KONSULTASI
Logo

Harga CPO Menguat, Stok Sawit Malaysia dan Ancaman El Niño Jadi Penentu Pasar 2027

19 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Harga CPO Menguat, Stok Sawit Malaysia dan Ancaman El Niño Jadi Penentu Pasar 2027

sawitsetara.co – JAKARTA — Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di bursa Malaysia kembali menguat. Namun, pemulihan harga belum sepenuhnya mencerminkan perubahan fundamental pasar. Persediaan minyak sawit yang tinggi dan ekspor yang belum konsisten masih membatasi ruang kenaikan.

Di sisi lain, fenomena El Niño pada periode 2026–2027 berpotensi mengubah prospek pasokan minyak sawit dunia. Kekeringan yang berlangsung di Indonesia dan Malaysia diperkirakan mulai memengaruhi produktivitas kebun pada 2027.

Analisis CMB News yang diterbitkan pada Senin (19/10/2026) menyebutkan, penguatan kontrak berjangka minyak sawit di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (MDEX) ditopang aksi pembelian kembali posisi jual (short-covering) dan kenaikan harga minyak nabati pesaing.

Meski demikian, kenaikan tersebut dinilai masih sebagai pemulihan korektif setelah tekanan harga sebelumnya. Pasar belum menunjukkan sinyal kuat menuju tren kenaikan yang berkelanjutan.

tamplate

Harga kontrak CPO naik pada perdagangan 16 Oktober

Pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, kontrak berjangka CPO Malaysia untuk November 2026 ditutup pada 4.536 ringgit Malaysia per ton. Harga tersebut naik 60 ringgit atau 1,32 persen dalam sehari. Kontrak Desember 2026 menguat 57 ringgit atau 1,22 persen menjadi 4.676 ringgit per ton. Sementara itu, kontrak Januari 2027 naik 44 ringgit atau 0,92 persen menjadi 4.769 ringgit per ton.

Kenaikan paling menonjol terjadi pada kontrak-kontrak terdekat. Pergerakan ini menunjukkan adanya pembelian setelah harga melemah pada awal bulan. Namun, kenaikan harga belum menghapus tekanan dari sisi persediaan. Harga fisik CPO Malaysia berada di sekitar 4.424 ringgit per ton pada 16 Oktober 2026, relatif tidak berubah dibandingkan hari sebelumnya.Adapun harga acuan minyak sawit global bergerak di kisaran US$1.080–US$1.090 per ton.

Struktur harga berjangka juga memperlihatkan perbedaan prospek antara pasokan jangka pendek dan jangka panjang. Harga kontrak meningkat menuju kisaran 5.022–5.034 ringgit per ton untuk periode Mei–Juli 2027, sebelum sedikit melemah pada bulan-bulan berikutnya. Pola tersebut dikenal sebagai backwardation, yakni harga kontrak berjangka untuk waktu lebih dekat lebih rendah dibandingkan kontrak dengan penyerahan pada periode berikutnya. Dalam kondisi ini, struktur pasar mengindikasikan ekspektasi terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan yang lebih ketat pada periode mendatang.

Stok tinggi masih menahan kenaikan harga sawit

Persediaan minyak sawit Malaysia menjadi salah satu faktor utama yang membatasi penguatan harga. Data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang dibahas dalam laporan tersebut menunjukkan peningkatan stok akhir dan kenaikan produksi kumulatif secara tahunan pada periode yang diamati.

Sementara itu, perkembangan perdagangan terbaru masih memperlihatkan ekspor yang belum cukup kuat untuk mengurangi tekanan persediaan. Artinya, persoalan pasar saat ini bukan semata-mata hilangnya permintaan global. Persediaan yang tersedia masih relatif besar dibandingkan volume penyerapan.

Persaingan dengan minyak nabati lain juga memengaruhi pergerakan harga. Minyak kedelai yang diperdagangkan di bursa Chicago Board of Trade (CBOT) tercatat memiliki premi hampir US$400 per ton dibandingkan minyak sawit.

Selisih harga tersebut berpotensi membuat minyak sawit lebih menarik bagi pembeli di pasar yang sensitif terhadap harga. Peralihan permintaan dapat terjadi pada industri pangan maupun bahan bakar nabati. Namun, peluang tersebut tetap bergantung pada kelancaran logistik, kebijakan perdagangan, dan perkembangan permintaan dari negara pengimpor utama.

tamplate

El Niño berpotensi menekan produksi sawit pada 2027

Risiko cuaca menjadi faktor yang berpotensi mengubah arah pasar minyak sawit dalam beberapa bulan mendatang. Laporan CMB News menyebutkan, fenomena El Niño 2026–2027 diperkirakan menguat dan mencapai puncak pada Oktober hingga Desember 2026. Kondisi tersebut berpotensi membawa curah hujan di bawah normal dan suhu lebih tinggi di sejumlah wilayah Asia Tenggara maritim.

Dampaknya telah terlihat melalui kekeringan serta kabut asap yang berkaitan dengan kebakaran lahan gambut dan perkebunan di Indonesia dan, dalam skala lebih kecil, Malaysia. Dalam jangka pendek, kebakaran dan gangguan operasional dapat menghambat aktivitas perkebunan serta distribusi hasil panen. Pemanenan dan pengiriman minyak sawit berpotensi terganggu pada hari-hari tertentu.

Namun, dampak biologis kekeringan terhadap tanaman sawit membutuhkan waktu. Penurunan produksi akibat kondisi kering sepanjang 2026 diperkirakan lebih terasa pada hasil panen 2027 dibandingkan produksi dalam waktu dekat. Laporan tersebut mengingatkan bahwa potensi kehilangan produksi di wilayah terdampak belum dapat dihitung secara presisi.

Jika defisit curah hujan berlanjut hingga akhir tahun tanpa hujan yang cukup untuk memulihkan kelembapan tanah, premi harga untuk kontrak pertengahan 2027 berpotensi kembali melebar. Dengan demikian, El Niño dapat menjadi faktor pendukung harga dalam jangka menengah, terutama jika penurunan produksi mulai mengurangi persediaan yang saat ini masih tinggi.

Permintaan India, Cina, dan Uni Eropa ikut menentukan

Arah harga CPO menjelang akhir 2026 hingga awal 2027 akan bergantung pada tiga faktor utama. Pertama, seberapa besar El Niño benar-benar menekan produksi di tingkat kebun. Kedua, apakah persediaan minyak sawit Indonesia dan Malaysia mulai turun seiring peningkatan permintaan impor dari India, Cina, dan Uni Eropa. Ketiga, apakah selisih harga minyak kedelai dan minyak sawit tetap lebar.

Risiko cuaca di Amerika Selatan juga dapat memengaruhi pasar minyak kedelai pada musim dingin belahan bumi utara. Jika produksi minyak kedelai ikut menghadapi tekanan, dinamika persaingan antarminyak nabati dapat berubah. CMB News memperkirakan keseimbangan pasokan dan permintaan minyak sawit berpotensi semakin ketat pada 2027 ketika dampak cuaca mulai tercermin dalam produksi.

Namun, pasar dalam waktu dekat masih harus menyerap persediaan yang tersedia. Karena itu, harga diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan menguat secara moderat, disertai volatilitas akibat perkembangan cuaca dan kebijakan pemerintah. Laporan tersebut juga menilai kontrak November 2026 berpeluang melanjutkan penguatan dalam tiga hari perdagangan berikutnya. Kontrak Januari 2027 diperkirakan relatif stabil hingga menguat, sedangkan kontrak Mei 2027 cenderung bergerak dalam rentang terbatas.

Proyeksi tersebut merupakan pandangan pasar berdasarkan kondisi saat laporan diterbitkan, bukan kepastian pergerakan harga. Bagi industri sawit Indonesia, perkembangan ini penting karena harga internasional, permintaan ekspor, kebijakan penyerapan domestik, dan produktivitas kebun akan saling memengaruhi pembentukan harga CPO maupun tandan buah segar (TBS).

Kenaikan harga berjangka saat ini memberikan sinyal pemulihan. Namun, keberlanjutan penguatan harga sawit masih akan ditentukan oleh kemampuan pasar menyerap stok yang menumpuk dan besarnya dampak El Niño terhadap pasokan pada 2027.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Peluang Baru Peningkatan Ekonomi Warga Manokwari Lewat Budidaya Jamur dari Limbah Sawit

Peluang Baru Peningkatan Ekonomi Warga Manokwari Lewat Budidaya Jamur dari Limbah Sawit

Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) berpotensi menjadi bahan baku alternatif untuk budidaya jamur tiram. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan pemanfaatan limbah sawit tersebut sebagai upaya membuka peluang usaha baru bagi masyarakat di Prafi, Manokwari, Papua Barat.

17 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *