KONSULTASI
Logo

Harga TBS Bermitra-Swadaya Terpaut Rp1.043/Kg, APKASINDO Dorong Pembentukan Bursa Sawit Indonesia

15 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Harga TBS Bermitra-Swadaya Terpaut Rp1.043/Kg, APKASINDO Dorong Pembentukan Bursa Sawit Indonesia

sawitsetara.co – JAKARTA — Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO menyoroti tingginya disparitas harga Tandan Buah Segar (TBS) antara petani bermitra dan swadaya yang tercermin dalam dashboard hargasawitindonesia.id.

Berdasarkan data yang ditampilkan dashboard tersebut, rata-rata harga TBS petani bermitra secara nasional mencapai Rp3.592 per kilogram. Angka tersebut meningkat sekitar 0,3 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara itu, rata-rata harga TBS petani swadaya berada di level Rp3.023 per kilogram atau turun sekitar 0,8 persen.

Dr. Gulat mengatakan perbedaan harga semakin terlihat ketika dibandingkan berdasarkan provinsi. Sumatera Utara menjadi provinsi dengan harga TBS petani bermitra tertinggi, yakni Rp4.079 per kilogram. Adapun harga TBS petani swadaya di provinsi yang sama tercatat Rp3.036 per kilogram.

“Kalau dibandingkan plasma dengan swadaya, itu ada selisihnya Rp1.043,” kata Dr. Gulat kepada sawitsetara.co, Senin (14/9/2026).

apkasindo

Menurut dia, disparitas tersebut menunjukkan masih adanya persoalan dalam mekanisme pembentukan harga TBS petani. Secara rata-rata, selisih harga TBS antara petani bermitra dan swadaya mencapai Rp477 per kilogram atau sekitar 13,1 persen.

Dr. Gulat juga menyoroti posisi Riau yang dalam beberapa tahun sebelumnya menjadi salah satu rujukan dalam penghitungan harga TBS petani sawit. Namun, berdasarkan data dashboard, posisi Riau dalam enam bulan terakhir justru mengalami penurunan dan berada di bawah sejumlah provinsi lainnya.

“Riau yang selalu andalan malah pada enam bulan terakhir turun level. Saya tidak tahu di mana masalahnya,” ujarnya.

Selain membandingkan harga TBS, dashboard Harga Sawit Indonesia juga menyajikan sejumlah referensi harga CPO. Data tersebut mencakup harga Rotterdam, Malaysia, Bursa CPO ICDX Indonesia, serta standar KPBN.

Dr. Gulat menilai keberadaan berbagai referensi tersebut menunjukkan pentingnya Indonesia memiliki satu bursa strategis yang dapat menjadi rujukan harga sawit nasional. Menurut dia, mekanisme harga yang lebih terintegrasi diperlukan agar pembentukan harga TBS petani memiliki referensi yang jelas.

“Makanya kita melihat harga ini, memang sudah wajar kita memiliki bursa strategis, yaitu Bursa Sawit Indonesia,” katanya.

apkasindo

Dr. Gulat menambahkan, dashboard tersebut dapat diakses melalui hargasawitindonesia.id untuk melihat perkembangan harga CPO dan TBS secara berkala. Menurut dia, keterbukaan data menjadi bagian penting untuk membangun sistem perdagangan sawit yang lebih transparan.

Ia berharap penguatan referensi harga domestik dapat memperkecil kesenjangan antara harga CPO dan TBS di tingkat petani. Dengan demikian, petani memiliki dasar yang lebih kuat dalam memahami pembentukan harga komoditas sawit.

Dorongan tersebut juga sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk memiliki sistem harga sawit yang lebih mencerminkan kondisi pasar domestik. Menurut Dr. Gulat, ketergantungan pada sejumlah referensi harga dari luar negeri perlu diimbangi dengan penguatan mekanisme harga nasional.

Tags:

Bursa Sawit

Berita Sebelumnya
Integrasi Sawit-Sapi Didorong untuk Perkuat Ketahanan Pangan Kalsel

Integrasi Sawit-Sapi Didorong untuk Perkuat Ketahanan Pangan Kalsel

Integrasi perkebunan kelapa sawit dan peternakan sapi dinilai memiliki potensi untuk memperkuat ketahanan pangan Kalimantan Selatan. Pengembangan pola tersebut menjadi salah satu perhatian Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Selatan saat melakukan kunjungan kerja ke PT Astra Agro Lestari Tbk, Jumat (11/9/2026).

14 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *