
sawitsetara.co - Jakarta – Komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, kopi, kakao hingga tebu termasuk yang rentan terdampak jika kondisi kemarau tidak diantisipasi dengan baik. Untuk itu, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Perkebunan terus memperkuat langkah mitigasi agar subsektor ini tetap tangguh.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan pemerintah mendorong berbagai strategi adaptasi guna menjaga produktivitas, termasuk kepada komoditas perkebunan sebagai komoditas ekspor.
“Mitigasi terus diperkuat melalui budidaya adaptif, penggunaan benih unggul tahan kering, serta pendampingan kepada pekebun agar produksi tetap terjaga,” ungkap Amran.
Menurut Amran, upaya tersebut dilakukan melalui penggunaan varietas tahan kekeringan, konservasi tanah dan air, serta pengelolaan kebun yang lebih efisien dalam penggunaan air. Pendampingan juga ditingkatkan untuk membantu pekebun menghadapi potensi serangan hama dan penyakit yang meningkat saat musim kemarau.
Seperti diketahui pada tanaman kelapa sawit, beberapa produsen benih kelapa sawit juga telah mengeluarkan benih tahan kekeringan seperti benih sawit tahan kekeringan, seperti DxP Dami Mas MTK (Moderately Tolerant to Drought), dirancang untuk tetap produktif dalam kondisi air terbatas dengan keunggulan hasil 12-25% lebih tinggi dibanding varietas standar saat El Niño. Pilihan unggul lainnya mencakup SD14, SD63, serta varietas SJ-5 dan SJ-6 yang terbukti adaptif terhadap iklim kering.
Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menegaskan pentingnya pengelolaan kebun yang adaptif.
“Konservasi tanah dan air serta pemanfaatan informasi iklim menjadi kunci agar perkebunan tetap produktif di tengah kemarau,” kata Roni.
Sebagai langkah konkret, pemerintah mengembangkan demplot mitigasi dan adaptasi iklim. Melalui kebun percontohan ini, pekebun dilatih menerapkan teknik hemat air, mengelola kebun saat kemarau, hingga memanfaatkan limbah menjadi pupuk organik.
Penguatan tata kelola air juga dilakukan, termasuk di lahan gambut melalui pembangunan sekat kanal untuk menjaga kelembapan tanah. Selain itu, program Pembukaan Lahan Tanpa Membakar (PLTB) terus digencarkan guna mencegah kebakaran yang rawan terjadi saat musim kemarau.
Kesiapsiagaan turut diperkuat melalui pembentukan Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun (Karlabun) serta Kelompok Tani Peduli Api.
Di tingkat lapangan, pekebun diimbau menerapkan langkah adaptif seperti penggunaan pupuk organik, efisiensi pemupukan, serta pemantauan kondisi tanaman secara rutin. Teknologi konservasi air seperti rorak dan biopori juga dianjurkan untuk menyimpan cadangan air.
Dengan langkah-langkah tersebut, pemerintah berharap subsektor perkebunan tetap mampu bertahan dan berkembang meski menghadapi tekanan cuaca kemarau.
“Menjaga kebun hari ini berarti menjaga ekonomi dan masa depan Indonesia. Perkebunan tangguh, Indonesia kuat,” pungkas Roni.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *