KONSULTASI
Logo

Kebijakan B50 Harus Dievaluasi Secara Komprehensif

30 Desember 2025
AuthorIbnu
EditorIbnu
Kebijakan B50 Harus Dievaluasi Secara Komprehensif
HOT NEWS

sawitsetara.co – JAKARTA – Berbagai langkah terus dilakukan oleh pemerintah untuk mendorong ketahanan pangan dan energi, diantaranya melalu penerapan biodiesel 50 persen berbahan sawit atau dikenal B50 yanhg rencananya akan diimplementasikan di tahun 2026.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusat Pangan Energi dan Pembangunan Berkelanjutan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov menilai rencana peningkatan mandatori biodiesel dari B40 di tahun 2025 ini menjadi B50 di tahun 2026 nanti, sebaiknya harus didahului dengan evaluasi kebijakan secara komprehensif terhadap implementasi kebijakan sebelumnya.

“Rencana kenaikan ke B50 sebaiknya diambil setelah dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan Amanat Presiden No. 132 Tahun 2024. Kita harus memahami bahwa kondisi saat ini berbeda dibandingkan saat kebijakan sebelumnya diterapkan,” ujar Abra di Jakarta.


natal dpp

Sekedar catatan, kebutuhan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) untuk program biodiesel 50 persen (B50) yang mulai berlaku tahun depan diperkirakan akan memerlukan tambahan sekitar 5 juta ton. Kendati kebutuhan minyak sawit untuk program biodiesel sudah cukup besar pada tahun 2025 ini.

Artinya kalau tahun 2025 ini sekitar 14-15 juta ton minyak sawit maka tahun depan dengan berlakunya B50 akan mencapai sekitar 19 juta ton. Jadi akan ada peningkatan kebutuhan untuk biodiesel dan menjadi tantangan bagi seluruh pemangku kepentingan di sektor sawit. Padahal peningkatan konsumsi domestik cukup signifikan dan harus diimbangi dengan peningkatan produktivitas dan produksi agar pasokan tetap terjaga.


natal dpp

Tidak hanya itu, sebelumnya Peneliti dari Pusat Riset Teknologi Bahan Bakar, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Soni Solistia Wirawan juga mengingatkan tantangan yang muncul saat kadar blending biodiesel ditingkatkan, misalnya dari biodiesel 40 persen (B40) ke B50.

Menurutnya, biodiesel punya beberapa sifat penting, misalnya bisa membantu membersihkan mesin (solvency), tapi juga mudah menyerap air (hygroscopic). Selain itu, biodiesel rentan mengalami oksidasi dan bisa mengental atau membeku kalau suhu turun rendah.

Di sisi lain, biodiesel lebih ramah lingkungan karena mudah terurai, tapi energinya sedikit lebih rendah dibanding bahan bakar fosil, sehingga bisa berpengaruh pada tenaga mesin.

“Mungkin ini plus, tapi ini juga mungkin minus. Yang ini harus kita terus reset agar setiap campuran biodiesel kita makin tinggi, ya. Itu harus kita perbaiki parameternya supaya bisa kita campurkan makin tinggi,” ujar Soni.

Soni menekankan bahwa setiap peningkatan kadar campuran, misalnya dari dari Biodiesel 40 persen (B40) menuju B50, harus melalui tahapan yang matang dan berbasis riset.

“Tahapan-tahapannya harus dilakukan dulu, sebenarnya. Kita lakukan penelitian dulu, ya, untuk tahu apa yang perlu diperbaiki dari campuran biodiesel tersebut. Misalnya, dari B30 ke B40, kadar airnya diturunkan, dari yang tadinya 500 jadi ke 360. Jadi diperkecil,” pungkas Soni.




Berita Sebelumnya
Ketimpangan Penegakan Hukum SDA Disorot: Sawit Diambil Negara, Tambang Cukup Bayar Denda

Ketimpangan Penegakan Hukum SDA Disorot: Sawit Diambil Negara, Tambang Cukup Bayar Denda

Perbedaan perlakuan pemerintah dalam menertibkan kebun sawit dan aktivitas pertambangan kembali menuai kritik.

29 Desember 2025 | Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *