
sawitsetara.co – Indonesia menghadapi tantangan besar untuk keluar dari middle income trap atau jebakan negara berpendapatan menengah yang telah berlangsung hampir 30 tahun. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menilai, penguatan inovasi, peningkatan produktivitas, dan pengembangan industri bernilai tambah tinggi menjadi kunci untuk membawa perekonomian nasional ke level yang lebih kompetitif.
Rachmat mengungkapkan, pendapatan per kapita Indonesia saat ini masih berada di kisaran US$5.000. Angka tersebut tertinggal dari sejumlah negara tetangga yang telah mencatatkan pendapatan per kapita di atas US$10.000.
“Kita ini sudah hampir 30 tahun terjebak di dalam middle income trap. Pendapatan per kapita kita ya sekitar US$5.000, sementara negara tetangga kita sudah di atas US$10.000,” ujar Rachmat dalam forum Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut Indonesia untuk tidak sekadar mengandalkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat struktur industri dan kemampuan menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih besar.
Salah satu langkah yang dinilai penting adalah meningkatkan daya saing melalui penguatan Economic Complexity Index (ECI), yang mencerminkan kemampuan suatu negara dalam menghasilkan produk dan layanan dengan tingkat kompleksitas serta pengetahuan yang lebih tinggi.
Rachmat menegaskan, inovasi harus menjadi bagian dari strategi pembangunan nasional dan tidak boleh hanya bertumpu pada ilmuwan, perguruan tinggi, maupun pusat penelitian. Lembaga publik juga memiliki peran strategis dalam menciptakan terobosan yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat.
Ia mencontohkan sistem pembayaran digital Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang dikembangkan Bank Indonesia (BI). Menurutnya, inovasi tersebut menunjukkan bagaimana teknologi dapat memperluas akses layanan keuangan, termasuk bagi usaha kecil dan menengah (UKM).
“Bank Indonesia menghasilkan sistem pembayaran dengan QRIS. Sistem pembayaran digital yang menjangkau UKM, menjangkau masyarakat yang paling rendah dan paling bawah sampai paling atas. Dengan mencapai jangkauan 70 juta pengguna, itu luar biasa,” katanya.
Rachmat menilai keberhasilan tersebut perlu menjadi inspirasi bagi kementerian dan lembaga lain untuk mengembangkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memperluas akses dan kesempatan ekonomi.
Selain inovasi, Rachmat menyoroti pentingnya membangun industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri. Salah satu sektor yang dinilai strategis adalah industri semikonduktor, yang berperan penting dalam berbagai produk teknologi modern.
Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya menjadi tempat perakitan produk semikonduktor. Indonesia perlu membangun ekosistem industri secara menyeluruh agar mampu mengambil bagian lebih besar dalam rantai nilai global.
Pengembangan tersebut membutuhkan penguatan kapasitas teknologi, sumber daya manusia, serta kolaborasi dengan negara-negara yang telah memiliki kemampuan industri dan teknologi yang lebih maju.
Karena itu, Rachmat mendorong kemitraan strategis dengan negara-negara Asia, termasuk India dan Singapura, untuk membangun ekosistem industri yang saling melengkapi dan memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan global.
Langkah ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan industri domestik yang lebih kompleks, menciptakan lapangan kerja berkualitas, serta meningkatkan kemampuan Indonesia dalam menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Rachmat juga mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan tersebut harus mampu memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama kelas menengah dan kelompok berpendapatan rendah.
Menurutnya, peningkatan kesempatan kerja dan produktivitas menjadi bagian penting agar manfaat pembangunan tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok masyarakat berpendapatan tinggi.
“Kita ingin tumbuh bukan hanya di kelompok masyarakat teratas. Kita ingin tumbuh justru di masyarakat kelas menengah. Dan kita justru ingin tumbuh di masyarakat yang paling bawah,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa upaya keluar dari middle income trap perlu berjalan beriringan dengan pemerataan kesempatan ekonomi. Inovasi dan industrialisasi harus mampu menciptakan nilai tambah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Rachmat menekankan, Indonesia memiliki potensi pasar dan skala ekonomi yang besar. Dengan dukungan inovasi lintas lembaga, pengembangan industri strategis, serta kemitraan regional, Indonesia diharapkan mampu memperkuat daya saing dan mempercepat transformasi ekonominya.
“Negara kita cukup besar, tetangga kita cukup kuat, mari kita bekerja bersama. Tumbuh bersama untuk bebas dari middle income trap,” pungkas Rachmat.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *