
sawitsetara.co - SURABAYA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember mengembangkan bensin nabati berbasis kelapa sawit sebagai alternatif bahan bakar di tengah ketidakpastian energi global. Inovasi ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus menekan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
“Ini kesempatan bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif di tengah isu krisis bahan bakar akibat konflik di wilayah Timur Tengah saat ini,” kata Rektor ITS Bambang Pramujati di Surabaya, Selasa (8/4/2026).

Riset ini dipimpin dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, Dr Eng Hosta Ardhyananta, dengan memanfaatkan Crude Palm Oil (CPO) yang diolah menjadi biogasoline melalui metode catalytic cracking.
“Fokus dari inovasi kami ini adalah bagaimana mengonversi minyak mentah kelapa sawit yang padat menjadi produk bensin biogasoline yang siap digunakan,” ujar Hosta.
Pada tahap awal, tim menggunakan katalis berbasis alumina (γ-AlO) dengan tingkat konversi sekitar 60 persen, meski membutuhkan suhu tinggi hingga 420 derajat Celsius.

Pengembangan berikutnya menggunakan katalis bimetalik nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO), yang mampu meningkatkan rendemen hingga 83 persen sekaligus menurunkan suhu operasi menjadi 380 derajat Celsius.
Produk yang dihasilkan didominasi hidrokarbon rantai pendek C5 hingga C11, komponen utama bensin komersial. Gas hasil samping dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar pemanas reaktor, sementara residu cairnya bisa digunakan sebagai bahan bakar alternatif lain.
“Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor,” katanya.

Penelitian ini juga memperhitungkan analisis daur hidup atau life cycle assessment (LCA) yang menunjukkan jejak karbon rendah. Dengan demikian, inovasi tersebut dinilai sejalan dengan prinsip energi bersih dan target pembangunan berkelanjutan.
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS Fadlilatul Taufany mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk uji coba lebih lanjut sebagai proyek nasional.
“Minimal dengan adanya inovasi ini akan mengurangi beban Indonesia akan ketergantungan ekspor impor,” ujarnya.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *