
sawitsetara.co - PALEMBANG — Pemerintah terus mendorong hilirisasi industri kelapa sawit sebagai strategi meningkatkan nilai tambah dan daya saing ekspor.
Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Perekonomian Dida Gardera menyebut tren ekspor sawit Indonesia kini mulai bergeser ke produk turunan.
Hal tersebut disampaikan dalam Andalas Forum VI yang diselenggarakan GAPKI di Hotel Aryaduta Palembang, 16–17 April 2026.
“Tren ekspor kita yang semula banyak dalam bentuk CPO, sekarang sudah lebih ke hilir,” ujar Dida dalam agenda pembukaan, Kamis (16/4/2026).

Menurut dia, penguatan sektor industri menjadi kunci dalam transformasi ekonomi nasional, termasuk di sektor sawit. Pemerintah saat ini juga mendorong integrasi antara industri, tenaga kerja, dan sektor pariwisata sebagai bagian dari strategi pembangunan.
Dida menegaskan, sektor sawit memiliki peran strategis karena melibatkan sekitar 16 juta tenaga kerja. Oleh karena itu, keberlanjutan industri ini harus dijaga secara serius.
Ia juga menyinggung peran sawit sebagai penopang ekonomi nasional dalam berbagai krisis, mulai dari pandemi Covid-19 hingga gejolak geopolitik global saat ini.
“Sawit ini selalu menjadi andalan ketika kita menghadapi krisis,” kata dia.

Selain itu, pemerintah juga mempercepat implementasi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), khususnya bagi pekebun rakyat. Melalui kebijakan terbaru, biaya sertifikasi akan ditanggung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
“ISPO ini wajib, tapi pembiayaannya akan ditanggung pemerintah untuk petani,” ujarnya.
Dida berharap upaya hilirisasi dan penguatan keberlanjutan ini dapat menjaga posisi Indonesia sebagai pemain utama sawit global sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku industri.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *