
sawitsetara.co — JAKARTA — Sejak dicanangkannya program biodiesel pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan dilanjutkan pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi, sesungguhnya Indonesia sudah jauh di atas negara lain bidang energi hijau.
Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO, mengatakan, setelah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, program bioenergi terkhusus biodiesel semakin dikedepankan, apalagi tekad Presiden Prabowo untuk menjadikan Indonesia Mandiri Energi.
“Tidak usah malu-malu, khususnya yang selama ini kelompok atau orang yang selalu mengampanyekan negatif sawit. Apa yang dikatakan Presiden sudah terbukti pasca perang di Iran, tentang kedaulatan negara tidak terlepas dari kemandirian energi,” kata Dr. Gulat kepada sawitsetara.co, Selasa (10/3/2026).
Bahkan menurut Dr. Gulat, ketahanan energi setingkat lebih tinggi urgensinya dibandingkan ketahanan pangan. “Kalau terjadi kelangkaan pangan misalnya, masih bisa pangan alternatif. Coba kalau terjadi kelangkaan solar, apa bisa digantikan dengan air hujan?,” ujar Dr. Gulat.
Dr. Gulat mengatakan, untuk menyelaraskan Indonesia mandiri energi sebagaimana cita-cita Presiden, tentu yang menjadi pekerjaan pokok adalah bahan bakunya yaitu tandan buah segar atau TBS (sektor hulu).
Ia mengungkapkan, produktivitas kebun sawit saat ini rendah, khususnya kebun sawit rakyat yang hanya 30% dari capaian idealnya. “Intinya sektor hulu babak belur,” tegasnya.
Tak perlu menambah luas kebun sawit (ekstensifikasi), tapi adalah intensifikasi melalui peremajaan sawit rakyat (PSR) khususnya. Jika 2,5juta hektar kebun sawit rakyat di PSR kan dari total 16, 38 juta hektar, maka tahun 2035 produksi CPO Indonesia sudah mencapai 127 juta ton.
Menurut Dr. Gulat, dengan luas yang sama, saat ini produksi CPO Indonesia hanya 48 juta ton. “Bagaimana mungkin mau mandiri energi dari sawit, jika hanya segitu produksi kita. Bayangkan saja jika B50, paling tidak membutuhkan 19 juta ton CPO, hampir separuh produksi CPO Indonesia,” katanya.
Dr. Gulat mengungkapkan kebutuhan CPO untuk pangan dan oleo mencapai 16 juta ton. Jika ketersediaan semua CPO diserap untuk domestik, maka hanya sedikit yang dapat diekspor. Jika sedikit yang diekspor maka devisa negara akan anjlok dan berpotensi menurunkan nilai tukar rupiah.
Untuk itu, Dr. Gulat mengatakan petani sawit sangat mendukung kemandirian energi. Menurutnya, kemandirian energi tersebut hanya bisa berjalan jika pemerintah mendirikan Badan Otoritas Sawit Indonesia (BoSI).
“Jika masih seperti sekarang mengelola sawit Indonesia, saya tidak yakin kemandirian energi bisa sukses, karena terlampau banyak K/L yang urusi sawit dan di sinilah letak urgensi BoSI tersebut,” kata Dr Gulat.
Dr. Gulat mengatakan, cadangan yang relatif rendah, impor minyak nabati, kurs dollar dan sebagainya adalah peluang melalui perkebunan sawit.
Adapun cadangan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia saat ini hanya cukup untuk sekitar tiga pekan. Pemerintah mengakui kapasitas penyimpanan energi nasional masih terbatas, sehingga stok BBM yang tersedia berkisar di angka 20 hari.
Hal ini disampaikan Bahlil Lahadalia bahwa kemampuan penyimpanan BBM nasional selama ini memang tidak besar.
“Jangan salah persepsi, memang kemampuan storage kita di Republik Indonesia ini tidak lebih dari 21-25 hari, jadi standar nasionalnya minimal itu di 20-21 hari, maksimal 25 hari,” kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (4/3/2026).
Menjadi sangat menarik pernyataan Presiden Prabowo Subianto perihal Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar mengurangi ketergantungan impor BBM.
Hal itu disampaikan Prabowo saat meresmikan 218 jembatan di berbagai wilayah Indonesia secara virtual pada Senin, 9 Maret 2026. Dalam pidatonya, ia mengaku optimistis Indonesia mampu keluar dari berbagai tekanan global dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya alamnya.
Ia menilai sumber energi alternatif berbasis tanaman dapat menjadi solusi jangka panjang bagi ketahanan energi nasional. Indonesia, kata dia, memiliki potensi besar untuk menghasilkan bahan bakar dari komoditas pertanian seperti kelapa sawit, singkong, jagung, hingga tebu.
“Masalah BBM juga bertahun-tahun saya perjuangkan swasembada energi. Dan kita memiliki karunia besar dari Yang Mahakuasa bahwa kita nanti mampu kebutuhan BBM kita bukan dari impor luar negeri, bahkan dari tanaman-tanaman kita, dari kelapa sawit, dari singkong, dari jagung, dari tebu,” ujar Prabowo.
Pernyataan itu menegaskan dua pekerjaan besar pemerintah di sektor energi: memperkuat cadangan BBM nasional yang saat ini masih terbatas, sekaligus mempercepat pengembangan energi berbasis sumber daya domestik—terutama dari komoditas perkebunan seperti sawit.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *