KONSULTASI
Logo

Menteri PPPA Soroti Kesenjangan Pekerja Perempuan di Sawit: Mayoritas Tenaga Kerja, Tapi Upah Masih Timpang

10 September 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Menteri PPPA Soroti Kesenjangan Pekerja Perempuan di Sawit: Mayoritas Tenaga Kerja, Tapi Upah Masih Timpang

sawitsetara.co - Besarnya keterlibatan perempuan dalam industri kelapa sawit belum sepenuhnya diikuti dengan kesetaraan akses, upah, dan kesempatan kerja. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyoroti masih adanya kesenjangan antara pekerja perempuan dan laki-laki di sektor perkebunan sawit.

Arifah mengungkapkan, berdasarkan data yang disampaikan dalam sosialisasi modul pengarusutamaan gender di sektor perkebunan sawit, sekitar 50-80 persen pekerja di perkebunan sawit merupakan perempuan.

Besarnya proporsi tersebut, menurut Arifah, menjadi perhatian bersama karena perempuan yang bekerja di sektor sawit belum otomatis memperoleh akses dan kesempatan yang setara dengan pekerja laki-laki.

“Kalau tadi dari data sekitar 50-80 persen pekerja di perkebunan sawit adalah perempuan, sehingga ini yang menjadi perhatian kita bersama,” kata Arifah di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Ia mengatakan, kesenjangan masih terlihat dalam sejumlah aspek, mulai dari akses terhadap pekerjaan, tingkat upah, hingga kesempatan bagi pekerja perempuan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan.

Saat ditanya mengenai perbandingan besaran upah antara pekerja laki-laki dan perempuan di perkebunan sawit, Arifah mengaku belum melihat data secara detail.

Namun, ia menilai perbedaan jenis pekerjaan menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian. Pekerjaan yang membutuhkan keahlian tertentu dan menawarkan upah lebih tinggi disebut masih lebih banyak dilakukan oleh pekerja laki-laki.

apkasindo

“Kalau secara detailnya saya belum melihat secara langsung, tetapi memang ada pekerjaan yang berbeda gitu ya. Jadi untuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan keahlian dengan upah yang lebih tinggi itu banyaknya laki-laki,” ucapnya.

Karena itu, pemerintah mendorong agar perempuan yang bekerja di sektor perkebunan sawit memiliki akses yang lebih besar terhadap peningkatan kapasitas dan keterampilan.

“Kita ingin agar perempuan-perempuan yang terlibat di sektor perkebunan sawit ini bisa lebih produktif lagi,” katanya.

Selain persoalan jenis pekerjaan, upah, dan peningkatan kapasitas, Arifah juga menyoroti kebutuhan pekerja perempuan yang memiliki anak balita.

Menurutnya, perusahaan perkebunan perlu mempertimbangkan penyediaan fasilitas yang dapat membantu pekerja perempuan menjalankan aktivitas kerja sekaligus memastikan anak-anak mereka mendapatkan lingkungan yang baik.

Salah satu fasilitas yang dapat dipertimbangkan adalah tempat bermain anak maupun daycare di lingkungan kerja.

Dengan adanya fasilitas tersebut, anak-anak pekerja tetap mendapatkan perhatian dan lingkungan yang layak selama orang tua mereka menjalankan pekerjaan di perkebunan.

apkasindo

Arifah berharap penerapan modul pengarusutamaan gender di sektor perkebunan sawit dapat menjadi langkah konkret untuk mendorong terciptanya lingkungan kerja yang lebih setara.

Ia menekankan, perempuan yang selama ini menjadi bagian besar dari tenaga kerja sawit perlu memperoleh hak, akses, serta kesempatan yang lebih adil untuk berkembang dan meningkatkan produktivitasnya.


Berita Sebelumnya
Dari Limbah Jadi Cuan, Vietnam Olah Pelepah Sawit Jadi Produk Ramah Lingkungan

Dari Limbah Jadi Cuan, Vietnam Olah Pelepah Sawit Jadi Produk Ramah Lingkungan

Pelepah sawit yang gugur di kebun biasanya berakhir sebagai limbah. Namun, di Komune Tien Phuoc, Vietnam, bahan tersebut diolah menjadi berbagai produk rumah tangga yang bernilai ekonomi.

9 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *