
sawitsetara.co – JAKARTA — Perkebunan kelapa sawit mulai dibidik pemerintah sebagai salah satu penopang swasembada daging dan susu sapi. Pemerintah berencana mengintegrasikan perkebunan sawit dengan peternakan untuk meningkatkan produksi protein hewani sekaligus memanfaatkan sumber pakan yang tersedia di area perkebunan.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan Indonesia telah mencapai swasembada sejumlah komoditas pangan. Komoditas tersebut meliputi beras, jagung, ikan, telur ayam, dan daging ayam. Namun, produksi daging sapi dan susu masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah.
“Yang belum adalah susu dan daging. Oleh karena itu, kami di Kemenko Pangan sudah membuat kebijakan percepatan peningkatan produksi daging dan susu,” ujar Zulhas di sela-sela CNN Indonesia Agrifood Forum 2026 di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Senin (19/10/2026).
Salah satu strategi yang disiapkan ialah mengembangkan Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA). Melalui sistem ini, perkebunan sawit tidak hanya menghasilkan tandan buah segar (TBS), tetapi juga menyediakan sumber daya untuk mendukung usaha peternakan.
Bahan dari perkebunan, seperti bungkil inti sawit, pelepah, dan daun sawit, dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Rumput yang tumbuh di area perkebunan juga menjadi sumber pakan tambahan.
Pemanfaatan sumber daya tersebut diharapkan membuka peluang integrasi antara industri perkebunan dan peternakan. Dengan begitu, potensi lahan sawit yang luas dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan produksi daging dan susu.
“Kerja sama dengan kita kan punya perkebunan sawit luas. Kalau diintegrasikan itu saya kira bisa cepat. Oleh karena itu, Menteri Pertanian dan PTPN dan lain-lain sekarang sedang merumuskan (sistem tersebut),” ujar Zulhas.
Kementerian Pertanian dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) bersama pihak terkait kini merumuskan sistem integrasi tersebut. Namun, dokumen sumber belum merinci target populasi sapi, luas perkebunan yang akan digunakan, maupun jadwal penerapan SISKA secara nasional.
Impor Sapi Indukan Dipercepat
Selain memanfaatkan perkebunan sawit, pemerintah mempercepat impor sapi perah dan sapi indukan. Sapi indukan akan dikembangkan untuk memperbanyak populasi ternak dalam negeri melalui pembiakan.
Zulhas menjelaskan sapi indukan berpotensi melahirkan beberapa kali selama masa produktifnya. Pemerintah berharap pengembangan ternak tersebut dapat mempercepat peningkatan populasi sapi nasional.
“Jadi kalau sapi indukan itu kan kita datangkan, dia bisa delapan kali beranak. Jadi delapan kali beranak kalau satu juta kan bisa untuk delapan tahun misalnya. Ini sedang dipersiapkan untuk percepatan agar kita bisa swasembada,” ujar Zulhas.
Percepatan pengembangan sapi indukan dan sapi perah menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat pasokan protein hewani. Strategi ini berjalan beriringan dengan rencana pemanfaatan perkebunan sawit sebagai sumber pakan dan ruang pendukung kegiatan peternakan.
Pemerintah belum memaparkan secara terperinci besaran kebutuhan impor sapi, target produksi daging dan susu, maupun kontribusi yang diharapkan dari sistem integrasi sapi-sawit.
Rencana tersebut dibahas dalam CNN Indonesia Agrifood Forum 2026 bertajuk Swasembada Protein & Peluang Pangan Global. Forum yang berlangsung pada Senin (19/10/2026) itu mempertemukan sejumlah menteri, pejabat pemerintah, dan pimpinan BUMN untuk membahas ketahanan pangan, swasembada protein, serta daya saing industri pangan Indonesia.
Bagi industri sawit, pengembangan SISKA berpotensi memperluas pemanfaatan hasil samping perkebunan. Namun, keberhasilan program ini akan bergantung pada pelaksanaan integrasi di lapangan, ketersediaan pakan, pengelolaan ternak, serta koordinasi antarlembaga.
Jika dirancang dan diterapkan secara efektif, integrasi sapi-sawit dapat membuka ruang bagi perkebunan untuk berkontribusi lebih luas terhadap ketahanan pangan nasional, tidak hanya melalui minyak sawit, tetapi juga melalui dukungan terhadap produksi daging dan susu.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *