
sawitsetara.co - JAKARTA – Suka tidak suka harus diakui bahwa komoditas kelapa sawit tetap tetap tumbuh ditengah berbagai tekanan baik didalam ataupun luar negeri. Terbukti berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bahwa total ekspor sawit Indonesia mencapai 32,34 juta ton pada 2025 atau meningkat 9,51% dibandingkan ekspor 2024 sebesar 29,53 juta ton.
“Secara umum kinerja ekspor 2025 relatif baik. Mudah-mudahan kondisi ini bisa bertahan,” kata Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Hadi Sugeng Wahyudiono.
Namun, Hadi mengakui beberapa pasar utama mencatat penurunan impor sawit Indonesia.“Ada beberapa negara yang minus seperti India, Uni Eropa, dan Amerika Serikat,” keluh Hadi.
Menurut Hadi, penurunan impor dari India antara lain dipengaruhi perubahan preferensi minyak nabati di negara tersebut. “Mungkin di India ada shifting konsumsi minyak nabati. Ketika harga CPO lebih mahal, mereka bisa beralih ke minyak nabati lain,” jelas Hadi.
Sebaliknya, ekspor sawit Indonesia justru meningkat ke beberapa kawasan lain seperti Afrika dan China.“Surplus kita ada di Afrika dan China. Permintaan dari kawasan itu cukup meningkat,” kata Hadi.
Lebih dari itu, industri sawit juga menghadapi peningkatan konsumsi domestik. Data GAPKI mencatat konsumsi sawit dalam negeri pada 2025 mencapai 24,77 juta ton, meningkat 3,82% dibandingkan 2024 sebesar 23,86 juta ton.
Kenaikan terbesar berasal dari konsumsi biodiesel yang meningkat menjadi 12,70 juta ton, naik 10,97% dari 11,45 juta ton pada tahun sebelumnya. “Produksi kita relatif tidak banyak bergerak, sementara konsumsi dalam negeri terus naik. Itu sebabnya ekspor dalam beberapa tahun terakhir cenderung terkoreksi,” kata Hadi.
Namun, Hadi membenarkan daya saing sawit Indonesia sempat tertekan ketika harga crude palm oil (CPO) berada di atas harga minyak nabati lain. “Beberapa waktu lalu harga CPO lebih tinggi dibanding minyak nabati lain. Artinya sawit menjadi premium. Ini sebenarnya berbahaya karena bisa membuat negara pembeli beralih ke minyak nabati lain,” ungkap Hadi.
Menurut Hadi, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi eksportir sawit Indonesia.“Kalau harga CPO lebih tinggi dibanding minyak nabati lain, ini akan menjadi effort tersendiri bagaimana sawit bisa tetap diekspor,” kata Hadi.
Selain faktor harga global, pelaku industri juga menyoroti berbagai kebijakan domestik yang dinilai menambah beban sektor sawit. Hadi menilai kebijakan seperti domestic market obligation (DMO) serta pungutan ekspor atau levy membuat biaya industri lebih tinggi dibandingkan negara pesaing.
“Kita punya banyak beban kebijakan. Ada DMO, ada levy yang relatif lebih tinggi dibanding Malaysia. Ini tentu memengaruhi daya saing kita,” jelas Hadi.
Hadi menambahkan pemerintah juga tengah membahas sejumlah kebijakan lain yang berpotensi menambah beban industri, termasuk wacana pengenaan pajak permukaan air untuk perkebunan sawit.
“Kalau ditambah lagi dengan wacana pajak permukaan air untuk sawit, tentu ini perlu dikaji dengan hati-hati agar tidak semakin menekan industri,” kata Hadi.
Meski demikian, Hadi menyebut harga CPO kembali lebih kompetitif sejak April 2025 sehingga membantu menjaga permintaan di pasar global.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *