
sawitsetara.co - PALEMBANG — Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menilai industri kelapa sawit Indonesia tengah berada di persimpangan antara tuntutan tata kelola global dan kebutuhan peningkatan produktivitas nasional.
Dalam agenda pembukaan Andalas Forum VI di Hotel Aryaduta Palembang, Kamis (16/4/2026), Eddy menyebut tuntutan tata kelola yang terus meningkat berpotensi menjadi tekanan balik bagi keberlanjutan industri jika tidak diiringi kebijakan yang realistis.
“Ini bisa menjadi bumerang bagi industri sawit kita,” kata Eddy.

Menurut dia, selama ini sawit telah terbukti menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Industri ini menopang sekitar 16,7 juta kepala keluarga, mulai dari petani hingga pekerja, serta menjadi sumber devisa utama negara.
Dalam catatan GAPKI, devisa sawit mencapai US$39 miliar pada 2022. Angka itu kemudian turun menjadi US$30 miliar pada 2023 dan kembali turun ke US$27,76 miliar pada 2024, sebelum naik lagi menjadi US$35,9 miliar pada 2025.
Meski kinerja ekspor relatif pulih, Eddy menyoroti persoalan mendasar: produksi sawit nasional dalam lima tahun terakhir cenderung stagnan, sementara konsumsi domestik terus meningkat, terutama untuk kebutuhan pangan dan bioenergi.
Kondisi ini menempatkan Indonesia dalam posisi unik sebagai produsen sekaligus konsumen terbesar minyak sawit dunia.
“Kalau tidak ada peningkatan produktivitas, ekspor akan terus tertekan,” ujarnya.

Salah satu upaya yang didorong adalah percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Namun, implementasinya dinilai masih lambat. Produksi nasional saat ini berada di kisaran 56 juta ton, jauh di bawah potensi lebih dari 90 juta ton jika program berjalan optimal.
Selain itu, Eddy juga menyoroti kendala struktural lain, seperti ketidakpastian hukum terkait lahan sawit di kawasan hutan serta lambatnya proses perpanjangan hak guna usaha (HGU).
Ia mengatakan, hingga kini belum banyak persetujuan untuk perpanjangan maupun izin baru, yang berdampak pada kepastian investasi di sektor ini.
Di sisi keberlanjutan, sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) juga masih menghadapi tantangan implementasi, baik di tingkat perusahaan maupun petani.

Untuk mendorong peningkatan produktivitas, industri bersama pemerintah mulai mengintroduksi inovasi, termasuk pelepasan serangga penyerbuk baru dan distribusi sumber daya genetik dari Tanzania. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga daya saing Indonesia sebagai produsen utama sawit dunia.
Adapun Andalas Forum VI berlangsung pada 16–17 April 2026 di Hotel Aryaduta Palembang. Kegiatan ini akan menghadirkan rangkaian seminar dan pameran yang mempertemukan pelaku industri, akademisi, hingga pemangku kepentingan sektor sawit.
Agenda tahunan GAPKI se-Sumatera ini mengusung tema “Sawit Indonesia: Sinergi untuk Tata Kelola, Pertumbuhan Ekonomi dan Berkelanjutan”. Forum ini diharapkan menjadi ruang strategis untuk merespons berbagai tantangan industri sawit nasional.
Seremoni pembukaan dihadiri antara lain Deputi II Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Dida Gardera, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo Adypurnama Teguh Sambodo, serta Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP Zaid Burhan Ibrahim , serta Gubernur Sumsel Herman Deru.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *