
sawitsetara.co - YOGYAKARTA – Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono mengajak generasi muda, terutama Gen Z, untuk tidak terpengaruh kampanye negatif terhadap industri sawit. Menurutnya, sawit memberikan manfaat luar biasa bagi Indonesia, mulai dari lapangan kerja jutaan orang hingga kontribusi devisa yang besar.
Ajakan tersebut disampaikan Eddy saat menyampaikan keynote speech pada Seminar Nasional bertajuk Menakar Industri Sawit dari Aspek Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan di Ruang Seminar Fakultas Pertanian UPN “Veteran” Yogyakarta, Kamis (22/1).
“Jadi ini yang justru mesti kita adik-adik semua ya, gen Z dan itu, coba ini sawit jangan sampai tercemar dengan apa yang kampanye negatif. Sawit luar biasa bagi negeri ini,” kata Eddy.

Eddy menyampaikan, industri sawit memegang peranan sangat penting dalam menopang perekonomian nasional. Hingga saat ini, sawit menjadi penyumbang devisa terbesar di luar migas dan batubara, sekaligus menyediakan lapangan kerja bagi jutaan masyarakat Indonesia.
Industri sawit menyerap sekitar 4,6 juta tenaga kerja langsung dari hulu hingga hilir. Selain itu, terdapat sekitar 2,4 juta petani swadaya dan 1,5 juta petani plasma yang bergantung pada sektor ini. Jika dihitung secara tidak langsung, sekitar 16,5 juta orang Indonesia hidup dari industri sawit.
“Ini luar biasa. Sawit memberikan lapangan kerja yang sangat besar sekali. Jangan sampai nanti, saya khawatir kalau terus-terusan ada dihujat dan kampanye negatif. Kampanye negatif kalau kita tidak membenarkan, meluruskan, lama-lama menjadi kebenaran kalau tidak segera kita luruskan,” ujar Eddy.

Eddy mencontohkan kontribusi sawit saat pandemi Covid-19. Di tengah tekanan ekonomi global, sawit justru menyumbang devisa hingga sekitar 39 miliar dolar AS. Pada periode tersebut, industri sawit juga tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), bahkan membuka rekrutmen tenaga kerja baru, termasuk bagi lulusan perguruan tinggi.
“ALHAMDULILLAH pada saat Covid tidak ada PHK di industri sawit. Bahkan yang ada adalah rekrutmen untuk tenaga-tenaga kerja termasuk adik-adik mahasiswa yang baru lulus,” jelas Eddy.
Eddy mengakui nilai devisa sawit mengalami penurunan pada 2023 dan 2024. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh harga minyak sawit dunia yang lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lain, sehingga sebagian negara importir beralih ke substitusi.
“Negara importir bisa gantikan dengan minyak nabati lain, mereka gantikan. Tetapi yang tidak bisa, tetap mereka impor sawit,” jelas Eddy.
Oleh karena itu, Eddy menyampaikan terima kasih kepada pemerintah atas program mandatori biodiesel. Kebijakan tersebut terbukti menjaga stabilitas harga tandan buah segar (TBS) di dalam negeri.
“Masih ingat pada waktu tahun, kalau tidak salah 2008, itu harga minyak sawit itu justru lebih rendah dari biaya produksi kita. Akhirnya petani pun malah tidak memanen, bahkan membakar TBS-nya. Karena memang tidak laku. Nah, kemudian di pemerintahan Pak Jokowi waktu itu ya, itu ada mandatory biodiesel dan di situ mulai terjaga terus,” ungkap Eddy.

Eddy juga meluruskan, program mandatori biodiesel bukan merupakan subsidi dari APBN. Menurutnya, pendanaan biodiesel sepenuhnya berasal dari pungutan ekspor sawit yang dikembalikan lagi ke sektor sawit.
“Itu bukan uang rakyat dan bukan APBN. Itu uang dari pengusaha sawit sendiri yang dipungut dan dikembalikan lagi untuk sawit,” tegas Eddy.
Eddy menekankan perlunya menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor. Produksi sawit nasional dalam lima tahun terakhir cenderung stagnan. Jika bauran biodiesel terus dipaksakan naik tanpa peningkatan produksi, ekspor berpotensi tertekan.
“Apabila kita paksakan terus naik dalam bauran biodiesel, maka kita tidak mencukupi, ujung-ujungnya yang akan dikorbankan adalah pasti ekspor. Tidak mungkin konsumsi dalam negeri,” terang Eddy.
Eddy juga membandingkan harga minyak nabati lain seperti soybean oil, sunflower, dan canola yang jauh lebih mahal dibandingkan minyak sawit. Kondisi tersebut menunjukkan peran strategis sawit dalam menjaga keterjangkauan harga pangan dan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Karena itu, dia mengajak generasi muda untuk tidak terpengaruh kampanye negatif yang mencemarkan sawit. Menurutnya, sawit telah memberikan manfaat besar bagi perekonomian, kesejahteraan petani, dan ketahanan ekonomi nasional.
“Sawit bukan tanaman asli Indonesia, tapi berkembang sangat baik dan memberi manfaat luar biasa bagi negeri ini,” pungkas Eddy.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *