkan untuk tanaman lain yang bernilai ekonomi,” ujarnya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Keberhasilan itu juga tidak lepas dari pendampingan yang diterimanya selama mengikuti program PSR. Ia mengaku mendapat pendampingan dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), sementara pendanaan program berasal dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

“Terima kasih kepada BPDP yang telah mendanai program ini dan kepada APKASINDO yang mendampingi kami dari awal sampai pelaksanaan. Berkat pendampingan itu kami lebih yakin mengikuti PSR,” katanya.

WhatsApp Image 2026-07-13 at 10.49.32.jpeg

Semangat serupa juga disampaikan Ketua Gapoktan Manunggal Sakti, Budi Santoso. Menurutnya, program PSR bukan hanya mengganti tanaman tua dengan bibit unggul, tetapi juga menjadi jalan menuju perkebunan sawit rakyat yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Ia menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto, BPDP, APKASINDO, serta dinas terkait yang selama ini mendampingi petani mulai dari proses pengusulan hingga pelaksanaan di lapangan.

“Program PSR sangat membantu petani. Produktivitas kebun akan meningkat dan tata kelola perkebunan juga menjadi lebih baik. Kami berharap semakin banyak petani yang memanfaatkan kesempatan ini,” ujarnya.

Di tengah hamparan sawit muda yang masih membutuhkan waktu untuk tumbuh besar, daun-daun ubi jalar yang menghijau seolah menyampaikan pesan sederhana: menunggu tidak harus berarti berhenti.

Bagi Seno, masa Tanaman Belum Menghasilkan bukanlah masa tanpa harapan. Justru dari sela-sela barisan sawit muda itulah ia memanen keyakinan bahwa dengan kreativitas, kemauan mencoba, dan dukungan program PSR, petani tetap bisa menjaga penghasilan hingga tiba waktunya sawit kembali berbuah.

Tags:

peremajaan sawit rakyatPSR

Berita Sebelumnya
Peserta Akui Ilmu Bertambah, PT Bestari Berharap Pelatihan SDMP Dukungan BPDP Berlanjut

Peserta Akui Ilmu Bertambah, PT Bestari Berharap Pelatihan SDMP Dukungan BPDP Berlanjut

Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit (SDM PKS) BPDP Tahun 2026 yang diselenggarakan PT Pusat Perkebunan Berkelanjutan Setara Indonesia (Bestari) mendapat respons positif dari para peserta.

11 Juli 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *